Definisi ekowisata menjadi salah satu konsep pariwisata paling banyak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Istilah yang dahulu hanya dikenal dalam lingkup penelitian lingkungan ini kini berubah menjadi tren global, terutama ketika dunia semakin sadar akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Di Indonesia, konsep ini semakin relevan karena negeri ini dianugerahi kekayaan hayati, keunikan ekosistem, serta budaya lokal yang begitu beragam. Namun, apa sebenarnya makna ekowisata menurut para ahli? Bagaimana konsep ini berkembang hingga menjadi bagian penting dari industri pariwisata modern?
Artikel ini menghadirkan pembahasan lengkap mengenai definisi ekowisata menurut para ahli dengan gaya penulisan jurnalistik yang mendalam namun tetap ringan, serta memberikan gambaran bagaimana konsep ini diterapkan pada era pariwisata berkelanjutan 2026.
“Menurut saya, definisi ekowisata bukan sekadar berlibur ke alam, tetapi perjalanan yang penuh kesadaran bahwa setiap langkah wisatawan harus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat lokal.”
Memahami Istilah Ekowisata Secara Umum
Sebelum menelusuri definisi para ahli, penting memahami bahwa ekowisata berasal dari dua kata, yaitu “eko” yang berarti ekologis dan “wisata” yang berarti perjalanan atau turisme. Dari dua kata ini saja sudah dapat dipahami bahwa definisi ekowisata merupakan jenis wisata yang menempatkan lingkungan sebagai pusat perhatian.
Konsep dasar ekowisata memiliki tiga pilar utama yang diakui secara global, yaitu:
- Pelestarian lingkungan
- Pemberdayaan masyarakat lokal
- Pendidikan atau interpretasi lingkungan
Ketiga pilar ini menjadi pondasi banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli, lembaga internasional, maupun organisasi lingkungan.
Definisi Ekowisata Menurut Para Ahli dan Lembaga Internasional
Berbagai tokoh dan lembaga dunia memiliki pandangan yang sedikit berbeda namun saling melengkapi mengenai definisi ekowisata. Berikut adalah beberapa definisi penting yang menjadi rujukan dalam pengembangan konsep ini di tingkat global.
1. The International Ecotourism Society (TIES)
TIES mendefinisikan ekowisata sebagai perjalanan bertanggung jawab ke area alami yang menjaga kelestarian lingkungan, mempertahankan kesejahteraan masyarakat lokal, serta melibatkan interpretasi dan pendidikan.
Definisi ini menjadi standar internasional yang banyak diadopsi oleh negara negara di dunia. Fokus utamanya adalah tanggung jawab wisatawan dan keberlanjutan.
2. Hector Ceballos Lascuráin
Ceballos Lascuráin adalah tokoh yang dianggap sebagai pencetus awal istilah definisi ekowisata pada tahun 1980 an. Ia menyebut ekowisata sebagai perjalanan ke area alami yang tidak rusak dengan tujuan mengagumi dan mempelajari flora, fauna, serta manifestasi budaya masyarakat lokal.
Definisi ini sangat menekankan interaksi manusia dengan alam dan budaya asli.
3. World Conservation Union (IUCN)
IUCN mendefinisikan ekowisata sebagai jenis wisata alam yang mendukung konservasi lingkungan, mempertimbangkan nilai budaya masyarakat lokal, dan memberikan manfaat ekonomi kepada komunitas setempat.
Pendekatan IUCN lebih bersifat ekologis dan menekankan konservasi sebagai unsur paling penting.
4. C. Michael Hall
Menurut Hall, ekowisata adalah bentuk pariwisata alternatif yang fokus pada keaslian lingkungan, pengalaman edukatif, dan interaksi manusia dengan alam secara tidak merusak.
Hall menegaskan bahwa ekowisata harus memiliki nilai pendidikan yang tinggi.
5. Honey Martha
Honey menjelaskan bahwa ekowisata adalah wisata berbasis alam yang mengedepankan pembangunan berkelanjutan, etika konservasi, dan keuntungan sosial ekonomi bagi masyarakat lokal.
Pandangan Honey sangat relevan dengan diskusi mengenai etika pariwisata modern.
Persamaan dan Perbedaan Definisi Para Ahli
Jika diperhatikan secara menyeluruh, para ahli memiliki persamaan dalam konsep dasar definisi ekowisata, yaitu:
- Mengutamakan kelestarian alam
- Memberikan manfaat nyata bagi masyarakat
- Mendorong edukasi wisatawan
- Mengedepankan pengalaman autentik
Sementara perbedaannya terletak pada titik tekanan, apakah lebih kuat pada konservasi, pendidikan, atau kesejahteraan masyarakat.
Mengapa Ekowisata Menjadi Isu Penting di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, ekowisata bukan lagi sekadar sebuah pilihan, tetapi kebutuhan bagi daerah yang ingin mengembangkan pariwisata berkelanjutan. Ada beberapa alasan penting mengapa ekowisata menjadi sangat relevan.
1. Kesadaran Lingkungan Dunia Semakin Tinggi
Perubahan iklim, pemanasan global, hingga kerusakan ekosistem mengharuskan industri pariwisata beradaptasi dengan model yang ramah lingkungan.
2. Wisatawan Generasi Baru Mencari Pengalaman Autentik
Generasi muda seperti Gen Z cenderung memilih pengalaman alam yang tidak masif, lebih privat, dan memberikan nilai edukasi.
3. Pemerintah Banyak Mengembangkan Ekowisata
Banyak negara termasuk Indonesia memasukkan konservasi sebagai bagian penting dalam pembangunan pariwisata 2026.
4. Industri Pariwisata Mencari Model Jangka Panjang
Ekowisata dinilai lebih stabil karena tidak merusak alam, sehingga destinasi dapat terus dikembangkan.
Ciri dan Karakteristik Utama Ekowisata
Dalam berbagai literatur, definisi ekowisata memiliki beberapa ciri khas utama yang membedakannya dari jenis wisata lainnya.
1. Berbasis Alam
Ekowisata selalu dilakukan dalam lingkungan natural seperti hutan, gunung, sungai, pesisir, dan kawasan konservasi.
2. Minim Dampak Lingkungan
Wisatawan dan penyedia jasa diminta meminimalkan jejak karbon, tidak merusak vegetasi, dan menjaga keanekaragaman hayati.
3. Memiliki Nilai Edukasi
Ekowisata harus melibatkan pengetahuan baru mengenai alam, flora, fauna, atau budaya lokal.
4. Menguntungkan Komunitas Lokal
Bukan hanya melalui ekonomi, tetapi juga dari pelestarian tradisi.
5. Menjaga Keaslian Lingkungan
Tidak ada pembangunan besar besaran, melainkan fasilitas sederhana tetapi tetap layak.
Penerapan Konsep Ekowisata dalam Kehidupan Nyata
Ekowisata bukan hanya teori. Banyak contoh nyata yang menggambarkan bagaimana konsep ini berjalan secara ideal.
1. Desa Wisata Berbasis Konservasi
Banyak desa di Indonesia seperti Wae Rebo, Penglipuran, atau Desa Wisata Nglanggeran mengembangkan wisata ramah lingkungan sekaligus mempertahankan nilai budaya.
2. Taman Nasional yang Dikelola Berkelanjutan
Kawasan seperti Taman Nasional Komodo, Tanjung Puting, dan Gunung Leuser mendorong definisi ekowisata untuk mendukung perlindungan satwa dan ekosistem.
3. Ekowisata Bahari
Aktivitas snorkeling atau diving dilakukan dengan memperhatikan kondisi terumbu karang, jumlah wisatawan, dan penggunaan peralatan ramah lingkungan.
4. Wisata Edukasi
Program trekking, tur interpretasi, hingga pengamatan burung menjadi bagian dari kegiatan ekowisata global.
Manfaat Ekowisata bagi Lingkungan dan Masyarakat
Trend ekowisata semakin berkembang karena memberikan manfaat berkelanjutan bagi berbagai pihak.
1. Menjaga kelestarian ekosistem
Ekowisata memastikan bahwa alam tetap menjadi prioritas.
2. Meningkatkan ekonomi masyarakat lokal
Pendapatan dari tiket masuk, homestay, kuliner lokal, dan kerajinan meningkatkan kesejahteraan warga.
3. Melestarikan budaya
Ekowisata menjaga agar tradisi tetap hidup karena dijadikan daya tarik.
4. Edukasi lingkungan
Wisatawan belajar memahami pentingnya alam dan konservasi.
Tantangan Ekowisata Modern
Walaupun memiliki banyak manfaat, definisi ekowisata juga menghadapi sejumlah tantangan.
1. Over kapasitas wisata
Ketidakseimbangan jumlah pengunjung dapat merusak alam.
2. Komersialisasi berlebihan
Terkadang ekowisata berubah hanya menjadi pemasaran tanpa praktik nyata.
3. Kurangnya edukasi wisatawan
Tidak semua wisatawan memahami cara berwisata ramah lingkungan.
4. Konflik lahan
Pembangunan pariwisata sering bersinggungan dengan kepentingan konservasi.
Kesesuaian Definisi Ekowisata dengan Realita Indonesia
Indonesia merupakan negara yang sangat cocok untuk pengembangan ekowisata karena kekayaan alam dan budaya tersebar hampir di seluruh wilayah. Mulai dari hutan tropis, pegunungan, pesisir, hingga komunitas adat, semuanya memiliki potensi besar sebagai destinasi ekowisata bertaraf dunia.
Namun, penerapan ekowisata harus tetap mengacu pada unsur unsur ilmiah yang dijelaskan para ahli, yaitu konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan edukasi.
Pandangan Penulis tentang Ekowisata
“Ekowisata bukan hanya konsep wisata, tetapi sebuah komitmen untuk melihat alam sebagai guru, bukan sekadar objek foto. Jika wisatawan memahami hal ini, ekowisata akan menjadi gerakan besar bagi keberlanjutan lingkungan.”
