MBG Jadi Investasi Generasi Masa Depan, Ini Alasannya!

Cerpen40 Views

Investasi Generasi Masa Depan bukan lagi slogan yang enak didengar, melainkan kebutuhan yang bisa diukur dari kesehatan, pendidikan, ketahanan keluarga, hingga daya saing ekonomi suatu negara. Di tengah perdebatan soal prioritas anggaran dan efektivitas program sosial, MBG muncul sebagai salah satu kebijakan yang paling sering disebut sebagai “investasi” karena menyasar akar persoalan yang menentukan kualitas manusia sejak dini. Ketika anak cukup gizi, hadir ke sekolah, dan tumbuh dengan kondisi fisik serta mental yang baik, hasilnya bukan hanya dirasakan hari ini, tapi juga menentukan produktivitas puluhan tahun ke depan.

MBG yang dimaksud dalam konteks ini adalah program makan bergizi gratis atau skema penyediaan makanan bergizi bagi anak sekolah dan kelompok rentan yang tujuannya memperbaiki asupan nutrisi harian. Di banyak negara, model serupa sudah lama dipakai sebagai instrumen untuk mengurangi ketimpangan dan memperkuat kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, gagasan ini menguat seiring dorongan untuk menekan stunting, memperbaiki capaian belajar, dan memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Di ruang publik, MBG kerap diperdebatkan soal biaya dan pelaksanaan, namun argumen yang paling kuat datang dari satu pertanyaan sederhana: berapa mahalnya jika generasi berikutnya tumbuh tanpa gizi yang cukup?

MBG sebagai Investasi Generasi Masa Depan: mengapa istilah “investasi” bukan sekadar retorika

Penyebutan MBG sebagai Investasi Generasi Masa Depan sering memantik respons sinis karena kata “investasi” biasanya identik dengan instrumen finansial, bukan program sosial. Namun dalam ekonomi pembangunan, investasi tidak selalu berbentuk aset fisik. Investasi juga berarti pengeluaran yang menghasilkan manfaat jangka panjang dan meningkatkan kapasitas produksi masa depan. Dalam konteks manusia, itulah investasi modal manusia: gizi, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan yang memungkinkan anak bertumbuh optimal.

MBG masuk kategori ini karena gizi memengaruhi hampir semua indikator yang menentukan kualitas hidup. Kekurangan zat gizi makro dan mikro berkaitan dengan risiko anemia, gangguan konsentrasi, keterlambatan perkembangan kognitif, hingga kerentanan terhadap penyakit. Anak yang sering sakit atau lemas cenderung lebih sering absen, tertinggal pelajaran, dan pada akhirnya memiliki peluang lebih kecil untuk melanjutkan pendidikan atau mendapatkan pekerjaan dengan upah layak. Rantai sebab akibatnya panjang, tapi arahnya jelas: gizi hari ini memengaruhi produktivitas besok.

Di sisi lain, investasi juga menuntut akuntabilitas. Program yang disebut investasi harus bisa dirancang dengan target, indikator, dan mekanisme evaluasi yang ketat. MBG, jika serius dijalankan, semestinya tidak berhenti pada pembagian makanan, tetapi memastikan kualitas menu, keamanan pangan, ketepatan sasaran, dan integrasi dengan layanan kesehatan sekolah serta edukasi gizi keluarga. Di sinilah perdebatan bergeser dari “perlu atau tidak” menjadi “bagaimana memastikan manfaatnya benar-benar terukur”.

Investasi Generasi Masa Depan lewat MBG: apa yang sebenarnya dibeli negara

Investasi Generasi Masa Depan melalui MBG pada dasarnya “membeli” waktu dan peluang bagi anak. Waktu karena anak yang lebih sehat tidak kehilangan hari sekolah akibat sakit. Peluang karena anak yang cukup gizi lebih siap menyerap pelajaran, lebih percaya diri bersosialisasi, dan memiliki fondasi fisik yang lebih kuat untuk aktivitas belajar maupun olahraga.

Yang jarang dibicarakan adalah aspek psikologis dari rasa aman. Bagi sebagian keluarga, terutama yang berpenghasilan tidak tetap, kepastian bahwa anak mendapat satu porsi makanan bergizi di sekolah mengurangi kecemasan harian. Anak pun berangkat sekolah dengan ekspektasi yang lebih positif. Efek ini memang tidak selalu mudah diukur dengan angka, tetapi bisa terlihat dari perubahan kebiasaan: kehadiran meningkat, keterlibatan di kelas membaik, dan guru lebih mudah mengelola kelas ketika anak tidak lapar.

Pada tingkat makro, “yang dibeli” adalah penurunan beban biaya kesehatan jangka panjang. Kekurangan gizi dan anemia pada usia sekolah dapat berlanjut menjadi masalah kesehatan kronis, menurunkan stamina kerja, dan meningkatkan risiko komplikasi saat memasuki usia produktif. Jika MBG mampu menurunkan prevalensi masalah gizi, negara bukan hanya mengeluarkan belanja, tetapi juga mengurangi pengeluaran masa depan.

Dapur, rantai pasok, dan standar menu: jantung operasional yang menentukan hasil

Sebelum masuk ke perdebatan anggaran, MBG harus dibaca sebagai proyek logistik dan tata kelola. Program makan bergizi tidak akan efektif jika dapur tidak memenuhi standar kebersihan, bahan pangan tidak konsisten, atau menu tidak disusun berdasarkan kebutuhan gizi anak. Di lapangan, tantangan biasanya muncul pada tiga titik: pengadaan bahan, pengolahan, dan distribusi.

Pengadaan bahan pangan membutuhkan rantai pasok yang mampu menjaga kualitas dan harga stabil. Jika bahan datang terlambat atau kualitasnya turun, menu akan disiasati, porsi diperkecil, atau variasi nutrisi berkurang. Pengolahan membutuhkan dapur dengan prosedur keamanan pangan, termasuk penyimpanan, pemisahan bahan mentah dan matang, serta kontrol suhu. Distribusi menuntut ketepatan waktu karena makanan yang terlalu lama di perjalanan berisiko menurun kualitasnya atau terkontaminasi.

Karena itu, MBG yang berhasil biasanya punya standar menu yang jelas, misalnya komposisi karbohidrat, protein hewani atau nabati, sayur, buah, serta fortifikasi bila diperlukan. Standar ini tidak boleh berhenti di dokumen, melainkan harus diterjemahkan menjadi daftar belanja, resep, ukuran porsi, dan pelatihan bagi pengolah makanan. Tanpa itu, program mudah berubah menjadi sekadar “yang penting ada makanan”.

Investasi Generasi Masa Depan dalam H3: standar gizi yang tidak boleh ditawar

Investasi Generasi Masa Depan akan kehilangan makna jika standar gizinya longgar. Anak usia sekolah membutuhkan energi dan protein yang cukup, ditambah mikronutrien penting seperti zat besi, yodium, vitamin A, folat, dan zinc. Di banyak daerah, anemia pada anak dan remaja masih menjadi masalah, terutama pada remaja putri. Jika menu MBG tidak memperhatikan protein hewani dan sumber zat besi yang baik, program bisa ramai di awal tetapi minim dampak pada indikator kesehatan.

Standar juga terkait variasi. Menu yang berulang membuat anak bosan dan meningkatkan sisa makanan. Sisa makanan bukan hanya pemborosan anggaran, tetapi juga sinyal bahwa desain menu tidak ramah selera lokal. Karena itu, penyusunan menu seharusnya melibatkan ahli gizi, sekolah, dan pelaku dapur yang paham kebiasaan makan setempat. Adaptasi lokal bukan berarti menurunkan kualitas, melainkan menyesuaikan bentuk penyajian agar tetap bernutrisi dan diterima anak.

Ada pula isu gula, garam, dan lemak. Program makan bergizi tidak boleh tanpa sadar mendorong pola makan tinggi gula atau makanan ultra proses yang praktis namun miskin gizi. Jika MBG justru memperbanyak makanan manis atau minuman berpemanis, tujuan kesehatan bisa berbalik arah. Disiplin menu adalah kunci: sederhana, segar, aman, dan cukup.

Sekolah sebagai arena perubahan: kehadiran, konsentrasi, dan perilaku makan

Sekolah adalah titik temu paling strategis untuk intervensi gizi karena anak berada di sana pada jam makan dan berada dalam sistem yang bisa dipantau. Banyak guru menyaksikan sendiri bagaimana anak yang belum sarapan menjadi mudah mengantuk, sulit fokus, atau rewel. MBG menyasar masalah yang konkret ini: memastikan anak tidak belajar dalam kondisi lapar.

Kehadiran juga sering menjadi indikator awal yang membaik ketika program makan berjalan. Bagi keluarga yang harus memilih antara ongkos sekolah, uang jajan, dan kebutuhan rumah, adanya makan di sekolah bisa mengurangi beban. Anak punya alasan tambahan untuk datang. Dalam jangka panjang, peningkatan kehadiran berkorelasi dengan capaian belajar yang lebih baik, meski tentu tidak hanya ditentukan oleh gizi.

Selain itu, MBG dapat menjadi sarana pendidikan gizi yang praktis. Anak belajar mengenali porsi, variasi, dan kebiasaan makan sehat bukan lewat poster, tetapi lewat pengalaman harian. Jika program dilengkapi edukasi sederhana seperti mengenal sayur, pentingnya minum air, atau mencuci tangan sebelum makan, sekolah menjadi ruang pembentukan kebiasaan.

“Kalau negara ingin hasil cepat terlihat, gizi di sekolah adalah tempat paling jujur untuk memeriksa niat: di sana anak makan, dan kita bisa melihat apakah program benar-benar memberi manfaat atau hanya mengejar angka penyerapan anggaran.”

Mengunci manfaat di rumah: peran keluarga dan risiko efek substitusi

Salah satu kritik klasik terhadap program makan di sekolah adalah kemungkinan efek substitusi: ketika anak sudah makan di sekolah, porsi makan di rumah dikurangi, sehingga total asupan gizi tidak banyak berubah. Kritik ini tidak selalu terjadi, tetapi memang mungkin, terutama pada keluarga yang sangat terbatas. Karena itu, desain MBG harus memikirkan cara mengunci manfaat agar tidak “bocor” di rumah.

Cara yang paling masuk akal adalah menggabungkan program dengan edukasi keluarga dan pemantauan sederhana. Sekolah bisa menyampaikan informasi menu mingguan dan pesan gizi ke orang tua, sehingga keluarga tahu anak sudah mendapat asupan tertentu dan dapat melengkapi di rumah. Misalnya, bila anak mendapat protein hewani di sekolah, keluarga dapat fokus menambah sayur dan buah saat makan malam, atau sebaliknya.

Di sisi lain, MBG juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengidentifikasi masalah gizi yang lebih kompleks. Anak yang tetap tampak lemas, berat badan tidak naik, atau sering sakit meski mendapat makan di sekolah mungkin membutuhkan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut. Di sinilah integrasi dengan puskesmas dan layanan kesehatan sekolah menjadi penting. Program makan tidak bisa berdiri sendiri jika targetnya adalah perbaikan kualitas manusia.

Investasi Generasi Masa Depan dan H3: ketika satu porsi makan memicu perubahan kebiasaan

Investasi Generasi Masa Depan tidak hanya soal angka kalori, tetapi soal kebiasaan yang terbentuk berulang. Satu porsi makan yang konsisten bisa mengubah preferensi anak terhadap makanan segar, terutama bila sebelumnya anak terbiasa makanan instan atau jajanan tinggi gula. Namun perubahan kebiasaan ini tidak otomatis. Ia bergantung pada kualitas menu, cara penyajian, dan suasana makan.

Jika makan dilakukan terburu-buru, tanpa cuci tangan, tanpa pengawasan kebersihan, anak akan menganggap makan hanyalah formalitas. Sebaliknya, jika sekolah membangun rutinitas makan yang rapi, anak belajar disiplin, kebersihan, dan menghargai makanan. Hal-hal kecil seperti menyediakan air minum aman, mengurangi kemasan sekali pakai, dan mengelola sampah organik juga dapat menjadi pelajaran lingkungan yang melekat.

Di beberapa tempat, program makan sekolah juga memunculkan kebiasaan baru di rumah. Anak mulai meminta buah, menanyakan sayur tertentu, atau membandingkan menu rumah dengan menu sekolah. Efek ini bisa menjadi tekanan sosial yang positif, terutama jika orang tua mendapat dukungan informasi yang tepat, bukan sekadar diminta “meniru menu sekolah” tanpa mempertimbangkan kemampuan ekonomi.

Ekonomi lokal ikut bergerak: petani, UMKM, dan peluang kerja yang sering luput

MBG sering dibahas sebagai belanja negara, tetapi jarang dipetakan sebagai penggerak ekonomi lokal. Padahal, jika pengadaan bahan pangan dirancang untuk menyerap produk setempat, dampaknya bisa meluas. Permintaan yang stabil dari sekolah atau dapur MBG dapat menjadi kepastian pasar bagi petani sayur, peternak telur, pembudidaya ikan, hingga produsen tempe dan tahu.

Kepastian permintaan penting karena banyak pelaku usaha pangan skala kecil hidup dalam fluktuasi harga dan ketidakpastian penjualan. Dengan kontrak yang transparan dan pembayaran tepat waktu, MBG dapat membantu pelaku lokal meningkatkan produksi dan kualitas. Namun ini menuntut tata kelola yang rapi agar tidak dimonopoli segelintir pemasok besar.

Peluang kerja juga muncul dari sisi operasional: juru masak, petugas distribusi, pengelola dapur, hingga tenaga kebersihan. Jika pelatihan diberikan, pekerjaan ini dapat menjadi sumber penghasilan yang lebih stabil bagi warga sekitar sekolah. Tentu, pekerjaan tersebut harus memenuhi standar upah dan keselamatan kerja agar program tidak menciptakan kerentanan baru.

Transparansi dan pengawasan: titik rawan yang menentukan kepercayaan publik

Program berskala besar selalu menghadapi risiko kebocoran anggaran, penurunan kualitas, atau permainan pengadaan. MBG tidak terkecuali. Karena itu, transparansi harus menjadi bagian dari desain, bukan tambahan setelah muncul masalah.

Sekolah dan masyarakat perlu tahu siapa pemasoknya, bagaimana standar menu ditetapkan, dan bagaimana pengaduan ditangani bila makanan tidak layak. Mekanisme umpan balik harus mudah diakses dan responsif, karena isu makanan menyangkut kesehatan langsung. Jika ada kasus keracunan atau makanan basi, respons lambat akan merusak kepercayaan dan mengancam keberlanjutan program.

Pengawasan juga harus menyentuh aspek yang sering dianggap remeh: ukuran porsi dan konsistensi. Pengurangan porsi sedikit demi sedikit sulit terdeteksi dalam laporan, tetapi terasa bagi anak. Di sinilah peran guru, komite sekolah, dan bahkan orang tua menjadi penting sebagai pengawas sosial. Pengawasan sosial sering lebih cepat daripada audit administratif, meski keduanya tetap diperlukan.

“Program makan bergizi itu seperti janji yang diulang setiap hari. Sekali kualitasnya dikhianati, kepercayaan publik runtuh lebih cepat daripada perbaikan yang bisa dilakukan lewat konferensi pers.”

Anggaran dan prioritas: mengapa perdebatan biaya tidak pernah sederhana

Perdebatan utama MBG biasanya kembali ke satu hal: biaya. Di satu sisi, program makan bergizi untuk jutaan anak jelas membutuhkan dana besar. Di sisi lain, biaya juga harus dibandingkan dengan kerugian ekonomi akibat gizi buruk, stunting, rendahnya capaian belajar, dan produktivitas yang turun saat anak memasuki usia kerja.

Namun perdebatan biaya tidak pernah sederhana karena menyangkut prioritas politik dan kapasitas negara. Ada yang menilai dana lebih baik diarahkan ke perbaikan fasilitas sekolah, pelatihan guru, atau layanan kesehatan. Ada pula yang menilai gizi adalah fondasi, sehingga program lain akan kurang efektif tanpa intervensi gizi.

Yang sering hilang dalam debat adalah kebutuhan untuk menghitung biaya secara jujur dan merancang skema bertahap. MBG tidak harus langsung seragam di semua tempat jika kapasitas dapur dan rantai pasok belum siap. Skema bertahap memungkinkan evaluasi, perbaikan, dan penyesuaian menu sesuai konteks daerah. Program yang dipaksakan serentak tanpa kesiapan justru meningkatkan risiko kualitas turun dan pemborosan.

Variasi daerah: tantangan geografis dan budaya makan

Indonesia bukan satu pasar tunggal. Perbedaan harga bahan pangan antarwilayah, akses transportasi, dan kebiasaan makan membuat MBG harus lentur tanpa kehilangan standar gizi. Di daerah kepulauan atau pegunungan, biaya distribusi bisa melonjak. Di daerah tertentu, sumber protein hewani lebih mudah didapat dari ikan, sementara di daerah lain dari telur atau ayam. Menu harus menyesuaikan, tetapi tetap memenuhi kebutuhan gizi.

Budaya makan juga memengaruhi penerimaan anak. Ada daerah yang terbiasa sarapan berat, ada yang tidak. Ada yang lebih menerima sayur tertentu, ada yang menolak karena aroma atau cara masak. Jika program memaksakan menu “nasional” tanpa adaptasi rasa, sisa makanan akan tinggi. Sisa makanan bukan hanya soal anggaran, tetapi juga mengindikasikan program tidak menyentuh realitas anak.

Di sisi lain, adaptasi budaya tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas. Tantangannya adalah merancang menu yang tetap memenuhi standar, menggunakan bahan lokal, dan disukai anak. Ini pekerjaan teknis yang membutuhkan data konsumsi pangan lokal, keterlibatan ahli gizi, dan uji coba menu.

Data dan evaluasi: mengukur yang penting, bukan hanya yang mudah dilaporkan

Keberhasilan MBG sering dinilai dari jumlah porsi yang dibagikan atau jumlah sekolah yang terjangkau. Angka ini penting, tetapi tidak cukup. Program yang benar-benar menjadi Investasi Generasi Masa Depan harus dinilai dari indikator hasil: status gizi, anemia, kehadiran sekolah, konsentrasi belajar, dan bahkan perubahan perilaku makan.

Evaluasi membutuhkan baseline yang jelas. Tanpa data awal, sulit membuktikan perubahan. Pemeriksaan sederhana seperti pengukuran tinggi dan berat badan berkala, skrining anemia pada kelompok tertentu, serta pencatatan kehadiran bisa menjadi awal. Namun data harus dikelola dengan hati-hati agar tidak membebani guru dengan administrasi berlebihan.

Selain indikator kesehatan, kualitas pelaksanaan juga perlu diukur: kepatuhan pada standar menu, keamanan pangan, ketepatan waktu distribusi, dan tingkat sisa makanan. Sisa makanan, misalnya, bisa menjadi indikator praktis untuk menilai penerimaan menu dan ketepatan porsi. Jika sisa tinggi, bisa jadi menu tidak disukai atau porsinya tidak sesuai. Jika sisa rendah tetapi anak masih mengeluh lapar, bisa jadi porsi kurang.

Investasi Generasi Masa Depan dalam H3: pentingnya membedakan “ramai program” dan “nyata hasil”

Investasi Generasi Masa Depan menuntut keberanian membedakan program yang ramai secara politik dengan program yang nyata hasilnya di lapangan. MBG bisa sangat terlihat karena menyentuh rutinitas anak dan sekolah, tetapi visibilitas bukan bukti efektivitas. Efektivitas harus dibuktikan lewat data yang konsisten dan terbuka.

Di sinilah komunikasi publik menjadi krusial. Pemerintah dan pelaksana perlu menyampaikan bukan hanya capaian distribusi, tetapi juga temuan evaluasi, termasuk masalah yang muncul dan langkah perbaikan. Transparansi atas masalah justru bisa meningkatkan kepercayaan, karena publik melihat program dikelola sebagai proyek jangka panjang, bukan panggung sesaat.

Membedakan “ramai” dan “hasil” juga berarti berani mengubah desain jika tidak efektif. Jika menu tertentu tidak disukai dan berakhir jadi sampah, harus ada mekanisme revisi cepat. Jika pemasok tertentu berulang kali menurunkan kualitas, kontrak harus ditinjau. Fleksibilitas berbasis data adalah ciri program yang serius.

Keamanan pangan dan kesehatan: risiko yang tidak boleh dianggap insidental

Makanan yang dibagikan massal membawa risiko keamanan pangan. Kontaminasi, penyimpanan yang salah, atau kebersihan dapur yang buruk dapat memicu kejadian luar biasa keracunan. Satu insiden besar bisa menghapus kepercayaan publik bertahun-tahun. Karena itu, standar keamanan pangan harus seketat standar gizi.

Pelatihan bagi pengolah makanan menjadi wajib, bukan pilihan. Prosedur cuci tangan, sanitasi alat, pemisahan bahan mentah dan matang, serta kontrol suhu harus diterapkan. Pengawasan berkala, termasuk inspeksi mendadak, dapat membantu menjaga disiplin. Selain itu, jalur distribusi harus mempertimbangkan waktu tempuh dan kondisi cuaca, terutama untuk daerah yang panas atau jauh.

Kesehatan anak juga terkait alergi dan preferensi khusus. Tidak semua anak bisa mengonsumsi makanan tertentu. Sistem perlu menyiapkan alternatif bagi anak dengan alergi telur, intoleransi laktosa, atau kebutuhan khusus lain. Jika tidak, program bisa menimbulkan masalah baru berupa eksklusi atau risiko kesehatan.

MBG dan ketimpangan: ketika piring makan menjadi alat pemerataan

Salah satu nilai paling kuat dari MBG adalah potensinya sebagai alat pemerataan. Ketimpangan gizi sering mengikuti ketimpangan pendapatan. Anak dari keluarga mampu relatif lebih mudah mendapat protein hewani, susu, dan buah. Anak dari keluarga miskin lebih rentan pada karbohidrat murah dan makanan ultra proses. Ketika sekolah menyediakan makanan bergizi dengan standar yang sama, ada upaya menutup jarak itu, setidaknya pada satu kali makan.

Efek pemerataan juga muncul di ruang kelas. Anak yang lapar cenderung sulit fokus dan tertinggal. Jika MBG menurunkan hambatan biologis ini, kesempatan belajar menjadi lebih setara. Tentu, ketimpangan tidak hilang hanya dengan makan di sekolah, tetapi MBG bisa mengurangi salah satu faktor yang paling mendasar.

Namun pemerataan menuntut ketepatan sasaran. Jika program universal diterapkan, ia harus memastikan kualitas tetap terjaga dan anggaran tidak mengorbankan kelompok yang paling membutuhkan. Jika diterapkan bertarget, mekanisme seleksi harus adil dan tidak mempermalukan anak. Banyak negara memilih model universal di sekolah tertentu atau wilayah tertentu untuk menghindari stigma, lalu memperluas secara bertahap.

Peran pemerintah daerah dan sekolah: siapa memegang kendali sehari-hari

Pelaksanaan MBG pada akhirnya terjadi di sekolah, bukan di kantor pusat. Karena itu, peran pemerintah daerah, dinas pendidikan, dinas kesehatan, dan pihak sekolah menjadi penentu. Koordinasi antarinstansi sering menjadi titik lemah program sosial. Jika dinas pendidikan fokus pada distribusi, dinas kesehatan fokus pada skrining, dan dinas pangan fokus pada pengadaan tanpa satu komando operasional, program mudah tersendat.

Sekolah juga membutuhkan ruang untuk mengelola realitas harian. Jadwal pelajaran, jam istirahat, ketersediaan ruang makan, hingga akses air bersih menentukan kelancaran program. Jika sekolah tidak punya fasilitas dasar, program makan berisiko menambah masalah sanitasi. Karena itu, MBG idealnya berjalan beriringan dengan perbaikan fasilitas air bersih, toilet, dan tempat cuci tangan.

Kepala sekolah dan komite sekolah memegang peran penting dalam pengawasan. Mereka berada paling dekat dengan anak dan bisa mendeteksi masalah sejak awal. Namun mereka juga tidak boleh dibebani tugas administratif yang berlebihan. Sistem pelaporan harus sederhana, fokus pada indikator kunci, dan memanfaatkan teknologi bila memungkinkan tanpa memaksa sekolah yang belum siap.

Komunikasi publik: antara ekspektasi, kenyataan, dan ruang kritik

Program yang menyentuh anak selalu memicu emosi publik. Ketika berjalan baik, publik mudah mendukung. Ketika ada masalah, kritik juga keras. Komunikasi publik yang sehat harus mampu mengelola ekspektasi: MBG bukan obat instan untuk semua persoalan pendidikan dan kemiskinan, tetapi bisa menjadi fondasi kuat jika dikelola dengan disiplin.

Ruang kritik juga perlu dijaga agar program tidak kebal evaluasi. Kritik soal kualitas menu, keamanan pangan, atau pengadaan bukan berarti anti program. Justru kritik sering menjadi alarm dini. Tantangannya adalah memastikan kritik ditangani dengan data, bukan dibalas dengan slogan.

Pada akhirnya, MBG akan dinilai bukan dari seberapa sering disebut sebagai Investasi Generasi Masa Depan, tetapi dari pengalaman harian anak: apakah makanannya layak, bergizi, aman, dan benar-benar membantu mereka belajar dengan lebih baik. Jika pengalaman harian itu konsisten, program akan berdiri di atas legitimasi yang paling kuat, yakni manfaat yang dirasakan langsung oleh generasi yang sedang dibentuk.