Definisi Belajar / Mencari Ilmu Menurut Para Ahli

Definisi40 Views

Belajar sering terdengar sederhana, tapi ketika masuk ke ruang kelas, ruang rapat, atau bahkan saat seseorang mencoba mengubah kebiasaan sehari hari, kata “belajar” berubah jadi konsep yang serius. Para ahli psikologi dan pendidikan sejak lama berusaha memberi batas yang jelas: kapan seseorang benar benar belajar, dan kapan ia hanya sekadar mengalami sesuatu tanpa perubahan yang berarti.

Mengapa definisi belajar bisa beragam

Perbedaan definisi biasanya lahir dari pertanyaan dasar yang berbeda. Ada ahli yang menilai belajar dari perilaku yang tampak, ada yang menekankan proses mental yang tidak terlihat, dan ada pula yang menggarisbawahi peran lingkungan sosial. Karena titik tekannya tidak sama, rumusannya pun tidak selalu identik, meski benang merahnya sering bertemu pada kata “perubahan” dan “pengalaman”.

Kalau ditarik ke praktik, perbedaan definisi ini berpengaruh ke cara guru mengajar, cara orang tua mendampingi anak, sampai cara perusahaan merancang pelatihan. Saat definisinya menekankan perubahan perilaku, yang dicari adalah bukti tindakan. Saat definisinya menekankan kemampuan atau disposisi, yang diuji adalah apakah seseorang kini mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa.

Definisi belajar dari perspektif psikologi

Psikologi pendidikan banyak membahas belajar sebagai perubahan yang terjadi karena pengalaman, bukan karena faktor bawaan atau sekadar bertambah usia. Salah satu ringkasan yang sering dipakai adalah bahwa belajar berkaitan dengan perubahan perilaku sebagai hasil pengalaman individu.

Perumusan ini penting karena ia membedakan “belajar” dari perubahan sesaat. Misalnya, orang yang menjadi lebih cepat marah karena kurang tidur bukan berarti ia belajar menjadi pemarah. Itu kondisi sementara.

Hilgard dan Bower: perubahan perilaku yang relatif menetap

Hilgard dan Bower menekankan belajar sebagai perubahan perilaku yang relatif menetap karena pengalaman berulang dalam situasi tertentu, dengan catatan perubahan itu bukan akibat kematangan biologis atau kondisi sementara seperti lelah atau pengaruh zat tertentu.

Definisi ini kuat untuk dunia pendidikan karena memberi batas: latihan dan pengalaman yang konsisten akan meninggalkan jejak, sehingga perilaku seseorang berbeda dibanding sebelumnya. Guru bisa menilai apakah siswa benar benar belajar dari konsistensi performa, bukan dari “sekali bisa” lalu hilang.

Kimble: perubahan potensi perilaku karena latihan yang diperkuat

Kimble merumuskan belajar sebagai perubahan yang relatif menetap pada “potensi perilaku”, yang terjadi sebagai hasil dari latihan yang diperkuat.

Istilah potensi perilaku membuat definisi ini menarik. Seseorang bisa saja belum menunjukkan perilaku baru setiap saat, tetapi ia sudah punya kemampuan dan kesiapan untuk melakukannya ketika situasi menuntut. Ini mirip siswa yang sudah paham konsep, hanya saja saat ujian ia gugup. Potensinya ada, tampilannya bisa dipengaruhi faktor lain.

Gagné: perubahan kemampuan yang bertahan dan bukan karena pertumbuhan

Gagné mendefinisikan belajar sebagai perubahan pada disposisi atau kemampuan manusia yang bertahan selama periode tertentu dan tidak bisa dijelaskan hanya sebagai akibat proses pertumbuhan.

Kata kunci dalam definisi ini adalah “bertahan” dan “bukan pertumbuhan”. Anak yang makin tinggi karena usia bukan belajar. Tapi anak yang makin terampil membaca karena latihan terstruktur, itu belajar. Dari kacamata Gagné, pembelajaran idealnya disusun bertahap, dari kemampuan sederhana menuju kemampuan yang lebih kompleks.

Cronbach: belajar terlihat dari perubahan perilaku akibat pengalaman

Cronbach menegaskan bahwa belajar ditunjukkan oleh perubahan perilaku sebagai hasil pengalaman.

Definisi ini sering dipakai di konteks evaluasi pendidikan karena mengingatkan bahwa belajar perlu indikator. Bukan berarti semua harus diukur dengan angka, tetapi tetap perlu tanda: pemahaman yang lebih rapi, cara kerja yang lebih efektif, atau keputusan yang lebih tepat dibanding sebelumnya.

Kingsley dan Garry: perilaku berasal atau berubah melalui latihan

Kingsley dan Garry menyebut belajar sebagai proses ketika perilaku, dalam arti luas, berasal atau berubah melalui latihan atau pelatihan.

Definisi ini terasa “praktis” untuk dunia pelatihan. Fokusnya pada proses latihan, sehingga desain belajar menuntut aktivitas nyata, bukan ceramah panjang tanpa kesempatan mencoba.

Bandura: belajar lewat pengamatan dan peniruan

Bandura lewat teori belajar sosial menekankan bahwa manusia dapat belajar dengan mengamati orang lain, termasuk meniru dan memodelkan perilaku.

Ini menjelaskan kenapa budaya kelas berpengaruh besar. Siswa belajar bukan hanya dari materi, tetapi juga dari contoh yang mereka lihat: cara guru menyelesaikan masalah, cara teman berdiskusi, sampai cara memberi umpan balik.

Definisi belajar menurut ahli pendidikan yang sering dipakai di Indonesia

Di literatur pendidikan Indonesia, definisi belajar sering disajikan dengan bahasa yang lebih dekat ke praktik sekolah. Meski rujukannya beragam, fokusnya konsisten: belajar adalah proses usaha yang menghasilkan perubahan yang menyeluruh.

Slameto: usaha untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru

Slameto menyatakan belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Kata “secara keseluruhan” penting. Ia mengingatkan bahwa belajar tidak sekadar menambah hafalan, melainkan menyentuh cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak. Karena itu, pembelajaran yang baik biasanya memberi ruang pengalaman, bukan hanya informasi.

Winkel: aktivitas mental dalam interaksi aktif yang meninggalkan bekas

Winkel menjelaskan belajar sebagai aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, serta nilai sikap, dan perubahan itu relatif konstan serta berbekas.

Definisi ini membantu ketika kita bicara “proses dalam kepala” yang sering tak terlihat. Siswa yang tampak diam belum tentu tidak belajar. Bisa jadi ia sedang memproses, menghubungkan, atau menata ulang pemahaman.

Oemar Hamalik: memodifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman

Hamalik menyebut belajar sebagai modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman.

Penekanan pada “memperteguh” membuat definisi ini cocok untuk menjelaskan latihan dan penguatan. Belajar bukan hanya membuat perilaku baru, tetapi juga membuat perilaku baik menjadi lebih stabil dan otomatis dilakukan.

Nana Sudjana: perubahan tingkah laku yang disadari

Sudjana dalam salah satu rujukan pendidikan menyebut belajar sebagai proses perubahan tingkah laku yang disadari.

Unsur “disadari” mengingatkan bahwa belajar idealnya melibatkan kesengajaan. Ada tujuan, ada perhatian, ada usaha. Ini berbeda dari perubahan kebiasaan yang terjadi tanpa refleksi.

Benang merah yang sering muncul di berbagai definisi

Kalau definisi para ahli itu disandingkan, ada beberapa unsur yang nyaris selalu hadir. Unsur unsur ini bisa dipakai sebagai “alat cek” ketika kita ingin memastikan apakah suatu aktivitas benar benar belajar atau hanya rutinitas.

• Ada perubahan, baik pada perilaku, kemampuan, pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.
• Perubahan itu terkait pengalaman, latihan, atau interaksi dengan lingkungan.
• Perubahan bersifat relatif menetap, bukan sekadar reaksi sementara.
• Perubahan bukan akibat pertumbuhan biologis semata atau kondisi sesaat.

Ciri belajar yang bisa dikenali dalam praktik

Masyarakat sering bertanya, “Kalau belajar itu proses batin, bagaimana cara mengenalinya?” Jawabannya: kita melihat indikator, bukan menebak isi kepala. Indikator itu bisa kecil, tapi konsisten.

Perubahan yang relatif stabil, bukan sekali berhasil

Belajar biasanya tampak ketika seseorang bisa mengulang performa baik di kesempatan berbeda. Konsep “relatif menetap” ini berulang dalam banyak definisi psikologi belajar.

Contohnya, siswa yang paham perkalian tidak hanya benar ketika disuruh menghafal satu soal, tetapi bisa menerapkan di variasi soal lain.

Ada peran pengalaman, latihan, dan umpan balik

Latihan tanpa umpan balik sering membuat orang merasa sibuk, tapi tidak berkembang. Di titik ini, pendekatan yang menekankan latihan dan penguatan menjadi relevan: latihan yang benar, diperkuat dengan koreksi, lebih mungkin membentuk kemampuan yang stabil.

Belajar juga bisa lahir dari meniru contoh yang tepat

Belajar tidak selalu harus “coba sendiri sampai gagal”. Dalam banyak situasi, manusia justru menghemat waktu dengan mengamati, meniru, lalu memodifikasi strategi yang berhasil. Inilah sisi sosial dari belajar yang ditekankan Bandura.

Di kelas, ini tampak ketika siswa memahami cara mengerjakan soal setelah melihat guru mencontohkan langkah berpikir, bukan hanya setelah membaca rumus.

Contoh sederhana: kapan seseorang benar benar belajar

Definisi para ahli jadi lebih terasa ketika dibawa ke contoh sehari hari. Di sinilah orang bisa menilai belajar secara jernih, tidak terjebak pada “yang penting sudah membaca”.

Di sekolah: dari tahu isi materi ke bisa menggunakannya

Siswa yang belajar sejarah bukan hanya mampu menyebut tanggal, tetapi bisa menjelaskan hubungan sebab akibat, membandingkan peristiwa, dan mengambil pelajaran untuk membaca situasi sekarang. Ini selaras dengan pandangan bahwa belajar menghasilkan perubahan pemahaman dan cara berpikir, bukan sekadar menambah informasi.

Di tempat kerja: kemampuan baru yang bertahan

Karyawan yang ikut pelatihan presentasi dianggap belajar jika setelah beberapa minggu ia lebih terstruktur, lebih percaya diri, dan mampu menyesuaikan gaya bicara sesuai audiens. Ini dekat dengan definisi “perubahan kemampuan yang bertahan” dan bukan sekadar semangat sesaat setelah workshop.

Di dunia digital: belajar lewat paparan, tapi harus berujung perubahan

Menonton video tutorial memasak bisa jadi belajar, bisa juga tidak. Ia menjadi belajar ketika orang itu mencoba, gagal, memperbaiki, lalu bisa mengulang dengan hasil lebih baik. Unsur pengalaman dan latihan kembali menjadi penentu.

Salah kaprah yang sering muncul saat membahas belajar

Di ruang publik, belajar sering disempitkan jadi menghafal, nilai rapor, atau banyaknya jam duduk di kelas. Padahal definisi para ahli lebih luas dan lebih tajam.

Belajar bukan sekadar menghafal

Hafalan bisa menjadi bagian dari belajar, tetapi belajar yang utuh biasanya menyentuh pemahaman dan penggunaan. Winkel misalnya menekankan perubahan dalam pengetahuan dan pemahaman, bukan hanya kumpulan informasi.

Belajar berbeda dari perubahan karena kondisi sementara

Seseorang yang menjadi lebih lambat berpikir karena kelelahan tidak sedang “belajar menjadi lambat”. Definisi yang menolak penjelasan berupa kondisi sementara atau kematangan biologis membantu kita memisahkan belajar dari faktor faktor sesaat.

Belajar juga bukan sekadar ramai aktivitas

Kegiatan belajar mengajar bisa terlihat sibuk, tapi tidak selalu efektif. Ukurannya tetap perubahan yang dapat dikenali, baik pada kemampuan, kebiasaan, atau cara menyelesaikan masalah, sesuai penekanan banyak ahli tentang perubahan akibat pengalaman.