Visi Manufaktur Hijau menjadi kata kunci yang paling sering terdengar di koridor pertemuan WEF 2026, terutama ketika delegasi Indonesia membawa narasi baru tentang industri yang tidak lagi sekadar mengejar kapasitas produksi, tetapi juga jejak karbon yang lebih ringan, rantai pasok yang lebih bersih, dan nilai tambah domestik yang lebih kuat. Di tengah tekanan global terhadap emisi dan transparansi ESG, Danantara tampil dengan tawaran yang terdengar sederhana namun menuntut perubahan besar: manufaktur harus tetap kompetitif, namun tidak boleh lagi dibangun di atas energi kotor, pemborosan material, dan praktik pasok yang sulit ditelusuri.
Danantara memosisikan diri bukan hanya sebagai pemodal atau fasilitator, melainkan sebagai penghubung antara kebutuhan industri, arah kebijakan, dan ekspektasi investor internasional. Di panggung WEF, pendekatan itu diterjemahkan menjadi paket gagasan yang memadukan industrialisasi, transisi energi, serta standardisasi pengukuran emisi. “Kalau manufaktur Indonesia ingin naik kelas, ia harus bisa menjual produk sekaligus menjual cerita: dari mana energinya berasal, seberapa efisien pabriknya, dan bagaimana dampaknya bagi lingkungan,” ujar seorang peserta forum yang mengikuti sesi tertutup bersama delegasi.
WEF 2026, Danantara, dan panggung baru Visi Manufaktur Hijau
WEF 2026 kembali menjadi ajang adu narasi antarnegara tentang bagaimana ekonomi dapat tumbuh tanpa memperdalam krisis iklim. Di berbagai sesi, tema dekarbonisasi industri muncul sebagai salah satu titik temu, karena sektor manufaktur menyumbang porsi emisi besar sekaligus menjadi tulang punggung ekspor banyak negara. Dalam konteks itu, Danantara membaca momentum: semakin banyak perusahaan global yang mensyaratkan pemasoknya memiliki jejak emisi terukur, strategi pengurangan emisi, serta akses energi terbarukan yang kredibel.
Delegasi Danantara menekankan bahwa Indonesia memiliki peluang unik karena berada di persimpangan dua kebutuhan dunia: kebutuhan akan basis produksi yang kompetitif dan kebutuhan akan pasokan material strategis untuk transisi energi. Namun, peluang itu hanya akan menjadi keuntungan jangka panjang jika industrialisasi berjalan dengan tata kelola lingkungan yang ketat. Di WEF, Danantara menyampaikan bahwa transformasi industri tidak bisa lagi dianggap sebagai urusan internal pabrik; ia menyentuh reputasi negara, akses pembiayaan, hingga daya saing ekspor.
Di ruang diskusi, konsep yang ditawarkan bukan sekadar mengganti sumber listrik pabrik. Danantara menekankan Visi Manufaktur Hijau sebagai kerangka menyeluruh yang mencakup efisiensi energi, desain produk yang lebih mudah didaur ulang, pengendalian limbah, serta keterlacakan rantai pasok. Bagi investor, kerangka semacam ini memberi sinyal bahwa proyek industri di Indonesia dapat memenuhi standar kepatuhan yang semakin ketat di pasar utama.
Peta jalan investasi: Visi Manufaktur Hijau sebagai bahasa baru bagi modal
Dalam percakapan investasi global, istilah “hijau” sering kali memicu skeptisisme karena dianggap sekadar label pemasaran. Danantara mencoba mematahkan skeptisisme itu dengan menempatkan indikator sebagai pusat pembahasan. Visi Manufaktur Hijau, menurut paparan yang beredar di kalangan peserta, diterjemahkan ke dalam metrik yang bisa diaudit: intensitas energi per unit output, persentase energi terbarukan, penurunan emisi Scope 1 dan 2, serta rencana pengelolaan Scope 3 melalui pemasok.
Pendekatan ini penting karena investor institusi tidak lagi cukup diyakinkan oleh komitmen umum. Mereka meminta rencana yang dapat diukur, jadwal implementasi, serta mekanisme pelaporan. Danantara menawarkan model pembiayaan yang mengaitkan biaya modal dengan kinerja lingkungan. Dengan kata lain, pabrik yang mencapai target efisiensi dan emisi tertentu bisa mendapatkan insentif pembiayaan, sementara yang tidak mencapai target akan menghadapi biaya yang lebih tinggi.
Di forum WEF, Danantara juga menyinggung kebutuhan akan “bankability” proyek hijau. Banyak proyek transisi industri gagal bukan karena teknologinya tidak ada, melainkan karena struktur pembiayaannya tidak cocok: tenor terlalu pendek, risiko regulasi tidak jelas, atau pendapatan belum stabil. Danantara mendorong penggunaan instrumen seperti sustainability linked loan, green bond, dan skema blended finance yang melibatkan lembaga multilateral. Tujuannya membuat proyek manufaktur yang lebih bersih tetap menarik secara finansial.
“Transisi industri itu bukan perlombaan slogan, melainkan perlombaan angka. Siapa yang bisa membuktikan penurunan emisi tanpa mengorbankan produktivitas, dia yang akan memenangi pasar,” demikian sebuah pandangan yang terdengar di sela sesi, menggambarkan suasana WEF yang semakin teknokratis.
Dari energi ke proses: Visi Manufaktur Hijau di lantai pabrik
Perubahan paling nyata dari Visi Manufaktur Hijau adalah pergeseran fokus dari sekadar ekspansi kapasitas ke peningkatan kualitas proses. Danantara menekankan bahwa banyak pabrik di negara berkembang masih memiliki ruang besar untuk efisiensi, mulai dari motor listrik, boiler, sistem pendingin, hingga manajemen beban puncak. Efisiensi sering kali menjadi “energi termurah” karena penghematan biaya langsung terasa di neraca perusahaan.
Di WEF, pembahasan mengarah pada langkah teknis yang bisa segera dilakukan: audit energi berkala, pemasangan sensor untuk pemantauan konsumsi real time, perbaikan faktor daya, pemulihan panas buang, serta modernisasi peralatan yang boros. Pada industri tertentu, seperti semen dan baja, pembicaraan juga menyentuh opsi bahan bakar alternatif, substitusi klinker, hingga teknologi penangkapan karbon yang masih mahal namun mulai diujicobakan.
Selain energi, Visi Manufaktur Hijau menuntut perubahan dalam desain proses produksi. Efisiensi material menjadi kata kunci, karena limbah bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga pemborosan biaya. Danantara mendorong penerapan prinsip lean manufacturing yang dipadukan dengan circularity, misalnya pengurangan scrap, penggunaan kembali air proses, dan pemanfaatan sisa produksi menjadi input untuk lini lain.
Isu lain yang mengemuka adalah pengendalian polutan lokal. WEF tidak hanya berbicara CO2, tetapi juga partikulat, NOx, SOx, dan limbah cair yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Dalam konteks Indonesia, ini menjadi sensitif karena beberapa kawasan industri berdekatan dengan permukiman. Danantara menilai peningkatan standar emisi lokal akan menjadi bagian dari peningkatan daya saing, bukan sekadar beban kepatuhan.
Rantai pasok yang bisa dilacak: Visi Manufaktur Hijau dan tuntutan pasar ekspor
Jika satu dekade lalu pabrik cukup menunjukkan sertifikat kualitas dan ketepatan pengiriman, kini pasar ekspor menuntut hal yang lebih rumit: keterlacakan. Di WEF 2026, diskusi seputar aturan karbon lintas batas, kewajiban pelaporan emisi, serta uji tuntas rantai pasok semakin intens. Danantara memanfaatkan panggung ini untuk menegaskan bahwa Visi Manufaktur Hijau harus menjangkau pemasok, bukan berhenti di gerbang pabrik.
Di sektor elektronik, otomotif, tekstil, dan komponen energi terbarukan, perusahaan global mulai meminta data emisi per komponen, sumber bahan baku, hingga kepatuhan terhadap standar lingkungan tertentu. Danantara menggarisbawahi bahwa perusahaan Indonesia yang tidak siap akan menghadapi risiko: kehilangan kontrak, terkena penalti, atau terjebak di segmen pasar bernilai rendah.
Karena itu, Danantara mendorong pembangunan sistem data yang mampu mengumpulkan informasi dari pemasok tingkat pertama hingga tingkat berikutnya. Ini menyangkut penggunaan platform digital untuk pelaporan emisi, standar perhitungan yang seragam, serta mekanisme verifikasi pihak ketiga. Tantangannya besar: banyak pemasok kecil belum memiliki kapasitas pengukuran, apalagi sistem pelaporan.
Dalam pembahasan, muncul gagasan pembinaan pemasok sebagai bagian dari strategi industri. Pabrik besar dapat menjadi “anchor” yang membantu pemasoknya melakukan audit energi, mengganti peralatan, atau mengakses pembiayaan hijau skala kecil. Visi Manufaktur Hijau, dalam pengertian ini, bergerak dari proyek individual menjadi ekosistem.
Kawasan industri sebagai laboratorium: Visi Manufaktur Hijau yang dibangun bersama
Danantara menempatkan kawasan industri sebagai titik tumpu karena di sanalah energi, air, limbah, logistik, dan tata ruang bertemu. Di WEF 2026, konsep kawasan industri rendah karbon dibicarakan sebagai cara mempercepat transisi tanpa membebani setiap pabrik untuk membangun infrastruktur sendiri. Modelnya mirip: pembangkit energi terbarukan atau pasokan listrik hijau terpusat, sistem pengolahan air terpadu, fasilitas daur ulang, hingga manajemen limbah B3 yang lebih terstandar.
Dalam kerangka Visi Manufaktur Hijau, kawasan industri juga memungkinkan simbiosis industri. Sisa panas dari satu pabrik bisa dimanfaatkan pabrik lain, limbah organik bisa menjadi biogas, dan residu proses tertentu bisa menjadi bahan baku sektor berbeda. Konsep ini sudah lama dibicarakan, tetapi WEF menunjukkan bahwa tekanan pasar membuatnya semakin relevan, karena efisiensi kolektif dapat menurunkan biaya sekaligus emisi.
Danantara menyoroti pentingnya tata kelola kawasan. Tanpa standar bersama, kawasan industri bisa menjadi kumpulan pabrik yang masing masing mengejar efisiensi sendiri, namun gagal menurunkan dampak total. Karena itu, dibutuhkan pengelola kawasan yang memiliki mandat lingkungan yang jelas, sistem pemantauan, serta insentif bagi tenant yang berinvestasi pada teknologi bersih.
Di sisi lain, kawasan industri juga menjadi tempat paling nyata untuk menguji kebijakan. Misalnya, penerapan tarif listrik hijau, skema sertifikat energi terbarukan, atau aturan pengelolaan air. Dengan pendekatan pilot, pemerintah dan pelaku industri dapat melihat apa yang berhasil sebelum memperluasnya ke wilayah lain.
Tenaga kerja dan keterampilan: Visi Manufaktur Hijau tidak bisa tanpa manusia
Transisi industri sering dibahas dalam bahasa teknologi, padahal perubahan paling sulit kerap terjadi pada aspek manusia: keterampilan, kebiasaan kerja, dan budaya keselamatan. Di WEF 2026, Danantara menyinggung bahwa Visi Manufaktur Hijau hanya bisa berjalan jika tenaga kerja dilibatkan, bukan sekadar menjadi objek perubahan.
Kebutuhan keterampilan baru muncul di banyak titik. Operator perlu memahami sistem pemantauan energi, teknisi perlu mampu merawat peralatan efisiensi tinggi, dan manajer pabrik perlu menguasai pelaporan emisi serta kepatuhan ESG. Di level yang lebih tinggi, perusahaan membutuhkan ahli yang bisa menyusun strategi dekarbonisasi, melakukan analisis siklus hidup produk, dan menegosiasikan standar dengan pembeli internasional.
Danantara mendorong kolaborasi antara industri, lembaga pendidikan, dan pemerintah untuk program reskilling. Ini bukan hanya soal pelatihan singkat, melainkan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pabrik modern. WEF juga menyoroti risiko ketimpangan: jika transisi hijau hanya dinikmati oleh perusahaan besar, sementara pemasok kecil tertinggal, maka rantai pasok akan rapuh.
Dalam konteks Indonesia, isu lain adalah keselamatan kerja dan kesehatan lingkungan. Pabrik yang lebih bersih sering berarti paparan polutan lebih rendah bagi pekerja. Namun, teknologi baru juga membawa risiko baru, misalnya penanganan baterai, bahan kimia tertentu, atau sistem listrik tegangan tinggi. Visi Manufaktur Hijau menuntut peningkatan standar K3 yang sejalan dengan modernisasi.
Industri strategis dan pertaruhan reputasi: Visi Manufaktur Hijau di sektor bernilai tinggi
WEF 2026 memperlihatkan bagaimana industri strategis menjadi arena pertarungan reputasi. Baterai, kendaraan listrik, panel surya, dan komponen jaringan listrik adalah sektor yang tumbuh cepat, tetapi juga diawasi ketat karena rantai pasoknya kompleks dan rawan isu lingkungan. Danantara membawa pesan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi lokasi ekstraksi dan pemrosesan awal, melainkan harus naik ke manufaktur bernilai tambah dengan standar lingkungan yang kuat.
Dalam pembicaraan tentang baterai, misalnya, tekanan datang dari dua arah: kebutuhan produksi besar dan tuntutan jejak karbon rendah. Pabrik katoda, anoda, hingga perakitan sel baterai membutuhkan listrik stabil dan, idealnya, rendah emisi. Jika listrik berasal dari sumber beremisi tinggi, produk bisa kehilangan daya saing di pasar yang menerapkan standar karbon.
Di sektor logam dasar seperti baja dan aluminium, isu utamanya adalah intensitas energi. WEF menampilkan berbagai studi kasus tentang penggunaan hidrogen, listrik terbarukan, dan peningkatan efisiensi proses. Danantara menempatkan Indonesia sebagai negara yang dapat memanfaatkan potensi energi terbarukan untuk mengurangi intensitas karbon produk logam, terutama jika investasi infrastruktur energi berjalan paralel dengan ekspansi industri.
Sementara itu, industri tekstil dan alas kaki menghadapi tuntutan berbeda: air, bahan kimia, dan limbah. Pembeli global semakin ketat terhadap penggunaan zat berbahaya, pengolahan air limbah, serta transparansi pemasok. Visi Manufaktur Hijau, dalam sektor ini, lebih banyak berbicara tentang teknologi pengolahan, substitusi bahan kimia, dan desain produk yang lebih mudah didaur ulang.
Regulasi, insentif, dan akuntabilitas: Visi Manufaktur Hijau butuh pagar yang tegas
Di WEF 2026, banyak pihak sepakat bahwa pasar saja tidak cukup untuk mendorong transisi industri. Tanpa regulasi yang jelas, perusahaan yang berinvestasi pada teknologi bersih bisa kalah bersaing dari perusahaan yang memilih jalan murah dengan mengabaikan dampak lingkungan. Danantara menekankan bahwa Visi Manufaktur Hijau memerlukan kombinasi insentif dan penegakan.
Insentif yang dibicarakan mencakup keringanan pajak untuk investasi efisiensi energi, percepatan perizinan untuk pabrik yang memenuhi standar tertentu, serta dukungan pembiayaan untuk proyek energi terbarukan di kawasan industri. Namun insentif harus disertai syarat yang terukur, agar tidak berubah menjadi subsidi tanpa hasil.
Pada saat yang sama, akuntabilitas menjadi isu utama. Pelaporan emisi dan dampak lingkungan harus bisa diverifikasi. WEF menyoroti risiko greenwashing yang dapat merusak kredibilitas negara dan perusahaan. Danantara mengisyaratkan perlunya sistem MRV measurement reporting verification yang kuat, termasuk penggunaan auditor independen dan standar yang diakui internasional.
Aspek lain yang mengemuka adalah kepastian kebijakan. Investor membutuhkan kejelasan tentang arah tarif energi, aturan sertifikat energi terbarukan, dan rencana pembangunan jaringan listrik. Tanpa kepastian, proyek pabrik rendah karbon sulit dihitung kelayakannya. Visi Manufaktur Hijau, pada akhirnya, menuntut sinkronisasi lintas kementerian dan konsistensi kebijakan yang tidak berubah drastis dalam waktu singkat.
Teknologi digital dan data emisi: Visi Manufaktur Hijau menjadi soal transparansi
Jika ada satu tema yang menyatukan pembicaraan industri di WEF 2026, itu adalah data. Danantara menempatkan digitalisasi sebagai alat untuk mempercepat Visi Manufaktur Hijau, bukan sebagai tujuan terpisah. Sensor, sistem manajemen energi, platform pelaporan, dan analitik menjadi perangkat untuk membuat emisi terlihat, karena sesuatu yang tidak terukur sulit diturunkan.
Pabrik yang mengadopsi sistem pemantauan real time dapat mengidentifikasi pemborosan energi, kebocoran udara bertekanan, atau mesin yang bekerja di luar parameter optimal. Dalam skala besar, data ini bisa digunakan untuk memprediksi kebutuhan perawatan, mengurangi downtime, dan meningkatkan kualitas produk. Efeknya ganda: biaya turun, emisi turun.
Namun, data emisi juga membawa persoalan tata kelola. Siapa yang memiliki data, bagaimana data dibagikan ke pembeli, bagaimana melindungi rahasia dagang, dan bagaimana memastikan integritas data. Danantara menilai bahwa standar interoperabilitas perlu dibangun agar perusahaan tidak terjebak pada satu vendor atau sistem tertutup yang menyulitkan audit.
Di sisi pasar, transparansi data menjadi tiket masuk. Banyak pembeli global mulai meminta product carbon footprint, bahkan untuk komponen kecil. Visi Manufaktur Hijau akan sulit diterapkan jika perusahaan tidak memiliki kemampuan menghitung emisi per produk dengan metodologi yang konsisten.
Diplomasi ekonomi di balik panggung: Visi Manufaktur Hijau sebagai tawaran kerja sama
WEF selalu menjadi ruang diplomasi ekonomi yang bergerak cepat, sering kali di luar sorotan sesi utama. Danantara memanfaatkan ruang ini untuk menjajaki kemitraan teknologi, pembiayaan, dan akses pasar. Visi Manufaktur Hijau dijadikan bahasa bersama untuk menghubungkan kepentingan yang berbeda: negara maju ingin rantai pasok rendah karbon, negara berkembang ingin investasi dan pekerjaan, investor ingin kepastian dan imbal hasil.
Dalam pertemuan bilateral dan diskusi kelompok kecil, topik yang mengemuka mencakup pembangunan pembangkit energi terbarukan untuk kawasan industri, pengembangan infrastruktur jaringan, serta pabrik komponen untuk transisi energi. Danantara menempatkan Indonesia sebagai lokasi yang bisa menawarkan skala, tenaga kerja, dan akses bahan baku, sekaligus berkomitmen meningkatkan standar lingkungan.
Kerja sama juga menyentuh sisi pembiayaan iklim. Banyak dana global mencari proyek yang tidak hanya hijau di atas kertas, tetapi juga memiliki dampak nyata dan terukur. Danantara mencoba mengemas proyek manufaktur sebagai bagian dari agenda iklim yang lebih luas, sehingga dapat mengakses sumber pendanaan yang sebelumnya lebih banyak mengalir ke sektor energi atau konservasi.
Di tengah dinamika geopolitik, Visi Manufaktur Hijau juga menjadi alat untuk mengurangi risiko konsentrasi rantai pasok. Banyak perusahaan global ingin mendiversifikasi produksi, namun tidak mau memindahkan risiko lingkungan ke negara lain. Dengan menawarkan standar yang lebih tinggi, Indonesia berharap dapat menjadi pilihan yang lebih aman secara reputasi.
Tantangan yang tidak bisa disembunyikan: Visi Manufaktur Hijau dan realitas di lapangan
Di balik panggung WEF yang rapi, tantangan implementasi tetap besar. Danantara mengakui, dalam berbagai kesempatan, bahwa transisi industri membutuhkan biaya awal yang tidak kecil. Banyak perusahaan, terutama skala menengah, menghadapi dilema: investasi efisiensi dan teknologi bersih bersaing dengan kebutuhan ekspansi, pembayaran utang, atau tekanan harga dari pembeli.
Ketersediaan energi terbarukan yang andal juga menjadi isu. Pabrik membutuhkan listrik stabil 24 jam, sementara sebagian sumber terbarukan bersifat intermiten. Ini menuntut investasi pada jaringan, sistem penyimpanan, dan manajemen beban. Tanpa itu, Visi Manufaktur Hijau bisa berubah menjadi sekadar target yang sulit dicapai.
Masalah lain adalah kesenjangan kapasitas. Perusahaan besar mungkin mampu menyusun inventaris emisi dan laporan keberlanjutan, tetapi pemasok kecil sering tidak punya tenaga ahli atau anggaran. Jika rantai pasok tidak ikut berubah, perusahaan besar tetap akan kesulitan memenuhi tuntutan Scope 3 yang semakin ketat.
Penegakan aturan lingkungan juga menjadi titik krusial. Jika standar hanya berlaku di atas kertas, perusahaan yang patuh akan merasa dirugikan. Danantara mendorong agar kebijakan tidak hanya memberi insentif, tetapi juga memastikan level playing field melalui pengawasan yang konsisten.
“Yang sering dilupakan, manufaktur hijau bukan sekadar mengganti energi, melainkan mengganti cara kita mengambil keputusan: dari mengejar murah hari ini menjadi menghitung risiko lima sampai sepuluh tahun ke depan,” sebuah pandangan yang mencerminkan perubahan pola pikir yang dituntut oleh Visi Manufaktur Hijau.
Agenda yang dibawa pulang: Visi Manufaktur Hijau sebagai pekerjaan rumah nasional
Setelah sesi dan pertemuan di WEF 2026, pekerjaan terbesar justru dimulai ketika delegasi kembali ke dalam negeri. Danantara membawa pulang daftar isu yang harus dijawab secara konkret: proyek mana yang bisa menjadi etalase manufaktur rendah karbon, kawasan industri mana yang siap menjadi percontohan, dan instrumen pembiayaan apa yang paling cepat dieksekusi.
Di level industri, perusahaan perlu memetakan baseline emisi, menentukan prioritas investasi, dan membangun sistem pelaporan. Di level kawasan, pengelola perlu menyiapkan infrastruktur bersama yang mendukung listrik hijau, pengolahan air, dan pengelolaan limbah. Di level kebijakan, pemerintah perlu memastikan regulasi dan insentif bergerak searah.
WEF 2026 menegaskan bahwa kompetisi industri global kini tidak hanya soal upah dan logistik, tetapi juga soal karbon, air, dan transparansi. Danantara menempatkan Visi Manufaktur Hijau sebagai cara untuk mengubah posisi Indonesia dari sekadar lokasi produksi menjadi mitra industri yang dipercaya. Dalam peta perdagangan yang semakin sensitif terhadap jejak lingkungan, arah ini bukan lagi pilihan kosmetik, melainkan syarat untuk tetap relevan di pasar yang bergerak cepat.






