Sekolah Rakyat Sumedang Dikebut, Stick on Wall Pangkas Waktu Finishing Pemerintah mempercepat pembangunan Sekolah Rakyat Sumedang agar kompleks pendidikan berasrama tersebut dapat segera digunakan secara penuh. Salah satu langkah yang ditempuh Kementerian Pekerjaan Umum adalah menerapkan metode Stick on Wall pada sebagian pekerjaan penyelesaian dinding.
Metode tersebut dipilih untuk mengurangi waktu yang biasanya dibutuhkan dalam pekerjaan plesteran dan acian. Kebutuhan menyelesaikan banyak bangunan dalam waktu berdekatan membuat pengelola proyek tidak hanya menambah jumlah pekerja, tetapi juga mencari cara kerja yang dapat memangkas tahapan konstruksi.
Berdasarkan pembaruan Kementerian PU, progres fisik proyek telah mencapai 87,39 persen per 29 Juni 2026. Kompleks Sekolah Rakyat Sumedang berdiri di atas lahan sekitar 7,3 hektare dengan total luas bangunan 27.372 meter persegi. Pembangunan saat itu melibatkan sekitar 820 tenaga kerja.
Sekolah ini disiapkan sebagai kawasan pendidikan terintegrasi untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Selain gedung belajar, pemerintah membangun asrama, laboratorium, tempat ibadah, dapur, kantin, gedung serbaguna, serta sejumlah fasilitas olahraga.
Stick on Wall Dipakai pada Tahap Penyelesaian Dinding
Pekerjaan struktur utama bukan satu satunya bagian yang menentukan waktu penyelesaian sebuah bangunan. Ketika struktur, atap, dan pasangan dinding sudah berdiri, masih terdapat pekerjaan penyelesaian yang membutuhkan banyak tenaga serta ketelitian.
Kepala Satuan Kerja Prasarana Strategis Jawa Barat, Tomi Hendratno, menjelaskan bahwa metode Stick on Wall digunakan untuk mempercepat penyelesaian plesteran dan acian. Langkah tersebut dilakukan bersama penambahan tenaga kerja menjelang pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Tahun Ajaran 2026/2027.
Pada metode konvensional, permukaan bata biasanya dilapisi mortar plester, diratakan, lalu diberi lapisan acian. Setiap tahapan membutuhkan pencampuran bahan, pemasangan, pemeriksaan kerataan, waktu pengeringan, serta perbaikan apabila ditemukan retakan atau permukaan bergelombang.
Stick on Wall mengganti sebagian tahapan basah tersebut dengan lembaran penutup yang direkatkan secara langsung pada dinding. Penelitian konstruksi mengenai metode ini menjelaskan bahwa material berbentuk papan dipasang pada dinding bata ringan memakai bahan perekat. Sambungan dan permukaannya kemudian diselesaikan agar siap menerima cat atau lapisan akhir.
Kementerian PU belum memerinci jenis papan yang digunakan pada proyek Sumedang dalam keterangan resminya. Karena itu, materialnya tidak dapat langsung disamakan dengan proyek lain. Pada Sekolah Rakyat Kabupaten Bandung, misalnya, Kementerian PU secara khusus menyebut penggunaan bahan UPVC untuk sistem serupa.
Tahapan Basah Dapat Dikurangi
Kecepatan Stick on Wall berasal dari berkurangnya sejumlah pekerjaan yang bergantung pada campuran semen dan air. Pekerja tidak perlu melakukan plesteran tebal pada seluruh permukaan, kemudian menunggu lapisan tersebut cukup kering sebelum masuk ke pekerjaan acian.
Papan yang telah diproduksi dengan ukuran dan ketebalan tertentu dapat langsung dibawa ke area pemasangan. Setelah kondisi dinding diperiksa, bahan perekat ditempatkan pada titik atau bidang yang telah ditentukan, lalu papan ditempel dan diratakan.
Cara tersebut memungkinkan beberapa kelompok pekerja bergerak secara bersamaan. Satu kelompok menyiapkan permukaan dan ukuran papan, kelompok lain memasang bahan perekat, sedangkan pekerja berikutnya menangani sambungan serta pemeriksaan hasil.
Produsen bahan gipsum yang menyediakan sistem Stick on Wall menyebut metode tersebut dapat menghemat kebutuhan tenaga, mempermudah pekerjaan, memperpendek waktu pelaksanaan, dan menghasilkan permukaan yang rapi. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada kemampuan pekerja, kondisi dinding, jenis papan, mutu perekat, serta pengawasan di lapangan.
Menurut penulis, teknologi konstruksi baru layak digunakan bukan hanya karena cepat. Pemerintah juga harus memastikan permukaan dinding tetap rata, kuat, mudah dirawat, dan sesuai dengan kebutuhan bangunan sekolah berasrama.
Penelitian Menunjukkan Waktu Kerja Bisa Berkurang
Sebuah penelitian pada proyek apartemen di Jakarta Timur pernah membandingkan Stick on Wall dengan pekerjaan plester dan nat secara konvensional. Pada proyek tersebut, metode papan yang direkatkan tercatat 74,58 persen lebih cepat dengan selisih waktu pekerjaan mencapai 52 hari.
Studi yang sama menghitung biaya Stick on Wall sekitar 0,74 persen lebih rendah dibandingkan metode pembanding setelah memasukkan kebutuhan material serta pengangkutan. Hasil tersebut hanya berlaku pada proyek yang diteliti dan tidak dapat langsung diterapkan sebagai angka penghematan Sekolah Rakyat Sumedang.
Setiap proyek mempunyai luas dinding, jumlah lantai, lokasi pemasok, biaya pekerja, jenis material, dan keadaan lapangan yang berbeda. Harga papan atau perekat juga dapat berubah berdasarkan volume pembelian serta jarak pengiriman.
Pada proyek Sumedang, manfaat utama yang diumumkan pemerintah adalah percepatan waktu. Belum ada laporan terbuka mengenai perbandingan biaya antara Stick on Wall dan plester aci yang digunakan pada kompleks tersebut.
Informasi biaya penting karena proyek pemerintah tidak hanya dinilai dari kecepatan. Penggunaan metode baru harus dapat dipertanggungjawabkan melalui volume pekerjaan, harga satuan, spesifikasi bahan, hasil pemeriksaan, serta masa pemeliharaan.
Mutu Perekat dan Kerataan Dinding Harus Dijaga
Papan yang ditempelkan pada permukaan tidak otomatis menghasilkan dinding yang kuat. Dinding dasar harus cukup bersih, kering, stabil, dan tidak memiliki bagian rapuh yang dapat membuat perekat kehilangan ikatan.
Kerataan juga perlu diperiksa sebelum pemasangan. Apabila dinding dasar terlalu bergelombang, papan berisiko membentuk rongga, menonjol pada titik tertentu, atau menghasilkan pertemuan yang tidak sama rata.
Perekat harus digunakan sesuai ketebalan dan pola pemasangan yang ditentukan. Jumlah yang terlalu sedikit dapat mengurangi kekuatan ikatan, sedangkan penempatan yang tidak merata dapat membuat sebagian bidang tidak memperoleh penyangga memadai.
Pertemuan antarpapan merupakan bagian lain yang membutuhkan perhatian. Sambungan harus ditutup dengan bahan yang sesuai agar garis pertemuan tidak terlihat setelah pengecatan. Kesalahan pada sambungan dapat menimbulkan retak rambut atau permukaan bergelombang.
Bangunan sekolah juga mempunyai tingkat penggunaan tinggi. Dinding dapat terkena benturan dari meja, kursi, barang bawaan, atau kegiatan siswa. Pemilihan jenis papan harus mempertimbangkan ruang yang dipasang, tingkat kelembapan, kemungkinan benturan, serta kemudahan perbaikan.
Proyek Berada pada Bekas Area Persawahan
Percepatan tahap penyelesaian berlangsung setelah pengelola proyek menghadapi pekerjaan awal yang cukup berat. Kementerian PU menyebut lahan pembangunan sebelumnya merupakan kawasan persawahan sehingga memerlukan pematangan khusus.
Lapisan lumpur harus diganti dengan material yang lebih stabil sebelum bangunan dan jalan kawasan dapat dikerjakan. Proses tersebut dibutuhkan agar tanah memiliki kemampuan menahan beban serta tidak mudah mengalami penurunan yang tidak merata.
Pekerjaan tanah pada bekas sawah dapat memerlukan pengupasan lapisan lunak, pengurukan bertahap, pemadatan, pengaturan drainase, serta pemeriksaan kepadatan. Tahapan ini tidak terlihat setelah gedung berdiri, tetapi sangat menentukan kestabilan kawasan.
Lahan yang luas juga membutuhkan jaringan jalan internal, saluran air, jalur pejalan kaki, ruang terbuka, serta hubungan antargedung. Karena sekolah memakai sistem asrama, pergerakan siswa dan petugas berlangsung sepanjang hari, bukan hanya pada jam belajar.
Kementerian PU mencatat ruang terbuka hijau di kawasan tersebut mencapai 47.961 meter persegi. Luas itu menjadi bagian penting dari penataan kompleks karena dapat digunakan sebagai area resapan, ruang aktivitas, serta pemisah antarfungsi bangunan.
Gedung yang Siap Dipisahkan dari Area Pekerjaan
Tidak seluruh bangunan harus menunggu penyelesaian seratus persen untuk mulai digunakan. Pemerintah menerapkan zonasi dengan memisahkan gedung yang sudah siap dari bagian kawasan yang masih dikerjakan.
Kementerian PU menyatakan gedung sekolah, gedung serbaguna, kantin, dan dapur telah siap difungsikan pada pembaruan akhir Juni 2026. Sementara itu, pekerjaan pada fasilitas lain tetap dilanjutkan dengan pengaturan akses agar tidak mengganggu kegiatan pendidikan.
Zonasi membutuhkan batas fisik yang jelas. Jalur siswa tidak boleh bercampur dengan kendaraan pengangkut material, alat konstruksi, atau area penyimpanan bahan.
Debu, suara, kabel sementara, perancah, dan sisa material juga harus dikendalikan. Penggunaan sebagian kompleks hanya aman apabila pengelola memastikan ruang belajar memiliki akses keluar, sanitasi, air, listrik, perlindungan kebakaran, dan jalur evakuasi yang memadai.
Pekerjaan yang menghasilkan suara besar sebaiknya dijadwalkan di luar jam belajar. Petugas keamanan juga diperlukan untuk mencegah siswa memasuki bangunan yang belum diserahterimakan.
Target Pemanfaatan Penuh Bergeser ke September
Pada Januari 2026, Pemerintah Kabupaten Sumedang menargetkan pembangunan rampung pada Juni. Nilai pembangunan saat itu disebut sekitar Rp234 miliar dengan kapasitas yang diproyeksikan mencapai 1.000 peserta didik.
Ketika Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir kembali meninjau proyek pada 6 Juli 2026, progres pembangunan dilaporkan berada di sekitar 87 persen. Pemerintah daerah kemudian menyatakan kompleks ditargetkan siap digunakan secara penuh pada September 2026.
Perubahan waktu tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian seluruh kawasan membutuhkan waktu tambahan setelah target awal Juni terlewati. Pemerintah tidak hanya mengejar kesiapan ruang kelas, tetapi juga asrama dan berbagai fasilitas pendukung.
Sebagian peserta didik sebelumnya menjalani kegiatan belajar di Balai Latihan Kerja. Setelah bangunan permanen siap, siswa direncanakan dipindahkan bersama peserta didik angkatan baru.
Metode Stick on Wall digunakan untuk membantu mengejar pekerjaan yang tersisa, bukan untuk menggantikan seluruh tahapan pembangunan. Pekerjaan mekanikal, listrik, sanitasi, jalan kawasan, asrama, dan fasilitas olahraga tetap harus diselesaikan sesuai spesifikasi.
MPLS Diikuti 501 Siswa
Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sumedang telah menggelar MPLS pada 14 Juli 2026. Kegiatan tersebut diikuti 501 siswa dari beberapa daerah.
Sebanyak 60 peserta berasal dari Kota Tasikmalaya dan 30 peserta berasal dari Kabupaten Garut. Mereka ditempatkan sementara di Sumedang karena pembangunan Sekolah Rakyat di daerah asalnya masih berjalan.
Pembukaan MPLS menunjukkan sebagian fasilitas sudah dapat menerima kegiatan siswa meskipun pekerjaan pada keseluruhan kawasan belum selesai. Kondisi ini sejalan dengan strategi zonasi yang diumumkan Kementerian PU.
Pemerintah tetap perlu membedakan antara pelaksanaan kegiatan awal dan operasional penuh. Operasional penuh mencakup penggunaan seluruh asrama, ruang kelas, laboratorium, dapur, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, serta area olahraga secara bersamaan.
Jumlah 501 siswa juga menuntut kesiapan layanan makan, air bersih, kebersihan, kesehatan, keamanan, dan pengasuhan. Sekolah berasrama memerlukan pengelolaan yang lebih luas dibandingkan sekolah tanpa tempat tinggal siswa.
Fasilitas Dirancang untuk SD sampai SMA
Sekolah Rakyat Sumedang dibangun sebagai kompleks pendidikan terpadu yang melayani beberapa jenjang. Fasilitasnya mencakup ruang kelas SD sampai SMA, laboratorium bahasa, laboratorium komputer, laboratorium kesenian, gedung serbaguna, kantin, dapur, lapangan sepak bola, dan lapangan basket.
Konsep nasional Sekolah Rakyat memproyeksikan satu kawasan berkapasitas hingga 1.000 siswa. Pembagiannya dirancang sekitar 400 siswa SD, 300 siswa SMP, dan 300 siswa SMA. Kawasan juga dilengkapi asrama, lapangan apel, tempat ibadah, serta rumah bagi guru.
Model tersebut membuat bangunan harus melayani anak dengan rentang usia yang lebar. Kebutuhan siswa SD tidak sama dengan peserta didik SMA, baik dari sisi keamanan, ruang tidur, sanitasi, pengawasan, maupun kegiatan belajar.
Area asrama idealnya mengatur pemisahan berdasarkan jenjang dan jenis kelamin. Ruang pengasuh harus berada pada posisi yang memudahkan pengawasan, sedangkan layanan kesehatan perlu dapat dijangkau pada malam hari.
Laboratorium juga membutuhkan perlengkapan yang berbeda. Laboratorium komputer membutuhkan jaringan data dan pasokan listrik stabil, sedangkan ruang kesenian memerlukan penyimpanan alat serta pengendalian suara.
Pasokan Air Bersih Masih Menjadi Tantangan
Di tengah kesiapan sejumlah gedung, pasokan air bersih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya selesai. Kementerian PU menyebut layanan PDAM di lokasi proyek saat itu hanya mengalir setiap dua hari sekali.
Kementerian berencana berkoordinasi dengan PDAM untuk mengoptimalkan pasokan. Kebutuhan ini menjadi sangat penting karena sekolah memakai sistem asrama dan melayani ratusan siswa setiap hari.
Air dibutuhkan untuk minum, memasak, mandi, mencuci, toilet, kebersihan ruang, tempat ibadah, laboratorium, serta pemeliharaan kawasan. Keterlambatan pasokan dapat mengganggu kegiatan jauh lebih cepat daripada sekolah reguler yang hanya digunakan beberapa jam.
Pengelola perlu menyiapkan kapasitas penampungan yang cukup, pengaturan distribusi, pemeriksaan kualitas, serta sumber cadangan. Sistem pompa dan jaringan pipa juga harus diuji pada beban tinggi ketika seluruh penghuni memakai air pada waktu yang berdekatan.
Kesiapan dapur tidak hanya ditentukan oleh bangunan dan peralatan. Ketersediaan air yang stabil merupakan syarat untuk pengolahan makanan, pencucian bahan, pembersihan peralatan, serta penjagaan kebersihan pekerja.
Pemerintah Daerah Menyiapkan Identitas Sumedang
Pembangunan dikerjakan PT Brantas Abipraya bersama PT Uno Tanoh Seuramoh melalui skema kerja sama operasi. Pemerintah Kabupaten Sumedang membantu pengadaan lahan dan berkomitmen mendukung pembangunan gerbang utama.
Bupati Dony sebelumnya meminta agar kompleks memiliki ciri khas daerah, terutama pada gerbang dan sejumlah area strategis. Ornamen budaya Sumedang diharapkan menjadi pembeda tanpa mengurangi fungsi keamanan serta kelancaran pergerakan kendaraan.
Lokasi sekolah dinilai strategis karena berdekatan dengan persimpangan Tol Cisumdawu dan Tol Cipali. Kawasan itu juga disebut berjarak sekitar delapan sampai sepuluh kilometer dari Bandara Kertajati.
Kedekatan dengan jaringan jalan dapat memudahkan mobilitas bahan, tenaga pengajar, siswa, dan keluarga. Namun, akses menuju gerbang tetap perlu dilengkapi pengaturan kendaraan agar pergerakan bus, mobil layanan, dan pejalan kaki tidak saling mengganggu.
Menurut penulis, keberhasilan proyek ini tidak cukup diukur dari kecepatan penyelesaian dinding. Ukuran yang lebih penting terlihat dari keamanan bangunan, kestabilan pasokan air, kesiapan asrama, serta kemampuan sekolah melayani siswa tanpa terganggu pekerjaan konstruksi.
Perbedaan Penyebutan Desa Perlu Dirapikan
Keterangan Kementerian PU menyebut proyek berada di Desa Sakurjaya, Kecamatan Ujung Jaya. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sumedang dan laporan mengenai pelaksanaan MPLS menyebut lokasi berada di Desa Keboncau, Kecamatan Ujungjaya.
Perbedaan ini dapat berkaitan dengan batas bidang, akses kawasan, atau penulisan lokasi pada masing masing lembaga. Namun, pemerintah sebaiknya memakai satu alamat resmi yang sama dalam dokumen, papan proyek, informasi penerimaan siswa, serta layanan administrasi.
Kejelasan alamat dibutuhkan untuk pencatatan aset, layanan darurat, pengiriman barang, sertifikat bangunan, jaringan utilitas, dan penentuan wilayah pemerintahan desa.
Pemerintah juga perlu memperbarui informasi mengenai nilai akhir proyek, progres pekerjaan, luas bangunan yang telah diserahterimakan, dan jadwal pemanfaatan seluruh fasilitas. Pembaruan tersebut akan membantu masyarakat membedakan bagian yang sudah dapat digunakan dengan bagian yang masih dalam masa konstruksi.
Penggunaan Stick on Wall telah memperlihatkan cara pemerintah mencoba mengejar pekerjaan penyelesaian tanpa menunggu seluruh proses plester dan aci konvensional. Setelah pemasangan selesai, pengujian kerataan, kekuatan ikatan, kualitas sambungan, serta ketahanan permukaan menjadi pekerjaan berikutnya yang perlu dicatat sebelum bangunan diterima.






