Cerpen tentang ibu menjadi dekat karena hampir semua orang memiliki kenangan yang serupa. Ada ibu yang keras tetapi diam diam mendoakan. Ada ibu yang tidak banyak bicara tetapi selalu bangun paling pagi. Ada ibu yang terlihat kuat, padahal tubuhnya sudah lelah memikul banyak hal.
Di antara banyak cerita yang bisa ditulis manusia, kisah tentang ibu selalu punya tempat paling lembut. Ia tidak selalu hadir dengan peristiwa besar, tidak selalu memakai kalimat indah, dan tidak selalu bergerak dalam suasana dramatis. Kadang, cerita tentang ibu justru tumbuh dari hal kecil, seperti suara panci di pagi hari, aroma nasi yang baru matang, atau pesan singkat yang bertanya apakah anaknya sudah makan.
“Ibu sering tidak meminta tempat di cerita hidup anaknya, tetapi justru namanya paling sering muncul ketika seseorang mulai merasa kehilangan arah.”
Dapur Kecil di Ujung Gang
Pagi itu, hujan turun pelan di ujung gang sempit tempat Raka dibesarkan. Atap seng rumah rumah tua memantulkan bunyi air yang jatuh tidak beraturan. Di dapur kecil, Bu Sari berdiri dengan daster biru pudar yang sudah berkali kali dijahit di bagian lengannya.
Kompor menyala kecil. Di atasnya, panci berisi sayur bening mengepul. Raka duduk di meja makan sambil menatap layar ponsel. Ia baru saja pulang dari kota setelah tiga tahun bekerja di kantor besar yang selalu ia banggakan.
“Tambah nasi, Nak?” tanya Bu Sari.
“Enggak, Bu. Aku buru buru. Ada urusan,” jawab Raka tanpa menoleh.
Bu Sari hanya mengangguk. Tangannya mengambil piring kecil, lalu meletakkan tempe goreng yang masih hangat di samping nasi Raka.
Raka makan cepat. Ia tidak sadar bahwa ibunya beberapa kali memperhatikan wajahnya. Di mata Bu Sari, anak itu masih sama seperti dulu. Anak kecil yang pernah menangis karena sepatunya rusak menjelang upacara sekolah. Anak yang dulu tidur sambil menggenggam ujung kain ibunya saat listrik padam.
Pulang yang Tidak Benar Benar Pulang
Kepulangan Raka sebenarnya bukan untuk berlibur. Ia datang karena harus mengurus penjualan rumah lama. Perusahaan tempatnya bekerja menawarkan promosi di luar kota. Ia butuh uang tambahan untuk membeli apartemen kecil agar tidak lagi tinggal di kontrakan.
Rumah peninggalan ayahnya dianggap sebagai jalan keluar. Letaknya memang sederhana, tetapi tanahnya cukup luas. Beberapa orang sudah menawar dengan harga lumayan.
“Bu, nanti siang ada orang mau lihat rumah,” kata Raka setelah minum air putih.
Bu Sari berhenti mengaduk sayur.
“Orang lihat rumah buat apa, Nak?”
Raka menarik napas pendek.
“Ya buat beli, Bu. Kan Raka sudah bilang waktu telepon. Rumah ini mau dijual.”
Dapur mendadak sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar dari luar.
Bu Sari menunduk. Ia tidak langsung menjawab. Di rumah itu, ia melahirkan kenangan yang terlalu panjang. Di teras depan, suaminya dulu biasa memperbaiki sepeda tetangga. Di ruang tengah, Raka belajar berjalan. Di kamar belakang, ia merawat suaminya yang sakit sampai napas terakhir.
“Kalau rumah ini dijual, Ibu tinggal di mana?” tanya Bu Sari pelan.
“Ibu ikut Raka nanti. Di apartemen. Lebih enak. Enggak capek bersih bersih rumah besar begini.”
Bu Sari tersenyum tipis. Bukan karena senang, tetapi karena tidak ingin terlihat sedih.
Barang Lama yang Menyimpan Suara
Siang hari, calon pembeli datang bersama seorang makelar. Mereka berkeliling rumah, melihat dinding, mengukur halaman, memperhatikan langit langit, lalu berbicara tentang renovasi.
Raka tampak bersemangat. Ia menjelaskan ukuran tanah, akses jalan, dan rencana pembangunan di sekitar wilayah itu.
Sementara itu, Bu Sari duduk di kursi kayu dekat jendela. Di pangkuannya ada kotak biskuit bekas yang sudah berkarat di sudutnya. Kotak itu berisi foto lama, surat sekolah Raka, kartu ucapan Hari Ibu yang ditulis dengan krayon, dan kancing baju ayah Raka yang dulu pernah lepas.
Raka melihat kotak itu sekilas.
“Bu, barang barang lama begitu nanti dibuang saja. Biar enggak repot pindah.”
Bu Sari mengelus tutup kotak itu.
“Ini bukan barang lama, Nak. Ini suara rumah.”
Raka tidak menjawab. Baginya, benda benda itu hanya memakan tempat. Baginya, hidup harus bergerak cepat. Masa lalu tidak bisa membayar cicilan. Kenangan tidak bisa membeli apartemen.
Surat Kecil dari Masa Sekolah
Malamnya, listrik padam. Hujan kembali turun. Raka duduk di ruang tengah dengan cahaya lilin. Ponselnya kehilangan sinyal. Bu Sari sudah masuk kamar.
Karena bosan, Raka membuka kotak biskuit yang tadi dipegang ibunya. Ia menemukan foto dirinya saat masih SD. Rambutnya dipotong terlalu pendek. Giginya ompong. Di sebelahnya, Bu Sari berdiri dengan wajah muda dan mata yang penuh bangga.
Di bawah tumpukan foto, ada selembar kertas lusuh.
Tulisan anak kecil di sana tidak rapi.
“Bu, kalau Raka besar nanti, Raka mau belikan Ibu rumah yang bagus. Ibu jangan sedih lagi kalau hujan masuk dari atap.”
Raka terdiam lama.
Ia ingat malam ketika menulis surat itu. Saat itu rumah mereka bocor. Bu Sari memindahkan ember ke sana kemari agar air tidak membasahi kasur. Raka menangis karena buku pelajarannya basah. Bu Sari memeluknya sambil berkata bahwa semua akan baik baik saja.
Besoknya, Bu Sari menjual cincin kecil peninggalan ibunya untuk membeli buku baru dan memperbaiki atap.
Raka menggenggam surat itu. Dadanya terasa sesak.
Ibu yang Tidak Pernah Menagih
Keesokan paginya, Raka bangun lebih awal. Ia melihat ibunya sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Punggung perempuan itu tampak lebih membungkuk daripada yang ia ingat.
Selama ini, Raka merasa dirinya sudah banyak memberi. Ia mengirim uang setiap bulan. Ia membelikan ponsel baru. Ia membayar listrik dan kebutuhan rumah.
Namun pagi itu ia sadar, ada hal yang tidak pernah bisa dihitung dengan transfer bank.
Ibu tidak pernah menagih malam malam tanpa tidur. Ibu tidak pernah menagih makanan yang ia berikan saat dirinya sendiri belum makan. Ibu tidak pernah menagih rasa takut yang ia telan sendirian ketika anaknya sakit.
Raka berjalan mendekat.
“Bu,” panggilnya pelan.
Bu Sari menoleh.
“Kenapa, Nak?”
Raka ingin mengatakan banyak hal, tetapi tenggorokannya terasa berat.
“Maaf.”
Bu Sari tersenyum, seperti sudah menunggu kata itu sejak lama, tetapi tidak pernah meminta.
Rumah yang Hampir Dijual
Hari berikutnya, makelar kembali menelepon. Calon pembeli setuju dengan harga yang diminta. Raka hanya perlu datang untuk membicarakan proses administrasi.
Ia menatap ibunya yang sedang merapikan tanaman di halaman. Tanaman cabai, pandan, dan bunga kertas tumbuh di pot bekas cat. Rumah itu sederhana, tetapi setiap sudutnya seperti menyimpan napas Bu Sari.
Raka menjawab telepon dengan suara lebih pelan.
“Maaf, Pak. Rumahnya tidak jadi saya jual.”
Di seberang telepon, makelar terdengar kecewa. Raka meminta maaf lalu menutup panggilan.
Bu Sari menoleh dari halaman.
“Siapa, Nak?”
“Orang salah sambung, Bu,” jawab Raka.
Bu Sari tahu anaknya berbohong, tetapi ia tidak menegur. Ada kebohongan yang lahir dari kasih sayang, dan pagi itu ia memilih pura pura tidak tahu.
Apartemen yang Tidak Jadi Dibeli
Sore itu, Raka duduk bersama ibunya di teras. Udara setelah hujan terasa lebih dingin. Anak anak kecil berlari di gang sambil tertawa.
“Bu, Raka batal beli apartemen dulu.”
Bu Sari menatapnya.
“Kenapa?”
“Raka mau perbaiki rumah ini. Atapnya, dapurnya, kamar Ibu. Pelan pelan saja.”
Bu Sari diam. Matanya mulai berkaca kaca.
“Raka enggak apa apa tinggal di sini kalau cuti. Nanti kalau ada rezeki, Raka bikin kamar lebih nyaman.”
Bu Sari menunduk. Tangannya meremas ujung kerudung.
“Ibu cuma takut kamu malu punya rumah seperti ini.”
Raka menggeleng.
“Raka yang harusnya malu, Bu. Rumah ini yang bikin Raka bisa sampai ke kota.”
Angin kecil melewati halaman. Bunga kertas bergerak pelan.
Makan Malam yang Terasa Berbeda
Malam itu, Bu Sari memasak sayur bening lagi. Lauknya sederhana, tempe goreng dan sambal. Namun bagi Raka, makan malam itu terasa berbeda dari hari sebelumnya.
Ia tidak lagi makan sambil menatap ponsel. Ia mendengarkan ibunya bercerita tentang tetangga, harga cabai, dan kucing liar yang sering datang ke dapur.
Cerita cerita itu dulu terdengar membosankan. Kini, Raka menyadari bahwa dari situlah hidup ibunya berjalan setiap hari. Sementara ia sibuk mengejar jabatan, ibunya berteman dengan suara dapur, tanaman halaman, dan kenangan yang tinggal di dinding rumah.
“Bu, besok kita ke pasar ya,” kata Raka.
“Buat apa?”
“Beli cat. Raka mau mulai dari ruang tamu.”
Bu Sari tertawa kecil.
“Kamu bisa ngecat?”
“Bisa belajar.”
Tawa Bu Sari terdengar lebih lepas dari biasanya.
Cerpen Tentang Ibu dan Rasa Pulang
Kisah Raka dan Bu Sari mungkin terdengar sederhana. Tidak ada konflik besar, tidak ada peristiwa mengejutkan, tidak ada tokoh jahat yang membuat cerita menjadi rumit. Namun justru di situlah kekuatan cerpen tentang ibu.
Ibu sering hadir dalam cerita yang pelan. Ia tidak perlu berteriak agar jasanya terlihat. Ia cukup berdiri di dapur, memastikan nasi matang, menanyakan kabar, lalu menyimpan lelahnya sendiri.
Cerpen tentang ibu mengingatkan bahwa rumah bukan hanya bangunan. Rumah adalah suara seseorang yang masih menunggu kita pulang. Rumah adalah meja makan yang tetap disiapkan meski anaknya berkata sedang sibuk. Rumah adalah tangan tua yang masih ingin mengusap kepala anaknya meski anak itu sudah merasa dewasa.
Saat Anak Mulai Mengerti
Beberapa minggu setelah itu, Raka kembali ke kota. Namun kali ini, ia pergi dengan cara berbeda. Sebelum berangkat, ia mencium tangan ibunya lebih lama.
Di dalam tasnya, ia membawa surat kecil yang dulu pernah ia tulis saat SD. Surat itu ia simpan di dompet, tepat di belakang kartu identitas.
Setiap kali merasa hidup terlalu berat, Raka membuka surat itu. Ia membaca kembali janji anak kecil yang ingin membelikan rumah bagus untuk ibunya.
Kini ia tahu, rumah bagus bukan selalu tentang lantai mahal atau dinding mewah. Rumah bagus adalah tempat seorang ibu merasa tidak ditinggalkan.
Bu Sari tetap tinggal di rumah ujung gang. Atapnya sudah diperbaiki. Dapurnya dicat ulang. Di ruang tengah, foto lama Raka dan ibunya dipasang dalam bingkai baru.
Setiap pagi, Bu Sari masih memasak. Setiap hujan turun, ia tidak lagi sibuk memindahkan ember. Ia duduk di dekat jendela, memandang halaman, lalu tersenyum kecil ketika ponselnya berbunyi.
Pesan dari Raka masuk.
“Bu, sudah makan?”
Bu Sari membalas pelan.
“Sudah, Nak. Kamu juga jangan lupa makan.”






