Erupsi Anak Krakatau terus menjadi perhatian ahli vulkanologi karena gunung api di Selat Sunda ini mempunyai karakter yang kompleks. Peristiwa 22 Desember 2018 menjadi titik penting dalam penelitian karena sebagian tubuh gunung runtuh ke laut dan memicu tsunami yang mencapai pesisir Banten dan Lampung. Lebih dari 430 orang meninggal dalam bencana tersebut.
Rangkaian penelitian setelah kejadian 2018 memberikan gambaran semakin rinci mengenai apa yang berlangsung pada tubuh Anak Krakatau sebelum lerengnya runtuh. Data satelit, rekaman seismik, pengamatan termal, foto udara, penelitian dasar laut, hingga simulasi komputer digunakan untuk merekonstruksi peristiwa tersebut.
Temuan para ahli menunjukkan bahwa keruntuhan bukan sekadar kejadian yang muncul dalam beberapa detik. Sebagian lereng barat daya Anak Krakatau ternyata telah mengalami pergerakan dalam waktu panjang. Aktivitas erupsi yang meningkat menjelang Desember 2018 kemudian menjadi salah satu bagian yang terus diteliti untuk memahami hubungan antara suplai magma dan kestabilan tubuh gunung.
Anak Krakatau Lahir dari Kompleks Vulkanik Krakatau
Anak Krakatau berada di Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatra. Gunung ini tumbuh di kawasan yang menyimpan sejarah salah satu letusan vulkanik paling terkenal di dunia, yaitu erupsi Krakatau pada 1883.
Letusan 1883 menghancurkan sebagian besar struktur Krakatau dan menghasilkan tsunami besar. Setelah beberapa dekade, aktivitas vulkanik kembali muncul dari kawasan kaldera yang terbentuk.
Pada 1927, aktivitas bawah laut mulai teramati di kawasan tersebut. Proses erupsi yang berlangsung berulang akhirnya membentuk pulau vulkanik yang dikenal sebagai Anak Krakatau.
Gunung baru tersebut terus mengalami pertumbuhan melalui akumulasi lava, abu, serta material vulkanik lainnya.
Pertumbuhan cepat menjadi salah satu karakter penting Anak Krakatau. Material yang menumpuk membentuk tubuh gunung di atas struktur kaldera lama dengan kemiringan tertentu menuju laut.
Posisi inilah yang kemudian mendapat perhatian besar dari para peneliti karena sebagian tubuh gunung berdiri di atas lereng bawah laut yang curam.
Riset 2012 Sudah Memodelkan Kemungkinan Lereng Runtuh ke Laut
Enam tahun sebelum peristiwa 2018, sekelompok peneliti yang dipimpin Thomas Giachetti menerbitkan penelitian mengenai kemungkinan keruntuhan lereng Anak Krakatau.
Penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa keruntuhan pasti terjadi pada waktu tertentu. Para ahli membuat simulasi berdasarkan bentuk tubuh gunung serta kondisi topografi kawasan.
Salah satu skenario memperkirakan keruntuhan sekitar 0,28 kilometer kubik material menuju arah barat daya.
Simulasi menunjukkan bahwa longsoran cepat ke dalam laut berpotensi menghasilkan gelombang sangat tinggi di sekitar kompleks Krakatau.
Pulau pulau yang berada dekat Anak Krakatau dapat menerima gelombang dalam waktu sangat singkat.
Penelitian tersebut menjadi semakin diperhatikan setelah kejadian 2018 karena arah runtuhan yang sebenarnya terjadi memiliki kemiripan dengan skenario yang telah dimodelkan beberapa tahun sebelumnya.
Namun, prediksi lokasi potensial berbeda dengan kemampuan menentukan kapan sebuah keruntuhan akan berlangsung.
Inilah salah satu kesulitan terbesar dalam penelitian gunung api pulau.
“Penelitian Anak Krakatau memperlihatkan bahwa mengetahui suatu lereng mempunyai potensi runtuh tidak sama dengan mengetahui hari dan jam keruntuhan tersebut akan terjadi.”
Aktivitas Vulkanik Meningkat Beberapa Bulan Sebelum Keruntuhan
Anak Krakatau mengalami periode aktivitas erupsi yang cukup intensif sepanjang paruh kedua 2018.
Aktivitas Strombolian berlangsung sejak sekitar Juni 2018. Letusan tipe ini biasanya ditandai lontaran material pijar, gas, serta material vulkanik dari kawah.
Erupsi berlangsung berulang selama beberapa bulan.
Material baru terus keluar dan menambah volume di bagian tertentu tubuh gunung.
Penelitian yang diterbitkan dalam Nature Communications pada 2019 menemukan beberapa perubahan sebelum keruntuhan.
Data menunjukkan adanya anomali termal, penambahan luas pulau, serta pergerakan secara perlahan pada lereng barat daya menuju laut.
Temuan tersebut sangat penting karena menunjukkan bahwa tubuh gunung tidak sepenuhnya diam sebelum malam 22 Desember 2018.
Bagian lereng tertentu sebenarnya telah mengalami deformasi.
Namun, pergerakan lambat semacam itu sangat sulit digunakan untuk menentukan waktu keruntuhan secara tepat.
Gunung api dapat mengalami deformasi dalam waktu lama tanpa langsung mengalami kegagalan struktur besar.
Satelit Menangkap Lereng Barat Daya Bergerak Bertahun Tahun
Penelitian yang diterbitkan pada 2024 memberikan gambaran lebih panjang mengenai ketidakstabilan Anak Krakatau.
Para peneliti menggunakan data radar satelit dari ALOS 1, COSMO SkyMed, dan Sentinel 1.
Teknik yang digunakan dikenal sebagai Interferometric Synthetic Aperture Radar atau InSAR.
Metode ini memungkinkan ilmuwan mendeteksi perubahan posisi permukaan tanah dengan membandingkan citra radar yang diambil pada waktu berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian barat daya Anak Krakatau sudah mengalami pergerakan sejak bertahun tahun sebelum keruntuhan 2018.
Para ahli memperkirakan bidang pelepasan di bawah bagian tersebut mengalami pergeseran kumulatif sekitar 15 meter selama periode 2006 hingga 2018.
Kecepatan pergerakannya tidak selalu sama.
Ada periode ketika gerakan berlangsung lebih lambat dan ada pula fase ketika pergeseran mengalami percepatan.
Salah satu percepatan yang paling jelas terlihat menjelang keruntuhan 2018.
Temuan tersebut membuat pengamatan jangka panjang menjadi semakin penting bagi gunung api yang mempunyai lereng tidak stabil.
Mengapa Lereng Anak Krakatau Bisa Menjadi Tidak Stabil?
Gunung berapi merupakan struktur yang terus berubah.
Material baru dapat menumpuk di permukaan ketika terjadi erupsi. Pada saat bersamaan, magma bergerak di bawah tanah dan memberikan tekanan terhadap batuan di sekitarnya.
Tubuh gunung juga tersusun dari lapisan berbeda.
Sebagian berupa lava padat, sementara bagian lain terdiri dari abu, skoria, serta material vulkanik yang mempunyai kekuatan berbeda.
Pada gunung api pulau, persoalannya menjadi lebih rumit karena bagian tubuh gunung berlanjut ke bawah permukaan laut.
Kemiringan dasar laut dapat berpengaruh terhadap kestabilan lereng.
Anak Krakatau tumbuh di dalam kompleks kaldera lama sehingga struktur geologi di bawahnya tidak sederhana.
Ketika material terus menumpuk di atas lereng, gaya gravitasi bekerja menarik massa menuju bagian yang lebih rendah.
Pergerakan magma, retakan, gempa kecil, perubahan tekanan, dan aktivitas erupsi kemudian dapat ikut mengubah kondisi tubuh gunung.
Penelitian Terbaru Mencari Pemicu Utama Keruntuhan
Riset terbaru tidak hanya mempelajari bagaimana lereng bergerak, tetapi juga mencoba menjawab mengapa pergerakan tersebut akhirnya berubah menjadi keruntuhan cepat.
Penelitian yang diterbitkan pada 2025 menggunakan eksperimen geser terhadap material vulkanik serta pemodelan numerik.
Para peneliti memeriksa apakah gaya gravitasi saja cukup untuk membuat tubuh Anak Krakatau kehilangan kestabilan.
Hasil model menunjukkan persoalannya lebih rumit.
Agar struktur runtuh hanya akibat kondisi mekanis tertentu, dibutuhkan bidang yang mempunyai kemiringan atau tingkat kelemahan tertentu.
Eksperimen terhadap material abu dan skoria justru menunjukkan kekuatan gesekan yang cukup tinggi.
Temuan itu membuat para ahli memperkirakan terdapat faktor tambahan yang membantu memicu keruntuhan besar.
Faktor tersebut masih menjadi bagian dari penelitian.
Aktivitas magma, perubahan tekanan di dalam tubuh gunung, sistem retakan, dan perubahan fisik lainnya menjadi beberapa proses yang perlu terus dipelajari.
Dengan demikian, penelitian ilmiah tidak berhenti pada satu jawaban tunggal.
Keruntuhan 2018 Menghilangkan Sebagian Besar Tubuh Gunung
Pada malam 22 Desember 2018, sebagian besar lereng Anak Krakatau runtuh menuju sisi barat daya.
Penelitian menggunakan citra satelit dan pemetaan bawah laut memperkirakan bahwa sekitar setengah volume bagian gunung yang berada di atas permukaan laut hilang dalam kejadian tersebut.
Studi lanjutan memperkirakan volume longsoran utama berada pada kisaran sekitar 0,175 hingga 0,313 kilometer kubik.
Salah satu simulasi yang paling sesuai dengan pengamatan menggunakan volume sekitar 0,224 kilometer kubik.
Jumlah itu mungkin terlihat kecil dibandingkan volume lautan di Selat Sunda.
Namun, material tersebut bergerak dengan cepat menuju air dan menggantikan volume air dalam waktu sangat singkat.
Perpindahan mendadak inilah yang menghasilkan gelombang tsunami.
Setelah keruntuhan, bentuk Anak Krakatau berubah secara ekstrem.
Pengamatan PVMBG menunjukkan tinggi gunung yang sebelumnya sekitar 338 meter turun menjadi sekitar 110 meter.
Tsunami 2018 Tidak Dipicu Gempa Tektonik Besar
Salah satu hal yang membuat tsunami Selat Sunda 2018 berbeda adalah tidak adanya gempa tektonik besar sebagai pemicu utama.
Sebagian masyarakat terbiasa menghubungkan tsunami dengan gempa kuat.
Pada kejadian ini, gelombang terbentuk akibat longsoran material vulkanik ke laut.
Keruntuhan lereng memberikan dorongan besar terhadap air laut sehingga gelombang menyebar menuju pulau serta pesisir di sekeliling Selat Sunda.
Simulasi ilmiah memperlihatkan gelombang mencapai kawasan pesisir Jawa dan Sumatra dalam waktu sekitar puluhan menit.
Beberapa penelitian mencatat tinggi runup di kawasan pesisir dapat mencapai sekitar 13 meter pada lokasi tertentu.
Waktu perjalanan yang singkat menciptakan persoalan besar bagi sistem peringatan.
Sistem tsunami yang terutama dirancang untuk membaca gempa tektonik perlu dilengkapi kemampuan mengenali sumber tsunami nontektonik.
Para Ahli Meneliti Dasar Laut setelah Bencana
Penelitian tidak berhenti pada bagian gunung yang terlihat dari udara.
Tim ilmuwan juga memetakan dasar laut di sekitar Anak Krakatau untuk mengetahui ke mana material runtuhan bergerak.
Pemetaan resolusi tinggi menemukan blok batuan berukuran besar di bawah laut.
Data tersebut membantu menentukan luas area yang runtuh serta volume material yang berpindah.
Pemetaan bawah laut penting karena sebagian besar tubuh gunung sebenarnya berada di bawah permukaan laut.
Jika penelitian hanya mengandalkan foto dari udara, ilmuwan tidak memperoleh gambaran lengkap mengenai proses longsoran.
Bentuk dasar laut juga sangat menentukan bagaimana gelombang tsunami bergerak.
Kedalaman, kemiringan, serta posisi pulau dapat mengubah arah dan tinggi gelombang.
Data tersebut kemudian dimasukkan ke model komputer untuk mencocokkan simulasi dengan catatan pasang surut serta hasil survei lapangan.
Erupsi Berubah Setelah Air Laut Memasuki Sistem Kawah
Keruntuhan besar juga mengubah jenis aktivitas erupsi Anak Krakatau.
Sebelum keruntuhan, aktivitas Strombolian cukup dominan.
Setelah sebagian tubuh gunung hilang, air laut dapat berinteraksi lebih langsung dengan magma panas.
Interaksi antara magma dan air menghasilkan aktivitas yang dikenal sebagai erupsi Surtseyan.
Ketika air bertemu material sangat panas, air berubah menjadi uap secara cepat.
Proses tersebut dapat memecah magma menjadi partikel lebih kecil dan menghasilkan ledakan berulang.
Pada akhir Desember 2018, aktivitas seperti ini terlihat jelas di Anak Krakatau.
Kolom abu dan uap muncul dari kawah, sementara bentuk pulau berubah dalam waktu relatif singkat.
Perubahan ini menjadi kesempatan penting bagi vulkanolog untuk mempelajari transisi erupsi setelah sebuah gunung api pulau mengalami keruntuhan besar.
Rekaman Infrasound Membantu Menyusun Urutan Kejadian
Tidak seluruh informasi pada malam 22 Desember 2018 diperoleh dari pengamatan langsung.
Para ahli menggunakan data seismik, infrasound, satelit, serta keterangan saksi untuk menyusun kembali urutan aktivitas.
Infrasound merupakan gelombang suara dengan frekuensi sangat rendah yang berada di bawah kemampuan pendengaran manusia.
Ledakan vulkanik besar dapat menghasilkan gelombang tersebut dan direkam alat dari jarak jauh.
Penelitian menunjukkan aktivitas erupsi intensif sudah terjadi sekitar delapan jam sebelum keruntuhan.
Setelah tubuh gunung runtuh, pola aktivitas berubah.
Para ahli juga berhasil mengidentifikasi beberapa letusan serta sumber ledakan yang berulang selama beberapa hari berikutnya.
Teknik semacam ini sangat penting ketika alat pengamatan di dekat gunung rusak atau tidak dapat berfungsi.
Data dari lokasi jauh tetap dapat membantu menyusun kronologi peristiwa.
Riset Anak Krakatau Mengubah Cara Lereng Gunung Dipantau
Salah satu pelajaran ilmiah terbesar dari kejadian 2018 adalah pentingnya memperhatikan bentuk gunung, bukan hanya aktivitas magma.
Pemantauan tradisional gunung api sering berfokus pada gempa, gas, temperatur, serta deformasi yang berhubungan dengan pergerakan magma.
Kasus Anak Krakatau menunjukkan gerakan lereng juga membutuhkan perhatian besar.
Data satelit memungkinkan pergerakan beberapa sentimeter hingga meter di permukaan terdeteksi dari jarak jauh.
Pemantauan tersebut dapat dilakukan secara berkala tanpa harus menempatkan semua instrumen langsung pada tubuh gunung.
Teknik satelit akan semakin berguna jika digabungkan dengan GPS, seismometer, kamera termal, pengamatan visual, dan sensor lainnya.
Tidak satu alat pun mampu memberikan seluruh informasi.
Gabungan beberapa metode memberikan gambaran yang jauh lebih lengkap mengenai perubahan sebuah gunung api.
“Kasus Anak Krakatau menunjukkan bahwa penelitian gunung api tidak cukup hanya mencari tanda letusan. Perubahan bentuk serta pergerakan lereng juga harus diperlakukan sebagai informasi penting dalam pengawasan.”
Sistem Peringatan Tsunami Vulkanik Memiliki Tantangan Berbeda
Tsunami akibat longsoran vulkanik mempunyai karakter yang berbeda dari tsunami akibat gempa tektonik besar.
Gempa besar dapat terdeteksi jaringan seismik dalam waktu sangat cepat.
Lokasi dan magnitudonya kemudian digunakan sebagai dasar penilaian awal kemungkinan tsunami.
Keruntuhan gunung api tidak selalu menghasilkan sinyal gempa yang besar.
Material dapat runtuh secara mendadak sehingga waktu antara kejadian dan tibanya gelombang di pantai sangat pendek.
Di sekitar Anak Krakatau, jarak menuju pesisir Banten dan Lampung tidak terlalu jauh.
Hal tersebut membuat kecepatan pengenalan kejadian menjadi sangat penting.
Sensor muka air laut, pengamatan deformasi gunung, radar, kamera, serta sistem komunikasi perlu bekerja bersama untuk membantu mengenali perubahan tidak biasa.
Masyarakat pesisir juga perlu memahami bahwa tsunami tidak selalu diawali gempa kuat yang terasa.
Perubahan air laut secara mendadak atau suara kuat dari arah laut harus mendapat perhatian serius.
Anak Krakatau Tetap Menjadi Laboratorium Alam bagi Vulkanolog
Setelah kejadian 2018, Anak Krakatau kembali mengalami pertumbuhan melalui aktivitas vulkanik.
Material baru keluar dan perlahan membangun kembali bagian gunung.
Proses tersebut sangat menarik bagi ilmuwan karena memberikan kesempatan mengamati bagaimana sebuah kerucut vulkanik berkembang setelah kehilangan sebagian besar tubuhnya.
Pertumbuhan dapat dipantau menggunakan citra satelit secara berkala.
Perubahan garis pantai, luas pulau, ketinggian, suhu permukaan, serta lokasi pusat erupsi dapat dibandingkan dari waktu ke waktu.
Data ini juga membantu ahli memahami bagaimana material baru terakumulasi pada struktur yang telah mengalami keruntuhan besar.
Pertanyaan mengenai kestabilan lereng tetap menjadi perhatian.
Gunung yang terus tumbuh berarti distribusi massa juga terus berubah.
Karena itu, pemantauan Anak Krakatau membutuhkan pengamatan berkesinambungan terhadap aktivitas magma sekaligus perubahan bentuk tubuh gunung.
Riset Jangka Panjang Menjadi Kunci Memahami Perubahan Anak Krakatau
Temuan geodesi 2024 menunjukkan nilai besar dari arsip data yang dikumpulkan selama bertahun tahun.
Pergerakan lereng yang akhirnya runtuh pada 2018 ternyata dapat ditelusuri hingga lebih dari satu dekade sebelumnya.
Informasi tersebut tidak berarti keruntuhan sebenarnya dapat dipastikan sejak 2006.
Pergerakan lereng gunung dapat berhenti, melambat, atau berubah karena banyak faktor.
Namun, pola jangka panjang memberikan informasi yang tidak mungkin diperoleh apabila penelitian hanya dilakukan beberapa minggu menjelang erupsi.
Pengamatan selanjutnya dapat membandingkan struktur Anak Krakatau yang sekarang dengan kondisi sebelum 2018.
Jika pergerakan lereng kembali muncul, ilmuwan mempunyai data sebelumnya sebagai pembanding.
Riwayat deformasi, aktivitas termal, gempa vulkanik, pertumbuhan kerucut, dan perubahan garis pantai dapat digunakan bersama untuk mengenali perubahan yang tidak biasa.
Anak Krakatau karena itu tetap menjadi salah satu gunung api penting bagi penelitian internasional mengenai hubungan antara erupsi, pertumbuhan tubuh gunung, ketidakstabilan lereng, longsoran bawah laut, serta pembentukan tsunami vulkanik.






