Guru BK Gorontalo Digital UNG Siapkan Hadapi Era!

Cerpen42 Views

Guru BK Gorontalo Digital kini bukan lagi sekadar frasa tren di ruang seminar pendidikan, melainkan kebutuhan nyata yang sedang dibangun di Gorontalo melalui inisiatif kampus dan jejaring sekolah. Di tengah perubahan cara siswa berinteraksi, belajar, dan mencari bantuan, peran bimbingan dan konseling ikut bergeser: dari ruang konseling yang sunyi menuju ekosistem layanan yang bergerak cepat, terdokumentasi, dan terhubung lewat perangkat digital. Universitas Negeri Gorontalo atau UNG membaca arah perubahan ini sebagai pekerjaan besar yang menuntut kesiapan kompetensi, etika, serta tata kelola layanan.

Perubahan tersebut terasa kuat karena masalah yang dihadapi siswa juga berubah bentuk. Tekanan akademik masih ada, tetapi kini berdampingan dengan kecemasan akibat media sosial, perundungan siber, paparan konten berisiko, hingga relasi pertemanan yang berlangsung di platform digital. Guru BK dituntut memahami pola komunikasi baru, bahasa baru, bahkan ritme emosi baru yang sering kali muncul lewat jejak digital: unggahan, komentar, pesan singkat, dan aktivitas daring yang sulit ditangkap dengan cara lama.

Di Gorontalo, situasinya memiliki konteks lokal yang khas. Sebagian sekolah telah memiliki akses internet memadai, sebagian lain masih berjuang dengan keterbatasan perangkat dan jaringan. Namun, justru di ruang ketimpangan itulah gagasan penguatan Guru BK Gorontalo Digital menemukan urgensinya: bagaimana layanan konseling tetap hadir, terukur, dan aman bagi siswa, tanpa menambah beban baru bagi sekolah yang infrastrukturnya belum sempurna.

UNG, sebagai institusi pendidikan tinggi yang menyiapkan calon pendidik dan tenaga kependidikan, ikut menempatkan isu ini dalam agenda penguatan kapasitas. Ini bukan hanya soal mengajarkan penggunaan aplikasi, melainkan membangun cara kerja baru: pendataan kebutuhan siswa yang lebih sistematis, layanan yang lebih responsif, serta kolaborasi lintas pihak yang lebih rapi. Di lapangan, Guru BK menjadi simpul penting yang menghubungkan siswa, orang tua, wali kelas, kepala sekolah, hingga layanan profesional lain bila dibutuhkan.

Guru BK Gorontalo Digital jadi kata kunci penguatan layanan di sekolah

Di banyak sekolah, layanan BK sering dipersepsikan sebagai tempat “pemadam kebakaran” ketika masalah sudah membesar. Padahal, BK idealnya bekerja sejak awal sebagai sistem pendampingan perkembangan siswa. Dalam kerangka Guru BK Gorontalo Digital, orientasi pencegahan ini menjadi lebih mungkin dilakukan karena data, pemetaan, dan komunikasi dapat disusun lebih cepat dan lebih rapi.

Digitalisasi membuka peluang untuk melakukan asesmen kebutuhan siswa secara berkala melalui formulir daring yang aman, mengatur jadwal konseling tanpa mengganggu jam belajar, dan mencatat tindak lanjut secara terstruktur. Namun, peluang itu datang bersama tantangan: bagaimana memastikan kerahasiaan, bagaimana membangun kepercayaan siswa, dan bagaimana mencegah layanan berubah menjadi sekadar administrasi berbasis aplikasi.

Di Gorontalo, kebutuhan penguatan layanan BK juga terkait dengan dinamika sosial yang terus bergerak. Perpindahan pola belajar, mobilitas keluarga, serta perubahan gaya komunikasi remaja membuat Guru BK perlu memiliki “radar” yang lebih peka. Digitalisasi dapat menjadi radar itu, asal digunakan dengan prinsip yang tepat, bukan sekadar mengikuti tren.

Yang paling penting, transformasi ini menuntut perubahan cara pandang. Guru BK Gorontalo Digital bukan berarti semua konseling harus dilakukan lewat layar. Justru, digital dipakai untuk memperluas akses, mempercepat respons, dan memperkaya informasi, sementara interaksi tatap muka tetap menjadi ruang utama untuk membangun empati dan kedalaman hubungan konseling.

Guru BK Gorontalo Digital dan perubahan perilaku siswa yang makin daring

Guru BK Gorontalo Digital berhadapan dengan siswa yang hidup dalam dua dunia sekaligus: ruang kelas dan ruang digital. Banyak konflik pertemanan bermula dari komentar singkat, unggahan yang disalahartikan, atau percakapan grup yang memanas. Di sisi lain, siswa juga sering mencari jawaban cepat dari internet untuk persoalan mental, relasi, bahkan identitas diri, tanpa filter yang memadai.

Kondisi ini menuntut Guru BK memahami literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan kemampuan membaca konteks. Misalnya, saat siswa mengeluh sulit tidur karena “takut ketinggalan informasi”, masalahnya bisa terkait FOMO, kecanduan gawai, atau tekanan sosial. Guru BK perlu mampu menilai tingkat risiko, memberi edukasi yang relevan, dan melibatkan orang tua secara tepat tanpa mempermalukan siswa.

Perubahan perilaku juga terlihat pada cara siswa meminta bantuan. Ada yang lebih nyaman mengirim pesan lebih dulu daripada datang langsung. Ada yang ingin konseling dilakukan secara bertahap: mulai dari chat singkat, lalu pertemuan, lalu tindak lanjut. Pola ini menuntut protokol layanan yang jelas, termasuk jam layanan, mekanisme persetujuan, dan batasan profesional.

“Kalau layanan BK menutup pintu terhadap kebiasaan komunikasi siswa hari ini, yang terjadi bukan disiplin, melainkan jarak. Dan jarak itu sering menjadi awal dari masalah yang tidak terdeteksi.”

UNG mengarahkan program agar Guru BK Gorontalo Digital siap kerja di lapangan

UNG berada pada posisi strategis karena menjadi tempat pembentukan kompetensi calon guru dan penguatan kapasitas guru yang sudah bertugas. Ketika kampus menata pelatihan, kurikulum, dan praktik lapangan yang relevan dengan kebutuhan sekolah, efeknya bisa langsung terasa. Dalam konteks Guru BK Gorontalo Digital, UNG dapat menjadi motor penggerak yang menyatukan pendekatan ilmiah, etika profesi, dan realitas lapangan.

Penguatan ini dapat berlangsung dalam beberapa jalur. Pertama, pembelajaran di kelas yang memasukkan materi literasi digital, psikologi perkembangan remaja di era media sosial, serta manajemen kasus berbasis data. Kedua, pelatihan singkat atau workshop untuk guru BK di sekolah yang fokus pada alat kerja praktis: sistem pencatatan, asesmen kebutuhan, dan desain program pencegahan. Ketiga, kolaborasi riset yang memetakan isu siswa di Gorontalo sehingga intervensi tidak sekadar meniru model kota besar.

Yang menentukan keberhasilan bukan banyaknya aplikasi yang dipakai, melainkan kesesuaian alat dengan kebutuhan. Sekolah yang jaringan internetnya belum stabil membutuhkan solusi ringan, bisa diakses lewat ponsel, dan tidak boros kuota. Sekolah yang sudah lebih siap bisa mengembangkan sistem yang lebih komprehensif, termasuk dashboard pemantauan program BK dan integrasi dengan data sekolah.

UNG juga punya peluang membangun standar kompetensi lokal yang berpijak pada karakter Gorontalo. Nilai sosial, pola komunikasi keluarga, serta struktur komunitas dapat memengaruhi cara siswa memaknai masalah dan mencari bantuan. Guru BK Gorontalo Digital yang efektif adalah mereka yang mampu menggabungkan kecakapan digital dengan kepekaan budaya.

Guru BK Gorontalo Digital dalam kurikulum, pelatihan, dan praktik lapangan

Guru BK Gorontalo Digital idealnya dipersiapkan sejak masa pendidikan calon guru. Mahasiswa BK perlu diperkenalkan pada praktik pengelolaan layanan yang realistis: bagaimana menyusun program tahunan, bagaimana melakukan asesmen kebutuhan, bagaimana menangani kasus perundungan siber, dan bagaimana membuat rujukan ketika masalah melampaui kapasitas sekolah.

Pelatihan juga perlu menyentuh hal-hal yang sering luput. Misalnya, cara menulis catatan konseling yang ringkas tetapi bermakna, cara mengamankan dokumen digital, cara mengelola persetujuan orang tua untuk kasus tertentu, dan cara berkomunikasi dengan wali kelas tanpa membocorkan informasi sensitif. Ini bukan sekadar keterampilan administratif, melainkan bagian dari etika profesi.

Di praktik lapangan, calon guru BK perlu melihat langsung tantangan nyata: keterbatasan ruang konseling, jadwal yang padat, stigma siswa terhadap BK, hingga tekanan dari berbagai pihak yang ingin “hasil cepat”. Dengan pendekatan digital yang tepat, sebagian beban bisa dikurangi. Contohnya, pendaftaran konseling bisa dibuat sederhana, survei kebutuhan bisa dilakukan berkala, dan materi psikoedukasi bisa disebarkan melalui kanal resmi sekolah.

Namun, ada garis yang tidak boleh dilanggar: konseling bukan layanan instan seperti layanan pelanggan. Digital membantu akses, tetapi proses tetap menuntut waktu, empati, dan kehati-hatian.

Infrastruktur dan akses jadi ujian Guru BK Gorontalo Digital di daerah

Digitalisasi sering terdengar mulus di atas kertas, tetapi di lapangan ada banyak variabel. Kualitas jaringan internet berbeda antarwilayah, ketersediaan perangkat tidak merata, dan kemampuan literasi digital siswa serta orang tua juga beragam. Guru BK Gorontalo Digital harus bekerja dalam kenyataan itu, bukan dalam asumsi ideal.

Di sekolah yang aksesnya terbatas, strategi digital perlu bersifat adaptif. Misalnya, menggunakan formulir yang bisa diisi ketika ada koneksi, menyimpan data secara offline sementara, atau memanfaatkan pesan singkat dengan standar keamanan tertentu. Untuk materi psikoedukasi, bisa dibuat versi ringan: poster digital yang dapat dibagikan lewat WhatsApp, atau audio singkat yang mudah diunduh.

Selain itu, sekolah perlu memikirkan ruang privat. Konseling daring tanpa ruang yang aman bisa menjadi bumerang. Siswa yang melakukan sesi dari rumah mungkin tidak punya privasi karena anggota keluarga lalu-lalang. Di sekolah pun, jika dilakukan lewat perangkat, perlu tempat yang tidak mudah diintip atau didengar orang lain. Ini persoalan sederhana tetapi krusial karena menyangkut rasa aman siswa.

Tidak kalah penting adalah kesiapan orang tua. Banyak orang tua masih menganggap BK sebagai tempat “anak bermasalah”. Ketika layanan BK menjadi lebih digital, orang tua bisa salah paham, mengira sekolah “mengawasi” anak secara berlebihan. Guru BK perlu komunikasi yang jernih: menjelaskan tujuan, batasan, dan manfaat layanan, termasuk bagaimana data siswa dilindungi.

Guru BK Gorontalo Digital menghadapi jurang perangkat dan koneksi

Guru BK Gorontalo Digital sering harus membuat keputusan praktis: platform apa yang digunakan, bagaimana memastikan semua siswa bisa mengakses, dan bagaimana menghindari ketergantungan pada aplikasi yang rumit. Di beberapa sekolah, satu-satunya perangkat yang konsisten dimiliki siswa adalah ponsel. Maka, desain layanan harus mobile first, sederhana, dan tidak memerlukan akun yang berlapis-lapis.

Kendala koneksi juga memengaruhi cara layanan diberikan. Konseling sinkron lewat video mungkin tidak realistis untuk semua siswa. Alternatifnya adalah pendekatan asinkron: siswa mengisi jurnal perasaan mingguan, mengirim pesan pada jam tertentu, atau mengatur pertemuan tatap muka setelah skrining awal dilakukan secara digital.

Yang juga perlu dipikirkan adalah beban kerja guru BK. Jika semua kanal dibuka tanpa aturan, guru BK bisa kewalahan menerima pesan sepanjang hari. Karena itu, digitalisasi harus disertai SOP: jam layanan, waktu tanggapan, prosedur darurat, dan mekanisme rujukan cepat untuk kasus krisis.

Etika, privasi, dan keamanan data dalam layanan BK berbasis digital

Ketika layanan BK masuk ke ranah digital, isu etika menjadi lebih kompleks. Catatan konseling yang dulu tersimpan di lemari kini bisa berbentuk file, database, atau pesan. Risiko kebocoran data meningkat jika perangkat tidak dilindungi, jika akun dipakai bersama, atau jika dokumen disimpan di layanan cloud tanpa pengaturan yang benar.

Guru BK Gorontalo Digital perlu memahami prinsip minimalisasi data: hanya mengumpulkan informasi yang benar-benar diperlukan. Mereka juga perlu memisahkan akun pribadi dan akun layanan, mengaktifkan autentikasi dua faktor bila memungkinkan, serta menghindari penggunaan platform yang tidak jelas kebijakan privasinya untuk pembahasan sensitif.

Kerahasiaan adalah fondasi konseling. Namun, kerahasiaan bukan berarti menutup mata terhadap risiko. Ada situasi tertentu ketika guru BK harus melibatkan pihak lain, misalnya jika ada indikasi kekerasan, percobaan bunuh diri, atau ancaman serius. Dalam konteks digital, keputusan ini perlu didukung dokumentasi yang baik dan komunikasi yang hati-hati agar siswa tidak merasa dikhianati.

Sekolah juga perlu kebijakan yang jelas. Siapa yang boleh mengakses catatan BK? Bagaimana prosedur penyimpanan dan penghapusan data? Berapa lama data disimpan? Tanpa kebijakan, tanggung jawab sering jatuh sepenuhnya pada guru BK, padahal ini urusan kelembagaan.

Guru BK Gorontalo Digital dan batasan konseling lewat chat

Guru BK Gorontalo Digital akan sering menerima curhat lewat chat. Di satu sisi, chat memudahkan siswa memulai percakapan. Di sisi lain, chat rawan disalahpahami karena minim nada dan ekspresi. Selain itu, chat meninggalkan jejak yang bisa diakses orang lain jika ponsel siswa dipinjam atau dibuka.

Karena itu, guru BK perlu menetapkan batasan yang tegas namun manusiawi. Misalnya, chat digunakan untuk membuat janji, skrining awal, atau tindak lanjut ringan, sementara pembahasan mendalam dilakukan tatap muka atau lewat sesi yang lebih terstruktur. Untuk isu krisis, guru BK perlu protokol: nomor darurat, rujukan ke layanan kesehatan, dan koordinasi dengan pihak sekolah.

Ada pula isu waktu. Jika siswa mengirim pesan tengah malam karena panik, guru BK perlu cara merespons tanpa membuka pintu kerja 24 jam yang tidak sehat. Sekolah bisa membantu dengan menyediakan kanal informasi darurat dan edukasi kepada siswa tentang kapan harus menghubungi layanan tertentu.

“Teknologi itu alat. Yang membuatnya menolong atau melukai adalah disiplin kita menjaga batas, bukan kecanggihannya.”

Program harian yang berubah: asesmen, pencegahan, dan penanganan kasus

Digitalisasi mengubah rutinitas kerja BK dari yang serba manual menjadi lebih terukur. Asesmen kebutuhan bisa dilakukan lebih sering, misalnya per triwulan, dengan pertanyaan yang disusun sesuai isu aktual: stres akademik, relasi teman sebaya, penggunaan gawai, dan kesehatan mental. Hasilnya dapat membantu guru BK menyusun program pencegahan yang lebih tepat sasaran.

Pencegahan bisa berbentuk kampanye literasi digital, kelas keterampilan sosial, edukasi tentang perundungan siber, hingga pelatihan manajemen emosi. Materi dapat disebar melalui kanal resmi sekolah dan dipantau keterjangkauannya. Jika banyak siswa tidak mengakses materi, itu sinyal bahwa formatnya perlu diubah.

Untuk penanganan kasus, pencatatan digital membantu konsistensi tindak lanjut. Guru BK dapat melihat riwayat pertemuan, rencana intervensi, serta catatan koordinasi dengan wali kelas atau orang tua. Namun, pencatatan harus ringkas dan aman. Catatan yang terlalu detail bisa berisiko jika bocor, sementara catatan yang terlalu minim membuat tindak lanjut tidak jelas.

Dalam praktiknya, Guru BK Gorontalo Digital juga perlu memilah mana masalah yang bisa ditangani di sekolah dan mana yang harus dirujuk. Kasus kecemasan berat, kekerasan, atau penyalahgunaan zat misalnya, memerlukan jejaring rujukan yang kuat. Digital bisa membantu mempercepat koordinasi, tetapi keputusan profesional tetap menjadi inti.

Guru BK Gorontalo Digital memakai data untuk membaca pola, bukan menghakimi

Data sering disalahpahami sebagai alat mengawasi. Padahal, dalam BK, data seharusnya dipakai untuk membaca pola dan mencegah masalah membesar. Misalnya, jika banyak siswa kelas tertentu melaporkan sulit tidur dan cemas menjelang ujian, itu sinyal untuk intervensi kelas, bukan menunggu siswa datang satu per satu.

Guru BK Gorontalo Digital dapat memanfaatkan data agregat tanpa mengekspos identitas individu. Mereka bisa menyampaikan kepada sekolah bahwa ada tren tertentu yang perlu ditangani, misalnya meningkatnya konflik di grup chat kelas, atau meningkatnya tekanan akademik pada periode tertentu. Dari situ, sekolah bisa menyesuaikan kebijakan, misalnya menata ulang jadwal tugas atau memperkuat pengawasan pada titik rawan.

Namun, data harus dibaca dengan hati-hati. Angka tidak selalu menjelaskan sebab. Survei daring bisa bias karena siswa yang paling bermasalah justru tidak mengisi. Karena itu, data perlu dilengkapi observasi, wawancara, dan koordinasi dengan guru lain.

Kolaborasi dengan guru mata pelajaran, wali kelas, dan orang tua

Layanan BK tidak bisa berdiri sendiri. Guru BK Gorontalo Digital justru makin membutuhkan kolaborasi karena masalah siswa sering muncul lintas ruang: muncul di kelas, meledak di media sosial, lalu terbawa ke rumah. Koordinasi yang cepat dan tepat dapat mencegah konflik menjadi lebih besar.

Dengan alat digital, koordinasi bisa lebih rapi. Namun, koordinasi tidak boleh berubah menjadi penyebaran informasi sensitif. Guru BK perlu memilah informasi yang perlu diketahui wali kelas untuk mendukung siswa, tanpa membocorkan detail yang tidak relevan. Orang tua pun perlu dilibatkan dengan pendekatan yang tidak menghakimi.

Dalam konteks Gorontalo, pendekatan kepada orang tua juga perlu memperhatikan budaya komunikasi. Ada orang tua yang sangat protektif, ada yang menyerahkan sepenuhnya pada sekolah, ada pula yang sensitif terhadap stigma. Guru BK perlu memilih bahasa yang tepat: fokus pada kebutuhan anak, bukan label masalah.

Kolaborasi juga menyangkut pihak luar sekolah. Jika UNG mendorong jejaring dengan psikolog, puskesmas, atau lembaga perlindungan anak, Guru BK memiliki jalur rujukan yang lebih jelas. Ini penting karena tidak semua kasus bisa diselesaikan di sekolah.

Guru BK Gorontalo Digital dan komunikasi yang tidak bikin siswa takut

Guru BK Gorontalo Digital harus menjaga agar siswa tidak merasa setiap keluhan akan langsung dilaporkan ke orang tua atau guru lain. Rasa aman adalah syarat agar siswa mau berbicara. Karena itu, sejak awal perlu ada penjelasan tentang batas kerahasiaan: apa yang rahasia, apa yang harus dilaporkan demi keselamatan.

Komunikasi digital juga perlu etika bahasa. Pesan yang terlalu formal bisa membuat siswa enggan, tetapi pesan yang terlalu santai bisa mengaburkan batas profesional. Guru BK perlu menemukan gaya komunikasi yang hangat, jelas, dan tetap menjaga wibawa layanan.

Di sisi lain, guru BK juga perlu melatih siswa tentang etika komunikasi. Banyak konflik terjadi karena siswa tidak paham dampak kata-kata di ruang digital. Program BK bisa memasukkan materi tentang jejak digital, empati dalam komunikasi, dan cara menyelesaikan konflik tanpa mempermalukan pihak lain.

Tantangan kompetensi: dari literasi digital sampai kesiapan psikologis guru BK

Transformasi digital sering dibicarakan seolah hanya soal teknologi. Padahal, kompetensi yang dibutuhkan lebih luas. Guru BK Gorontalo Digital perlu memahami alat, tetapi juga perlu memahami psikologi remaja di era digital, dinamika kelompok di media sosial, serta teknik konseling yang relevan.

Ada pula tantangan kesiapan psikologis guru BK sendiri. Arus informasi yang cepat, kasus yang datang bertubi-tubi, dan ekspektasi sekolah yang tinggi dapat memicu kelelahan. Digitalisasi yang tidak dirancang baik justru menambah beban karena guru BK harus mengurus banyak kanal sekaligus.

Karena itu, pelatihan tidak boleh berhenti pada “cara memakai aplikasi”. Pelatihan perlu menyentuh manajemen waktu, batas profesional, supervisi kasus, dan dukungan sejawat. Komunitas praktik antar guru BK di Gorontalo dapat menjadi ruang berbagi strategi dan menjaga kualitas layanan.

UNG dapat berperan sebagai penghubung komunitas ini. Kampus bisa memfasilitasi forum rutin, klinik kasus berbasis etika, atau pelatihan lanjutan yang merespons isu terbaru. Dengan cara itu, Guru BK Gorontalo Digital tidak berjalan sendiri.

Guru BK Gorontalo Digital butuh supervisi dan ruang belajar berkelanjutan

Guru BK Gorontalo Digital akan menghadapi kasus yang berkembang cepat, misalnya penyebaran foto tanpa izin, ancaman di media sosial, atau tekanan kelompok di platform tertentu. Banyak kasus memerlukan keputusan cepat yang tetap etis. Di sinilah supervisi menjadi penting: ruang untuk mendiskusikan langkah tanpa membuka identitas siswa, sekaligus menjaga kualitas intervensi.

Ruang belajar berkelanjutan juga penting karena platform dan tren berubah. Apa yang populer tahun ini bisa bergeser tahun depan. Guru BK tidak harus mengikuti semua tren, tetapi perlu cukup paham untuk membaca konteks. Misalnya, memahami bagaimana algoritma dapat memperkuat kecemasan, atau bagaimana budaya “viral” membuat siswa takut dipermalukan.

Belajar berkelanjutan juga mencakup evaluasi program. Apakah materi psikoedukasi benar-benar dipahami siswa? Apakah jumlah kasus menurun? Apakah siswa merasa layanan BK mudah diakses? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu BK tetap relevan, bukan sekadar menjalankan rutinitas.

Arah layanan: dari ruang konseling menuju ekosistem pendampingan siswa

Ketika Guru BK Gorontalo Digital dibangun dengan serius, layanan BK dapat bergerak dari model yang reaktif menjadi sistem pendampingan yang menyeluruh. Siswa bisa mendapatkan informasi yang tepat sebelum masalah membesar, bisa mengakses bantuan dengan cara yang nyaman, dan bisa merasakan bahwa sekolah hadir sebagai tempat aman.

Ekosistem ini tidak hanya tentang guru BK. Ini tentang kebijakan sekolah, dukungan kepala sekolah, keterlibatan guru lain, serta komunikasi dengan orang tua. Digitalisasi hanya mempercepat aliran kerja, sementara nilai dasarnya tetap sama: menghormati martabat siswa, menjaga kerahasiaan, dan menolong mereka tumbuh.

Di Gorontalo, penguatan ini juga bisa menjadi contoh bagaimana daerah membangun inovasi pendidikan yang kontekstual. Tidak harus menunggu infrastruktur sempurna untuk memulai, tetapi juga tidak boleh memaksakan teknologi yang tidak sesuai. UNG, sekolah, dan komunitas guru BK dapat membentuk jalur yang realistis: mulai dari sistem sederhana yang aman, lalu berkembang seiring kesiapan.

Guru BK Gorontalo Digital sebagai wajah baru layanan yang lebih dekat

Guru BK Gorontalo Digital pada akhirnya dinilai dari satu hal: apakah siswa merasa lebih dekat dengan bantuan yang mereka butuhkan. Kedekatan itu bisa muncul dari respons yang lebih cepat, jadwal yang lebih fleksibel, atau materi yang lebih relevan dengan kehidupan mereka. Kedekatan juga bisa muncul dari cara guru BK berbicara: tidak menghakimi, tidak meremehkan, dan tidak memaksakan solusi instan.

Di sekolah yang berhasil, layanan BK digital biasanya tidak berdiri sendiri. Ia menyatu dengan program sekolah: orientasi siswa baru yang memasukkan edukasi kesehatan mental, kegiatan kelas yang melatih keterampilan sosial, serta kebijakan anti perundungan yang jelas. Guru BK menjadi penggerak, sementara sekolah menjadi rumahnya.

Ketika UNG menyiapkan sumber daya manusia yang paham teknologi sekaligus paham etika dan psikologi, Gorontalo memiliki peluang memperkuat layanan BK dengan cara yang modern namun tetap manusiawi. Guru BK Gorontalo Digital bukan sekadar label, melainkan kerja panjang yang mengubah cara sekolah mendengar suara siswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *