Istilah “anak jalanan” sering dipakai untuk menyebut anak yang terlihat bekerja, berkeliaran, atau bahkan tidur di ruang publik. Tapi dalam pendekatan UNICEF, pembahasannya lebih spesifik dan lebih hati hati, karena yang disorot bukan label pada anaknya, melainkan situasi yang membuat anak bergantung pada jalan untuk hidup, bertahan, dan mencari penghidupan.
Mengapa UNICEF lebih sering memakai istilah “children in street situations”
UNICEF di berbagai publikasi dan halaman programnya banyak memakai frasa children in street situations atau “anak dalam situasi jalanan”. Fokusnya: anak yang kehidupannya terhubung kuat dengan ruang publik, dan penghidupannya sangat bergantung pada apa yang bisa mereka dapatkan dari jalan.
Di sejumlah dokumen rujukan PBB yang juga sering dipakai UNICEF sebagai pegangan, istilah ini dipakai untuk mencakup anak yang hidup dan atau bekerja di jalan, baik sendirian, bersama teman sebaya, maupun bersama keluarga, termasuk juga anak yang punya ikatan kuat dengan ruang publik dan jalan berperan penting dalam identitas keseharian mereka.
Unsur kunci dalam definisi UNICEF: “dunia dan penghidupan” bergantung pada jalan
UNICEF menjelaskan bahwa anak dalam situasi jalanan adalah anak yang “dunia dan penghidupannya bergantung pada apa yang bisa mereka dapatkan di jalan”, termasuk anak yang ikut teman, saudara, atau anggota keluarga berada di jalan. Jadi, bukan hanya soal lokasi, melainkan soal ketergantungan hidup pada ruang jalanan.
Kalimat kuncinya ada pada “bergantung”. Seorang anak bisa saja berada di luar rumah untuk bermain, pulang sekolah, atau membantu orang tua sesekali, tetapi belum tentu masuk kategori ini bila hidupnya tidak bertumpu pada jalan.
Ruang publik yang dimaksud: jalan, pasar, taman kota, stasiun
Dalam rujukan yang sering dipakai dalam isu ini, “ruang publik” dipahami sebagai tempat seperti jalan, pasar jalanan, taman, alun alun, hingga stasiun bus dan kereta, yaitu lokasi yang menjadi titik hidup, kerja, atau pergaulan anak. Ini tidak mencakup gedung publik seperti sekolah dan rumah sakit.
Poin ini penting karena banyak anak terlihat di luar, tapi konteksnya berbeda. Anak yang berangkat sekolah dan melewati stasiun tidak otomatis “anak jalanan”. Yang dibicarakan adalah anak yang menjadikan ruang itu pusat keseharian.
Definisi “anak jalanan” dalam praktik UNICEF: mayoritas waktu di jalan untuk tinggal atau mencari nafkah
Dalam rilis dan materi UNICEF di lapangan, definisi operasional yang sering dipakai menekankan durasi: anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan, baik untuk tinggal di sana maupun untuk penghidupannya, dengan atau tanpa keluarga.
Pendekatan ini membantu membedakan antara anak yang sesekali berada di ruang publik dengan anak yang memang hidupnya terkunci pada ritme jalanan, dari pagi sampai malam, hari ke hari.
Dengan atau tanpa keluarga: “ada orang tua” tidak selalu berarti “ada perlindungan”
UNICEF menegaskan bahwa anak dalam situasi jalanan bisa saja bersama keluarga, atau masih punya kontak keluarga, tetapi tetap rentan karena perlindungan dan akses layanan sering tidak memadai.
Di lapangan, ada anak yang masih pulang, ada yang putus kontak, dan ada yang tidur di ruang terbuka. Jadi, ukuran utamanya bukan sekadar status keluarga, melainkan realitas perlindungan dan ketergantungan pada jalan.
Anak yang ikut keluarga di jalan juga termasuk dalam perhatian
UNICEF memasukkan juga anak yang menemani saudara, teman, atau keluarganya di jalan. Ini menutup celah pemahaman yang sering terjadi: seolah “anak jalanan” hanya yang sendirian.
Karena ketika keluarga mencari nafkah di ruang publik, anak sering ikut, terpapar risiko, dan kehilangan akses rutin ke sekolah atau layanan kesehatan.
Kategori yang sering dipakai dalam kerangka UNICEF: “di jalan” dan “dari jalan”, lalu berkembang
Kalau dirujuk dari evolusi istilah yang sering dipakai dalam diskusi kebijakan, UNICEF disebut sebagai pihak yang mengembangkan definisi awal yang banyak dipakai pembuat kebijakan: dua kategori besar, yaitu anak “of the street” dan anak “on the street”.
Kemudian definisi ini berkembang pada 1990 an untuk menambahkan setidaknya satu kategori lagi: anak yang hidup bersama keluarga di jalan.
Anak “of the street”: jalan sebagai tempat tinggal dan pusat hidup
Kategori ini merujuk pada anak yang tidur di ruang publik dan hidup tanpa keluarga di sana. Dalam bahasa sederhana, jalan menjadi rumahnya, bukan sekadar tempat mencari uang.
Biasanya kelompok ini menghadapi hambatan paling berat untuk kembali ke sekolah atau layanan formal, karena mobilitas tinggi dan minim dukungan keluarga.
Anak “on the street”: bekerja di jalan, pulang ke rumah untuk tidur
Ini merujuk pada anak yang bekerja di jalan pada siang hari, tetapi masih pulang ke rumah keluarga untuk tidur.
Banyak orang menganggap kelompok ini “lebih aman” karena masih punya rumah, padahal risikonya tetap besar: jam kerja panjang, eksploitasi ekonomi, dan potensi putus sekolah karena ritme hidup yang melelahkan.
Anak dari keluarga yang hidup di jalan: seluruh rumah tangga bertumpu pada ruang publik
Definisi yang kemudian ditambahkan menjelaskan anak yang hidup bersama keluarganya di jalan.
Dalam situasi ini, persoalannya bukan hanya perilaku anak, melainkan kemiskinan ekstrem, keterputusan hunian layak, dan ekosistem kerja informal yang memaksa keluarga menjadikan ruang publik sebagai tempat bertahan.
Ciri pembeda yang membuat seorang anak masuk definisi UNICEF
Kalau diringkas secara kerja lapangan, ada beberapa ciri yang biasanya muncul bersamaan: banyak waktu di ruang publik, aktivitas ekonomi atau survival di jalan, dan lemahnya perlindungan yang seharusnya didapat anak.
UNICEF juga mengingatkan bahwa istilah dan definisi ini tidak selalu seragam dipakai semua pihak, sehingga yang paling aman adalah kembali pada elemen inti: ketergantungan hidup pada jalan dan ikatan kuat dengan ruang publik.
Durasi dan intensitas: bukan singgah, tapi bergantung
Definisi “mayoritas waktu di jalan” memberi batas yang jelas: bukan sekadar lewat atau nongkrong, melainkan pola hidup.
Dalam praktik pemberitaan, ini berarti wartawan perlu menanyakan rutinitas: dari jam berapa sampai jam berapa di jalan, apakah ada tempat tinggal tetap, dan bagaimana anak memenuhi kebutuhan makan, mandi, dan tidur.
Ikatan dengan ruang publik: jalan sebagai tempat kerja sekaligus lingkungan sosial
Rujukan PBB yang menjadi dasar banyak program menekankan “koneksi kuat dengan ruang publik” dan jalan sebagai bagian dari identitas keseharian.
Ini membantu melihat persoalan secara lebih manusiawi: anak tidak hanya “ada” di jalan, tetapi membangun relasi, strategi bertahan, bahkan rasa aman semu yang kadang tidak mereka dapat di rumah.
Perlindungan yang tidak memadai: faktor yang membuat situasi menjadi darurat
UNICEF menggambarkan jalan sebagai ruang yang “tidak memaafkan” bagi anak: rentan penyakit menular, kekerasan, perundungan, eksploitasi seksual, hingga penyalahgunaan zat, sementara akses layanan perlindungan dan kesehatan terbatas.
Di titik inilah definisi menjadi penting: label “anak jalanan” bukan untuk menyederhanakan, tapi untuk menandai adanya kebutuhan perlindungan yang mendesak.
Mengapa data “jumlah anak jalanan” sering simpang siur
Masalah definisi berujung ke masalah angka. Anak dalam situasi jalanan bergerak, bisa berpindah titik, bisa “menghilang” dari pandangan, dan bisa berpindah peran dari pekerja, pengamen, pemulung, sampai pengasuh adik di trotoar, tergantung musim dan kebutuhan.
Kajian UNICEF juga menekankan adanya variasi besar pengalaman anak, tumpang tindih antar kategori, dan kesulitan menghitung karena lokasi tidur, kerja, dan tempat berkumpul tidak tetap.
Anak perempuan bisa “nyaris tak terlihat” dalam pendataan
Dalam sejumlah evaluasi, disebutkan bahwa anak bisa sengaja bersembunyi demi keselamatan, dan anak perempuan dapat menjadi hampir tidak terlihat.
Ini membuat angka lapangan sering bias. Kalau hanya mengandalkan hitung cepat di titik ramai, kita bisa kehilangan kelompok yang paling rentan.
Jam, musim, dan operasi penertiban mengubah peta jalanan
Anak bisa berpindah lokasi untuk menghindari aparat, mengejar peluang kerja, atau mengikuti jaringan pertemanan. Jam kerja pun berubah mengikuti hari libur sekolah, musim panen, atau peristiwa kota.
Karena itu, satu angka tunggal sering menyesatkan bila tidak disertai metode dan definisi yang dipakai.
Catatan untuk media: menyebut “situasi”, bukan mengunci anak pada stigma
Dalam dokumen teknis UNICEF, ditekankan bahwa pendekatan yang tepat adalah berbasis hak anak, bukan sekadar “penertiban” atau “penyelamatan” yang memindahkan anak tanpa mendengar kebutuhan mereka.
Bagi media, ini bisa diterjemahkan sebagai cara memilih diksi: hindari istilah yang merendahkan, dan jelaskan konteks struktural yang mendorong anak ke jalan.
Hindari menyamaratakan: anak dalam situasi jalanan bukan kelompok yang homogen
Rujukan PBB menegaskan bahwa anak dalam situasi jalanan tidak homogen, latar belakangnya beragam, dan pengalaman mereka berbeda beda.
Kalau liputan menyamaratakan, publik mudah salah paham, misalnya menganggap semua anak jalanan “tak punya keluarga” atau “pasti pelaku kriminal”, padahal realitasnya jauh lebih kompleks.
Fokus pada hak dan akses: sekolah, identitas, layanan perlindungan
Panduan berbasis hak mengarahkan perhatian pada akses layanan dan perlindungan, bukan semata pada “menghilangkan anak dari jalan”.
Di lapangan, pertanyaan pentingnya menjadi: apakah anak punya akses pendidikan yang realistis, layanan kesehatan, dokumen identitas, dan saluran perlindungan saat mengalami kekerasan, bukan hanya “kenapa mereka ada di jalan”.
Saat menulis kisah personal, utamakan keselamatan dan martabat anak
Karena banyak anak dalam situasi jalanan mengalami kekerasan dan eksploitasi, identitas mereka tidak boleh diperlakukan seperti materi sensasi. UNICEF menggambarkan besarnya risiko yang mereka hadapi di jalan, dari kekerasan hingga eksploitasi seksual.
Dalam praktik jurnalistik, itu berarti menghindari detail yang bisa membuka identitas, tidak memaksa wawancara, dan tidak menempatkan anak sebagai objek rasa iba, melainkan subjek yang punya hak dan suara.
