Pangeran Kodok dan Janji yang Membawanya Kembali Menjadi Manusia

Cerpen8 Views

Di sebuah kerajaan yang dikelilingi pegunungan hijau dan hutan pinus, hiduplah seorang putri bernama Elara. Ia merupakan anak tunggal Raja Aldric, penguasa Kerajaan Valeria yang dikenal subur dan tenteram. Istana tempat Elara tinggal berdiri di atas bukit, menghadap hamparan ladang gandum yang berubah keemasan ketika musim panen tiba.

Walaupun hidup dalam kemewahan, Elara lebih menyukai berjalan sendiri di taman daripada menghadiri pesta kerajaan. Setiap sore, ia kerap meninggalkan istana menuju sebuah danau kecil di ujung hutan. Tempat itu jarang didatangi orang karena masyarakat percaya bahwa hutan tersebut menyimpan berbagai kejadian aneh.

Elara tidak pernah memercayai cerita itu. Baginya, suara burung, gemerisik dedaunan, dan pantulan cahaya matahari di permukaan air justru membuat pikirannya terasa lebih tenang.

Suatu sore, ia membawa sebuah bola kecil berwarna emas. Benda itu merupakan pemberian ibunya sebelum sang ratu meninggal dunia. Karena sangat berharga, Elara hampir selalu membawanya ketika pergi ke taman atau hutan.

Ia berdiri di dekat danau sambil melempar bola tersebut ke udara. Beberapa kali bola itu kembali tepat ke tangannya. Namun, pada lemparan berikutnya, jari Elara gagal menangkapnya.

Bola emas itu jatuh ke tanah, berguling melewati rerumputan, lalu tercebur ke bagian danau yang paling dalam.

Elara segera berlari ke tepi air.

“Bola ibu…” bisiknya.

Ia mencoba melihat ke dasar, tetapi air danau begitu gelap sehingga tidak ada satu pun benda yang terlihat.

Suara Aneh dari Balik Daun Teratai

Elara duduk di dekat danau cukup lama. Ia bahkan mencoba memasukkan tangannya ke dalam air, tetapi kedalamannya membuat usahanya sia sia. Kesedihan mulai menguasainya karena bola emas itu merupakan salah satu benda terakhir yang mengingatkannya kepada ibunya.

Ketika Elara hampir menyerah, terdengar sebuah suara dari balik daun teratai.

“Mengapa seorang putri menangis sendirian di tengah hutan?”

Elara segera berdiri dan melihat ke sekeliling.

“Siapa di sana?”

Tidak ada manusia yang muncul.

Beberapa detik kemudian, seekor kodok hijau besar melompat ke atas batu di tepi danau. Kulitnya terlihat basah, sementara sepasang matanya yang bulat menatap Elara dengan tenang.

“Aku yang berbicara,” kata kodok itu.

Elara mundur dua langkah.

“Kau bisa berbicara?”

“Tentu saja.”

Elara mengira dirinya terlalu lelah. Namun, kodok itu kembali membuka mulut.

“Aku melihat bola emasmu jatuh. Aku bisa mengambilnya.”

Mendengar perkataan itu, wajah Elara berubah cerah.

“Benarkah? Ambilkan untukku. Aku akan memberimu emas, permata, bahkan makanan sebanyak yang kau inginkan.”

Kodok tersebut menggeleng.

“Aku tidak membutuhkan emas.”

“Lalu apa yang kau inginkan?”

Kodok itu terdiam sebentar sebelum menjawab.

“Aku hanya ingin kau memperlakukanku sebagai teman. Izinkan aku makan di meja kerajaan, duduk bersamamu, dan datang ke istana.”

Elara memandang tubuh kecil berlendir di depannya. Permintaan tersebut terdengar aneh. Meski begitu, keinginannya mendapatkan kembali bola pemberian ibunya jauh lebih besar.

“Baiklah. Aku berjanji.”

Kodok itu menatap Elara beberapa saat, seakan ingin memastikan bahwa sang putri sungguh sungguh.

Setelah itu, ia melompat ke dalam danau.

Beberapa saat kemudian, kodok tersebut muncul kembali sambil membawa bola emas di mulutnya.

Elara segera mengambilnya.

“Terima kasih!”

Tanpa mengingat janjinya, ia langsung berlari meninggalkan danau.

“Tunggu!” teriak kodok.

Namun, Elara tidak berhenti.

“Janji terlihat sederhana ketika diucapkan, tetapi nilainya baru benar benar terlihat ketika seseorang diminta untuk menepatinya.”

Tamu Tak Biasa Datang ke Istana

Malam itu, Elara duduk bersama Raja Aldric di ruang makan utama. Puluhan lilin menerangi meja panjang yang dipenuhi roti, buah, sup, dan daging panggang. Sang putri sudah hampir melupakan peristiwa di danau.

Tiba tiba terdengar suara dari arah pintu.

Tok. Tok. Tok.

Seorang penjaga membuka pintu, tetapi tidak melihat siapa pun.

Tok. Tok.

Suara tersebut muncul lagi dari bagian bawah pintu.

Ketika penjaga melihat ke lantai, ia menemukan seekor kodok hijau.

“Aku datang menemui Putri Elara,” katanya.

Para pelayan terkejut.

Raja Aldric meminta penjaga membiarkannya masuk.

Kodok itu melompat perlahan melewati lantai marmer hingga berhenti di dekat kursi Elara.

Wajah sang putri langsung pucat.

Raja memperhatikannya.

“Apakah kau mengenalnya?”

Elara terdiam.

Kodok tersebut kemudian menceritakan kejadian di danau, termasuk janji yang telah diberikan sang putri.

Raja Aldric memandang anaknya dengan serius.

“Apakah cerita itu benar?”

Elara menundukkan kepala.

“Benar, Ayah.”

“Kalau begitu, kau harus menepatinya.”

Elara mencoba membantah.

“Tapi dia seekor kodok.”

Raja tetap tenang.

“Keadaan seseorang tidak membuat janji kita kehilangan nilainya.”

Elara akhirnya meminta seorang pelayan mengangkat kodok tersebut ke atas meja.

Kodok kemudian makan dari piring kecil yang disediakan untuknya. Walaupun seluruh penghuni istana menatap dengan keheranan, ia sama sekali tidak terlihat gugup.

Kodok yang Ternyata Memiliki Sikap Seorang Bangsawan

Hari berikutnya, kodok kembali datang. Kali ini Elara tidak mengusirnya karena ayahnya sudah menegaskan bahwa janji harus dipenuhi.

Mereka duduk bersama di taman belakang istana.

Awalnya Elara tidak banyak berbicara. Namun, kodok tersebut ternyata mengetahui banyak hal mengenai sejarah kerajaan, astronomi, musik, hingga cara mengatur pasukan.

Elara mulai merasa penasaran.

“Bagaimana seekor kodok bisa mengetahui semua itu?”

Kodok tersebut tersenyum kecil.

“Aku memiliki kehidupan sebelum tinggal di danau.”

“Kehidupan seperti apa?”

“Aku belum bisa menceritakannya.”

Jawaban itu membuat rasa ingin tahu Elara semakin besar.

Hari demi hari berlalu. Kodok tersebut rutin datang ke istana. Perlahan, Elara mulai terbiasa dengan kehadirannya.

Ia bahkan memberi nama panggilan kepadanya.

“Bagaimana kalau aku memanggilmu Rowan?”

Kodok itu terdiam.

“Kenapa memilih nama itu?”

“Aku tidak tahu. Nama itu tiba tiba terpikir.”

Kodok tersebut terlihat terkejut, tetapi segera menyembunyikannya.

“Kalau begitu, panggil aku Rowan.”

Elara tidak mengetahui bahwa Rowan sebenarnya adalah nama asli kodok tersebut ketika masih menjadi manusia.

Rahasia Pangeran yang Terkunci dalam Kutukan

Pada suatu malam, hujan deras mengguyur istana. Kilatan petir terlihat dari balik jendela sementara suara angin mengguncang pepohonan.

Elara menemukan Rowan duduk sendirian di dekat perapian.

Tidak seperti biasanya, kodok tersebut tampak murung.

“Kau kenapa?”

Rowan menatap nyala api.

“Aku teringat rumah.”

Elara duduk di dekatnya.

“Danau itu bukan rumahmu?”

“Bukan.”

Untuk pertama kalinya, Rowan bersedia menceritakan sebagian kisahnya.

Ia mengaku berasal dari kerajaan jauh di sebelah utara bernama Arvendale. Dahulu, kerajaan tersebut dipimpin oleh Raja Edric dan memiliki seorang putra yang menghilang secara misterius.

Elara pernah mendengar cerita tentang pangeran itu.

“Namanya Pangeran Rowan.”

Kodok tersebut menatapnya.

Elara perlahan memahami apa yang sedang terjadi.

“Kau…”

“Aku Pangeran Rowan.”

Beberapa tahun sebelumnya, seorang penyihir bernama Morwen datang ke Arvendale. Ia meminta perlindungan setelah diusir dari sebuah desa. Raja Edric mengizinkannya tinggal sementara.

Namun, Morwen kemudian mencoba mengambil sebuah batu kristal kerajaan yang dipercaya mempunyai kekuatan besar.

Rowan memergokinya.

Terjadilah pertengkaran.

Merasa rencananya gagal, Morwen mengutuk Rowan menjadi seekor kodok dan membawanya jauh dari Arvendale.

“Kenapa kau tidak kembali?”

“Aku pernah mencoba. Setiap kali menjauh terlalu jauh dari danau, tubuhku terasa lemah. Kutukan itu mengikatku dengan tempat tersebut.”

Elara merasa iba.

“Lalu bagaimana cara menghilangkan kutukannya?”

“Aku tidak tahu sepenuhnya.”

Morwen hanya mengatakan bahwa kutukan akan berakhir ketika seseorang dari keluarga kerajaan menerima Rowan bukan karena gelar, kekayaan, atau penampilannya.

Sejak saat itu, Rowan menunggu bertahun tahun di danau.

Elara Mulai Memandang Rowan dengan Cara Berbeda

Setelah mengetahui siapa Rowan sebenarnya, hubungan mereka berubah. Namun, Elara tidak tiba tiba memperlakukannya seperti seorang pangeran. Ia tetap berbicara kepadanya sebagaimana sebelumnya.

Mereka sering berdiskusi di perpustakaan.

Rowan membantu Elara memahami persoalan perdagangan kerajaan. Sebaliknya, Elara sering membacakan buku karena Rowan kesulitan membuka halaman dengan kaki kecilnya.

Suatu sore, keduanya kembali ke danau tempat mereka pertama kali bertemu.

Elara duduk di atas batu.

“Kalau kutukanmu hilang, apa yang akan kau lakukan?”

“Kembali ke Arvendale.”

“Kau akan meninggalkan Valeria?”

Rowan menatapnya.

“Itulah rumahku.”

Entah mengapa, jawaban tersebut membuat Elara terdiam.

Ia baru menyadari bahwa selama beberapa bulan terakhir, Rowan telah menjadi bagian dari kesehariannya.

“Kadang seseorang baru mengetahui betapa berharganya sebuah pertemanan ketika muncul kemungkinan bahwa kebersamaan itu tidak berlangsung selamanya.”

Penyihir Morwen Kembali Memburu Sang Pangeran

Beberapa hari kemudian, kabut tebal menyelimuti hutan. Para penjaga melaporkan bahwa banyak burung terbang meninggalkan pepohonan secara bersamaan.

Rowan terlihat gelisah.

“Dia datang.”

“Siapa?”

“Morwen.”

Benar saja, seorang perempuan berjubah hitam muncul di gerbang istana pada malam hari. Rambutnya panjang berwarna putih, sementara sebuah tongkat kayu berada di tangannya.

Ia meminta Rowan diserahkan kepadanya.

Raja Aldric menolak.

Morwen kemudian menggunakan sihirnya. Angin kencang menerjang halaman dan memadamkan seluruh obor di sekitar gerbang.

Dalam kekacauan itu, Rowan melompat keluar dari istana.

“Jangan!” teriak Elara.

Rowan sengaja memancing Morwen menjauh agar istana tidak diserang.

Elara mengambil jubah dan mengejarnya.

Mereka bergerak menuju hutan hingga tiba di danau.

Morwen berdiri di hadapan Rowan.

“Sudah waktunya kau kembali menjadi milikku.”

“Aku tidak pernah menjadi milikmu,” jawab Rowan.

Morwen mengangkat tongkatnya.

Cahaya ungu muncul di udara dan menghantam tanah di dekat Rowan.

Kodok itu terpental.

Elara segera berlari dan melindunginya dengan kedua tangan.

“Berhenti!”

Morwen tertawa.

“Kau mempertaruhkan hidup untuk seekor kodok?”

Elara menatap penyihir itu.

“Dia bukan sekadar kodok.”

“Karena kau tahu dia pangeran?”

Elara terdiam sesaat.

Kemudian ia menggeleng.

“Bahkan jika Rowan tidak pernah berubah menjadi manusia, aku tetap tidak akan menyerahkannya kepadamu.”

Ucapan tersebut membuat Morwen berhenti tersenyum.

Udara di sekitar danau tiba tiba bergetar.

Kutukan Pecah di Tepi Danau

Cahaya putih muncul dari tubuh Rowan.

Elara meletakkannya perlahan di tanah.

Tubuh kodok itu mulai berubah. Cahaya semakin terang hingga Elara harus menutup matanya.

Beberapa saat kemudian, suara gemuruh berhenti.

Ketika membuka mata, Elara tidak lagi melihat seekor kodok.

Di hadapannya berdiri seorang pemuda tinggi dengan pakaian kerajaan berwarna hijau tua. Rambutnya hitam, sementara matanya memiliki warna yang sama dengan mata Rowan ketika masih menjadi kodok.

Elara terpaku.

“Rowan?”

Pemuda tersebut tersenyum.

“Aku tetap Rowan.”

Kutukan Morwen telah pecah.

Perkataan Elara sebelumnya menjadi bukti bahwa ia menerima Rowan tanpa mengharapkan gelar maupun rupa seorang pangeran.

Morwen mencoba mengangkat tongkatnya sekali lagi. Namun, kekuatan yang sebelumnya mengikat Rowan sudah hilang. Pangeran itu mengambil pedang milik salah seorang penjaga yang baru tiba dan mengarahkannya kepada Morwen.

Penyihir tersebut menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kendali.

Tubuhnya berubah menjadi asap hitam sebelum menghilang di antara pepohonan.

Rowan kemudian menatap kedua tangannya sendiri.

“Aku hampir lupa seperti apa rasanya memiliki jari.”

Elara tertawa.

“Setidaknya sekarang kau bisa membuka buku sendiri.”

Kembalinya Pangeran Rowan ke Kerajaan Arvendale

Berita mengenai perubahan Rowan segera menyebar ke seluruh Valeria. Banyak orang datang ke halaman istana karena ingin melihat pangeran yang selama bertahun tahun hidup sebagai kodok.

Raja Aldric mengirim utusan menuju Arvendale.

Beberapa minggu kemudian, rombongan kerajaan datang membawa kereta besar. Di antara mereka terdapat Raja Edric yang selama bertahun tahun percaya bahwa putranya telah meninggal.

Saat melihat Rowan berdiri di tangga istana, Raja Edric turun dari kudanya dan memeluk putranya.

Tidak banyak kata yang terucap.

Para prajurit Arvendale bahkan terlihat menahan air mata.

Setelah beberapa hari tinggal di Valeria, tibalah waktunya Rowan kembali ke kerajaannya.

Kereta telah menunggu di halaman.

Rowan berdiri di depan Elara.

“Ikutlah denganku.”

Elara tersenyum.

“Aku tidak bisa meninggalkan ayah begitu saja.”

Rowan mengangguk.

“Aku mengerti.”

Ia kemudian menaiki kereta.

Namun, sebelum kereta bergerak, Elara memanggilnya.

“Rowan!”

Pangeran itu menoleh.

“Jangan lupa mengunjungiku.”

Rowan tersenyum.

“Aku pernah menempuh perjalanan sebagai kodok demi memenuhi sebuah janji. Sekarang aku punya dua kaki manusia. Tidak mungkin aku melupakannya.”

Kereta meninggalkan halaman istana.

Elara berdiri hingga rombongan tersebut menghilang di balik gerbang.

Pertemuan Kedua Sang Putri dengan Pangeran dari Arvendale

Enam bulan setelah kepergian Rowan, musim semi tiba di Valeria. Bunga bermekaran di sepanjang jalan menuju istana.

Pada suatu pagi, penjaga gerbang mengumumkan datangnya rombongan dari Arvendale.

Elara yang sedang membaca di perpustakaan segera berlari menuju halaman.

Rowan turun dari seekor kuda putih.

Kali ini ia mengenakan pakaian sederhana tanpa mahkota atau perhiasan kerajaan.

“Aku menepati janji,” katanya.

Elara tersenyum.

“Ternyata kau benar benar kembali.”

“Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.”

Rowan membawa Elara menuju danau.

Tempat itu tidak banyak berubah. Daun teratai masih memenuhi sebagian permukaan air, sementara suara burung terdengar dari pepohonan.

Rowan mengambil sesuatu dari sakunya.

Sebuah bola kecil berwarna emas.

Elara mengenalinya.

“Bola milik ibuku?”

“Aku menemukannya di istana. Kau meninggalkannya di perpustakaan beberapa bulan lalu.”

Rowan menyerahkan bola tersebut kepadanya.

Elara memandang benda itu kemudian tertawa.

“Kalau jatuh lagi ke danau, kau mau mengambilkannya?”

Rowan ikut tertawa.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku sudah bukan kodok.”

Elara melempar bola itu pelan ke udara lalu menangkapnya.

Keduanya berjalan menyusuri tepi danau sambil membicarakan banyak hal yang terjadi selama mereka berpisah.

Rowan bercerita bahwa Arvendale perlahan kembali tenteram. Sementara Elara mulai membantu ayahnya mengurus sejumlah urusan kerajaan.

Mereka berhenti di batu tempat kodok kecil dahulu pertama kali menawarkan bantuan.

Elara menatap permukaan danau.

“Kalau waktu itu bolaku tidak jatuh, kita mungkin tidak pernah bertemu.”

Rowan tersenyum.

“Kalau waktu itu kau tidak membuat janji, aku mungkin masih berada di bawah daun teratai.”

Elara mengangkat bola emasnya.

“Berarti benda kecil ini yang memulai semuanya.”

“Menurutku bukan.”

“Lalu apa?”

Rowan menatapnya sambil tersenyum.

“Sebuah janji.”

Pada hari itu mereka kembali ke istana bersama. Tidak ada sihir, cahaya aneh, atau penyihir yang menunggu di antara pepohonan. Hanya jalan setapak yang sama, danau yang sama, serta dua orang yang kini mengetahui bahwa pertemuan mereka dahulu telah mengubah kehidupan keduanya dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *