Dalam cerpen tentang koran yaitu “Mengenang Sebuah Koran Lama,” kita diajak mengikuti perjalanan emosional Devi yang merindukan masa-masa indah membaca koran bersama keluarganya di tengah era digital.

Melalui penemuan koleksi koran lama milik kakeknya, Devi tidak hanya menemukan kembali kehangatan masa lalu, tetapi juga memahami nilai berharga dari kenangan yang tetap hidup di hati.

 

Mengenang Sebuah Koran Lama

Sebuah Kerinduan Devi

Devi duduk di sudut kamarnya yang nyaman, memandang layar ponsel dengan perasaan campur aduk. Notifikasi berita terus bermunculan, tetapi ada sesuatu yang hilang. Meskipun ia bisa dengan mudah membaca berita terbaru, ada rasa hampa yang tidak bisa ia abaikan. Devi merindukan sesuatu yang lebih dari sekadar layar digital yang dingin dan tanpa jiwa.

Kenangan masa kecil tiba-tiba melintas di benaknya. Ia teringat saat-saat duduk di meja makan bersama ibunya di pagi hari, dengan aroma kopi dan kertas koran yang memenuhi udara. Ibunya akan membacakan berita sambil tersenyum, sementara Devi kecil duduk di pangkuannya, mendengarkan dengan penuh perhatian. Suara lembut ibunya dan bunyi gemerisik halaman koran yang dibalik masih terngiang jelas di telinganya.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan itu menghilang. Internet menjadi sumber utama informasi, dan koran cetak perlahan menghilang dari kehidupan sehari-hari. Devi merasakan kehilangan yang mendalam, seolah-olah bagian dari masa kecilnya terenggut oleh perkembangan teknologi yang tak terbendung.

Suatu malam, saat Devi sedang duduk di meja makan, ia melihat ibunya sibuk dengan laptopnya. Devi mencoba membicarakan perasaannya, berharap mendapatkan sedikit pengertian. “Bu, kadang aku rindu baca koran bareng Ibu. Rasanya beda kalau baca berita di internet,” kata Devi dengan suara pelan.

Ibunya berhenti sejenak, lalu tersenyum sedih. “Aku juga, nak. Dulu kita sering baca koran bareng. Tapi sekarang, semua sudah berubah. Koran cetak sudah jarang ada.”

Devi melihat kesedihan di mata ibunya. Ia tahu bahwa ibunya juga merindukan masa-masa itu. “Kenapa sih, Bu? Kenapa koran cetak bisa hilang begitu aja?” tanya Devi dengan rasa ingin tahu.

Ibunya menghela napas panjang. “Perkembangan teknologi, nak. Orang lebih suka baca berita di internet karena lebih cepat dan praktis. Koran cetak jadi kurang diminati dan akhirnya banyak yang tutup.”

Devi merasa hatinya semakin berat. Ia merindukan momen-momen sederhana namun penuh makna itu. “Aku pengen banget baca koran lagi, Bu. Kayaknya sekarang nggak ada yang jual koran cetak di sekitar sini.”

Ibunya mengangguk pelan. “Ibu ngerti, Devi. Mungkin kita bisa cari di tempat lain. Atau mungkin kakekmu punya koleksi koran lama. Kamu tahu kan, kakek suka koleksi barang-barang antik.”

Devi tersentak mendengar kata-kata ibunya. Ia belum pernah berpikir untuk menanyakan hal itu kepada kakeknya. Kakek yang tinggal sendiri di rumah tua di pinggiran kota memang dikenal suka mengoleksi barang-barang dari masa lalu. Mungkin, hanya mungkin, kakeknya punya koran-koran lama yang bisa membawa Devi kembali ke masa-masa indah itu.

Hari-hari berikutnya, Devi merasa semakin penasaran dan tak sabar untuk mengunjungi kakeknya. Ia ingin tahu apakah kakeknya benar-benar memiliki koleksi koran lama yang bisa mengobati kerinduannya. Meskipun hatinya penuh harap, ada juga rasa takut bahwa ia tidak akan menemukan apa yang ia cari.

Pada suatu akhir pekan, Devi memutuskan untuk mengunjungi kakeknya. Ia berjalan perlahan menuju rumah tua itu, ditemani oleh suara burung berkicau dan angin sepoi-sepoi yang mengelus rambutnya. Ketika ia tiba di depan pintu, kakeknya sudah menunggunya dengan senyum hangat.

“Devi, cucu kesayangan kakek. Ada apa datang sendirian?” tanya kakeknya sambil memeluk Devi dengan erat.

Devi tersenyum, merasa nyaman dalam pelukan kakeknya. “Kakek, aku rindu baca koran. Ibu bilang mungkin kakek punya koleksi koran lama. Boleh aku lihat?”

Kakeknya terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar. “Tentu saja, Devi. Kakek punya banyak koleksi koran lama. Ayo, kita lihat di ruang bawah tanah.”

Dengan penuh antusias, Devi mengikuti kakeknya ke ruang bawah tanah. Saat pintu dibuka, aroma khas kertas tua langsung tercium. Devi melihat tumpukan koran lama yang rapi di sudut ruangan. Matanya berbinar-binar melihat koleksi kakeknya yang begitu banyak.

“Ini dia, Devi. Koran-koran lama yang kakek kumpulkan sejak dulu. Kamu bisa baca sepuasnya,” kata kakeknya sambil tersenyum bangga.

Devi merasa haru dan bahagia. Ia tidak menyangka bahwa kakeknya menyimpan begitu banyak koran lama. Dengan hati-hati, ia mengambil salah satu koran dari tumpukan dan mulai membaca. Suara kertas yang berkerisik saat dibuka, aroma khas yang mengingatkannya pada masa kecil, semuanya membawa Devi kembali ke momen-momen indah bersama ibunya.

Hari itu, Devi dan kakeknya menghabiskan waktu bersama membaca koran-koran lama. Mereka berbicara tentang berita-berita masa lalu, mengenang peristiwa-peristiwa penting, dan berbagi cerita-cerita keluarga yang tak pernah mereka bicarakan sebelumnya. Devi merasa kerinduannya terobati, dan hatinya penuh dengan rasa syukur karena masih bisa merasakan kehangatan dan kebahagiaan dari koran-koran lama itu.

Baca juga:  Cerpen Tentang Senyuman Seorang Guru: Kisah Bahagia Seorang Murid

Di dunia yang serba digital ini, Devi menemukan kembali sebagian dari masa kecilnya yang hilang. Ia belajar bahwa meskipun teknologi terus berkembang, ada nilai-nilai dan kenangan yang tetap abadi. Dengan senyum di wajahnya dan hati yang tenang, Devi berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menghargai hal-hal sederhana.

 

Kenangan yang Hilang

Setelah menemukan koleksi koran lama milik kakeknya, Devi merasa sedikit lega. Namun, rasa penasaran dan kerinduannya tidak sepenuhnya terobati. Meskipun koran-koran itu memberi Devi perasaan nostalgia yang manis, ia masih merindukan momen-momen membaca koran bersama ibunya.

Devi memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut tentang koran-koran lama di internet. Ia berharap bisa menemukan situs atau arsip digital yang menyimpan edisi-edisi koran yang pernah ia baca bersama ibunya. Namun, pencarian di dunia digital ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.

Setiap malam, Devi duduk di depan laptopnya, menjelajahi situs demi situs. Ia mengetikkan berbagai kata kunci seperti “arsip koran lama Indonesia”, “koleksi koran cetak”, dan “koran nostalgia”. Beberapa situs memang menyimpan arsip koran, tapi kebanyakan dari edisi yang lebih baru. Devi ingin mencari koran-koran dari masa kecilnya, yang sudah sangat jarang ditemui.

Suatu malam, setelah berjam-jam mencari tanpa hasil yang memuaskan, Devi merasa putus asa. Layar laptopnya menampilkan hasil pencarian yang tidak sesuai harapan, dan mata Devi mulai terasa lelah dan perih. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak dan mengambil secangkir teh dari dapur. Saat kembali ke kamar, Devi duduk di tempat tidurnya dengan cangkir teh hangat di tangan, merenungkan perasaannya.

“Kenapa sih, harus sesusah ini?” gumamnya sambil menatap langit-langit kamar. “Kenapa hal-hal yang dulu sederhana sekarang jadi begitu rumit?”

Devi merasa sangat sedih. Ia merindukan kenangan masa kecilnya yang sederhana dan bahagia, namun kini terasa begitu jauh dan sulit dijangkau. Teknologi yang seharusnya memudahkan, malah membuatnya merasa semakin terasing dari kenangan itu. Dalam keheningan malam, Devi teringat pada ibunya dan bagaimana mereka dulu sering tertawa bersama saat membaca koran.

Air mata Devi mulai mengalir. Ia merasa kerinduan yang begitu mendalam, tidak hanya pada koran-koran lama, tapi juga pada momen-momen berharga bersama ibunya. Ia merindukan sentuhan hangat ibunya, suara lembutnya saat membaca berita, dan kehangatan rumah yang kini terasa hampa tanpa kehadiran koran cetak di meja makan.

Dalam kesedihannya, Devi merasa terisolasi. Meskipun dunia digital memberikan akses ke berbagai informasi, tetapi itu tidak bisa menggantikan pengalaman fisik dan emosional membaca koran bersama orang yang dicintai. Devi merasa kehilangan sesuatu yang tak tergantikan, sesuatu yang tidak bisa ditemukan hanya dengan mengetikkan kata kunci di mesin pencari.

Hari-hari berikutnya, Devi masih mencoba mencari informasi di internet. Namun, setiap kali ia menemukan arsip digital, ia merasa kecewa karena itu tidak memberikan perasaan yang sama seperti memegang kertas koran di tangan. Devi merasa bahwa layar komputer tidak bisa menggantikan tekstur dan aroma kertas koran yang khas.

Suatu sore, Devi duduk di teras rumah, memandang ke kejauhan dengan pikiran yang melayang. Ibunya duduk di sebelahnya, menyadari kesedihan yang meliputi putrinya. “Devi, kenapa kamu terlihat sedih? Apa yang kamu pikirkan?” tanya ibunya dengan penuh perhatian.

Devi menghela napas panjang dan menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. “Bu, aku rindu saat-saat kita dulu baca koran bareng. Rasanya beda kalau baca berita di internet. Aku udah coba cari koran-koran lama di internet, tapi nggak nemu yang aku cari.”

Ibunya tersenyum sedih dan merangkul Devi dengan lembut. “Ibu juga rindu, nak. Tapi mungkin kita harus menerima bahwa beberapa hal memang berubah seiring waktu. Yang penting, kita masih bisa mengenang momen-momen itu bersama.”

Devi merasa sedikit terhibur oleh kata-kata ibunya, tetapi kesedihan itu masih ada. Ia tahu bahwa tidak ada yang bisa menggantikan kenangan indah masa kecilnya. Malam itu, Devi duduk di kamar dengan secangkir teh dan koleksi koran lama kakeknya. Ia membuka satu per satu lembaran koran itu, mencoba menemukan kembali rasa hangat dan kebahagiaan yang pernah ia rasakan.

Saat membaca koran lama itu, Devi teringat pada cerita-cerita yang pernah ia dengar dari ibunya. Ia merasa seolah-olah bisa mendengar kembali suara lembut ibunya yang membacakan berita. Meski tidak bisa mengembalikan masa lalu, Devi merasa sedikit terhibur karena masih bisa mengenang momen-momen itu melalui koran-koran lama.

Dalam kesedihannya, Devi menemukan kekuatan dalam kenangan. Ia sadar bahwa meskipun dunia terus berubah dan teknologi mengambil alih banyak aspek kehidupan, nilai-nilai dan kenangan indah tetap abadi di dalam hati. Dengan perasaan yang campur aduk antara sedih dan bahagia, Devi berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga kenangan itu, dan untuk terus menghargai momen-momen berharga yang masih bisa ia nikmati bersama orang-orang tercinta.

Baca juga:  Cerpen Tentang Musuh jadi Sahabat: Kisah Sahabat Saling Mengerti

Dengan hati yang sedikit lebih tenang, Devi menutup koran lama di tangannya dan memandang ke arah bintang-bintang di luar jendela. Ia tahu bahwa meskipun koran cetak mungkin sudah jarang ada, kenangan indah bersama ibunya akan selalu hidup dalam hatinya. Dan itu, bagi Devi, adalah hal yang paling berharga.

 

Koleksi Koran Kakek

Setelah berminggu-minggu mencari di internet dan merasakan kekecewaan yang mendalam, Devi memutuskan untuk mengikuti saran ibunya dan berbicara dengan kakeknya. Ia berharap bahwa kakeknya, yang terkenal dengan kecintaannya terhadap barang-barang antik, memiliki koleksi koran lama yang bisa mengobati kerinduannya.

Pada akhir pekan yang cerah, Devi berangkat ke rumah kakeknya. Rumah tua itu berdiri kokoh di pinggiran kota, penuh dengan kenangan masa kecil dan kehangatan keluarga. Saat Devi tiba, kakeknya sudah menunggunya di depan pintu dengan senyum hangat.

“Devi, cucu kesayangan kakek. Ada apa datang sendirian?” tanya kakeknya sambil memeluk Devi erat-erat.

Devi tersenyum, merasa nyaman dalam pelukan kakeknya. “Kakek, aku rindu baca koran. Ibu bilang mungkin kakek punya koleksi koran lama. Boleh aku lihat?”

Kakek menatap Devi dengan mata yang penuh pengertian. “Tentu saja, Devi. Kakek punya banyak koleksi koran lama. Ayo, kita lihat di ruang bawah tanah.”

Dengan penuh antusias, Devi mengikuti kakeknya ke ruang bawah tanah. Mereka turun tangga kayu yang berderit, dan saat pintu terbuka, aroma khas kertas tua langsung tercium. Devi melihat tumpukan koran lama yang rapi di sudut ruangan, dan matanya berbinar-binar melihat koleksi kakeknya yang begitu banyak.

“Ini dia, Devi. Koran-koran lama yang kakek kumpulkan sejak dulu. Kamu bisa baca sepuasnya,” kata kakek sambil tersenyum bangga.

Devi merasa haru dan bahagia. Ia tidak menyangka bahwa kakeknya menyimpan begitu banyak koran lama. Dengan hati-hati, ia mengambil salah satu koran dari tumpukan dan mulai membaca. Suara kertas yang berkerisik saat dibuka, aroma khas yang mengingatkannya pada masa kecil, semuanya membawa Devi kembali ke momen-momen indah bersama ibunya.

Namun, saat Devi membaca koran-koran itu, ia juga merasakan kesedihan yang mendalam. Setiap artikel, setiap berita, setiap gambar yang dilihatnya membawa kenangan yang beragam. Ia teringat saat-saat ia duduk di pangkuan ibunya, mendengarkan berita dengan penuh perhatian. Devi merasa seolah-olah bisa mendengar kembali suara lembut ibunya, tetapi kenyataan bahwa ibunya sekarang lebih sibuk dengan pekerjaan dan laptop membuatnya merasa sedih.

“Kakek, aku senang bisa menemukan koran-koran ini. Tapi kenapa ya, sekarang semua orang lebih sibuk dengan internet? Aku rindu momen-momen sederhana seperti dulu,” kata Devi dengan suara bergetar.

Kakek menghela napas panjang dan duduk di samping Devi. “Devi, dunia memang terus berubah. Teknologi membawa banyak kemudahan, tapi juga merubah cara kita menjalani hidup. Kakek juga merindukan masa-masa itu, ketika kita semua lebih banyak menghabiskan waktu bersama dan menikmati hal-hal sederhana.”

Devi menunduk, merasakan air mata mulai mengalir di pipinya. “Kakek, aku takut semua kenangan indah itu akan hilang. Aku takut aku akan lupa bagaimana rasanya membaca koran bersama ibu.”

Kakek merangkul Devi dengan penuh kasih sayang. “Kenangan itu tidak akan pernah hilang, Devi. Selama kita masih mengingatnya, mereka akan selalu hidup dalam hati kita. Dan sekarang, dengan koran-koran ini, kita bisa mengenang kembali masa-masa itu.”

Devi mengangguk pelan, merasa sedikit terhibur. Ia melanjutkan membaca koran-koran lama bersama kakeknya, menemukan berita-berita dari masa lalu yang menarik. Namun, setiap kali ia membaca, ada perasaan kehilangan yang tak bisa dihindari. Devi sadar bahwa dunia yang ia kenal dulu sudah berubah, dan ia harus menerima perubahan itu.

Hari itu, Devi dan kakeknya menghabiskan waktu bersama membaca koran-koran lama, mengenang masa lalu, dan berbagi cerita. Devi merasa terhubung kembali dengan kenangan masa kecilnya, tetapi juga merasakan kesedihan yang mendalam karena banyak hal yang sudah berubah. Ia tahu bahwa ia tidak bisa mengembalikan masa lalu, tetapi ia bisa menghargai kenangan-kenangan itu dan menjadikannya bagian dari dirinya.

Malamnya, saat Devi pulang ke rumah, ia merasa hatinya berat. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menemukan kembali momen-momen indah seperti dulu, tetapi ia bertekad untuk menjaga kenangan itu tetap hidup. Devi berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menghargai momen-momen berharga yang masih bisa ia nikmati bersama keluarganya.

Ketika Devi tiba di rumah, ibunya sedang duduk di ruang tamu, sibuk dengan laptopnya. Devi menghampiri ibunya dan duduk di sampingnya. “Bu, aku habis dari rumah kakek. Aku baca koran-koran lama yang kakek simpan. Rasanya senang bisa mengenang masa-masa itu,” kata Devi dengan suara lembut.

Ibunya menutup laptop dan menatap Devi dengan mata yang penuh cinta. “Devi, ibu juga rindu momen-momen itu. Mungkin kita bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk bersama-sama, tanpa gangguan teknologi.”

Baca juga:  Cerpen Tentang Liburan Ke Bandung: 3 Kisah Inspirasi Wisata

Devi tersenyum dan memeluk ibunya. “Iya, Bu. Aku ingin kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama, seperti dulu.”

Malam itu, Devi merasa hatinya sedikit lebih tenang. Meskipun ada kesedihan yang mendalam, ia merasa bahwa ia masih bisa menjaga kenangan indah itu tetap hidup. Dengan tekad yang kuat, Devi berjanji untuk selalu menghargai momen-momen berharga bersama keluarganya dan tidak membiarkan teknologi menghalangi kehangatan dan kebersamaan yang sejati.

 

Mengenang Masa Lalu

Malam itu, Devi tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan semua kenangan yang ia ungkap bersama kakeknya di ruang bawah tanah. Koran-koran lama itu membawa kembali begitu banyak ingatan yang seolah-olah terkubur di balik kebisingan dunia digital. Devi memutuskan untuk kembali ke rumah kakeknya keesokan harinya untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan koran-koran itu dan kakeknya.

Pagi-pagi sekali, Devi berangkat menuju rumah kakeknya. Sesampainya di sana, ia langsung disambut dengan senyum hangat dan pelukan yang erat dari kakeknya. “Devi, senang sekali kakek melihatmu datang lagi. Ayo, kita lanjutkan membaca koran-koran itu,” ajak kakeknya.

Devi mengikuti kakeknya ke ruang bawah tanah. Di sana, mereka duduk bersama, menelusuri lembar demi lembar koran lama. Setiap halaman yang dibuka mengungkap cerita-cerita dari masa lalu: berita-berita penting, peristiwa bersejarah, iklan-iklan jadul yang sekarang terasa lucu dan menggemaskan.

Namun, di balik setiap tawa yang tercipta dari iklan-iklan konyol dan berita-berita lama, ada rasa sedih yang mengintip. Devi merasakan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh nostalgia semata. Ia merasa kehilangan momen-momen berharga yang dulu begitu berarti. Setiap kali ia melihat foto-foto hitam putih dari masa lalu, ia merasa ada bagian dari dirinya yang hilang bersama waktu.

Salah satu koran yang mereka baca mengungkap berita tentang festival besar yang diadakan di kota mereka beberapa dekade lalu. “Kakek, ibu pernah cerita tentang festival ini. Katanya dulu kita sering pergi bersama,” kata Devi sambil menunjukkan artikel tersebut.

Kakek mengangguk pelan, matanya menerawang jauh. “Iya, Devi. Waktu itu, setiap tahun kita selalu ikut festival ini. Ibumu sangat senang melihat pawai dan kembang api. Dulu, semuanya terasa lebih sederhana dan penuh kebahagiaan.”

Devi merasakan air mata mulai menggenang di matanya. “Kenapa semua harus berubah, Kek? Kenapa hal-hal indah seperti itu sekarang hanya bisa kita kenang?”

Kakek menghela napas panjang. “Devi, perubahan adalah bagian dari hidup. Terkadang, kita tidak bisa menghentikan perubahan itu. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga kenangan indah itu tetap hidup dalam hati kita. Meskipun dunia terus berubah, kenangan itu akan selalu ada.”

Devi menunduk, membiarkan air matanya mengalir. “Aku takut kehilangan semua itu, Kek. Aku takut kalau aku akan lupa bagaimana rasanya bahagia dengan hal-hal sederhana.”

Kakek merangkul Devi dengan lembut. “Kamu tidak akan lupa, Devi. Selama kamu terus mengingat dan menghargai kenangan itu, mereka akan selalu menjadi bagian dari dirimu.”

Saat itu, Devi merasa betapa berharganya kenangan masa lalu. Ia tahu bahwa meskipun dunia terus berubah, kenangan indah yang ia miliki bersama keluarga akan selalu menjadi bagian dari dirinya. Devi menyadari bahwa kenangan-kenangan itu adalah harta yang tak ternilai, yang harus dijaga dan dihargai.

Mereka melanjutkan membaca koran-koran lama, berbagi cerita dan tawa di antara halaman-halaman yang penuh sejarah. Devi merasa lebih dekat dengan kakeknya, dan setiap cerita yang mereka bagi semakin menguatkan ikatan mereka.

Sore harinya, ketika Devi harus pulang, kakeknya memberikan sebuah kotak kecil berisi beberapa koran lama yang paling berharga. “Bawa ini pulang, Devi. Simpanlah baik-baik. Ini adalah bagian dari sejarah kita, bagian dari kenangan yang ingin kakek kamu teruskan.”

Devi menerima kotak itu dengan perasaan campur aduk. “Terima kasih, Kek. Aku akan menjaganya dengan baik.”

Malam itu, di kamarnya, Devi membuka kotak tersebut dan membaca kembali koran-koran yang diberikan kakeknya. Ia merasakan kehangatan dan kebahagiaan, meskipun ada kesedihan yang menyelinap. Ia tahu bahwa kenangan itu tidak akan pernah bisa benar-benar kembali, tetapi dengan menjaga dan menghargai setiap momen, ia bisa membuat kenangan itu tetap hidup dalam hatinya.

Devi menutup kotak itu dengan hati-hati dan menyimpannya di tempat yang aman. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menghargai setiap momen berharga yang masih bisa ia nikmati bersama keluarganya, dan untuk menjaga kenangan-kenangan indah itu tetap hidup. Dengan tekad yang kuat, Devi merasa lebih siap menghadapi masa depan, dengan kenangan masa lalu yang selalu menyertainya.

 

Cerpen tentang koran yaitu “Mengenang Sebuah Koran Lama” mengingatkan kita bahwa di tengah arus perubahan dan kemajuan teknologi, ada nilai-nilai dan kenangan yang tetap abadi.

Devi menunjukkan kepada kita bahwa meskipun dunia terus berubah, kehangatan dan kebersamaan yang dihadirkan oleh kenangan masa lalu akan selalu hidup dalam hati kita.

Share:
Cinta

Cinta

Ketika dunia terasa gelap, kata-kata adalah bintang yang membimbing kita. Saya di sini untuk berbagi sinar kebijaksanaan dan harapan.

Leave a Reply