Kanker rahim merupakan keganasan yang tumbuh pada jaringan rahim. Istilah ini sering digunakan masyarakat secara luas, padahal kanker rahim berbeda dengan kanker serviks yang muncul pada leher rahim. Sebagian besar kanker yang berasal dari badan rahim bermula pada endometrium, yaitu lapisan bagian dalam rahim. Jenis tersebut dikenal sebagai kanker endometrium.
Penyebab pasti mengapa sel endometrium berubah menjadi sel kanker pada sebagian besar penderita belum dapat ditentukan secara tunggal. Para ahli mengetahui bahwa perubahan pada DNA sel membuat pertumbuhan menjadi tidak terkendali. Sejumlah kondisi, terutama paparan estrogen yang tidak diimbangi progesteron, obesitas, usia, kelainan genetik tertentu, dan beberapa pengobatan, diketahui meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kanker endometrium.
Faktor risiko juga tidak berarti seseorang pasti akan terkena kanker. Banyak perempuan memiliki satu atau beberapa faktor risiko tetapi tidak pernah mengalami kanker rahim. Sebaliknya, kanker dapat ditemukan pada seseorang tanpa faktor risiko yang mudah dikenali.
Kanker Rahim Berawal Ketika Sel Endometrium Tumbuh Tidak Terkendali
Rahim merupakan organ berongga yang memiliki lapisan dalam bernama endometrium. Pada perempuan yang masih mengalami menstruasi, lapisan ini mengalami perubahan secara berkala mengikuti aktivitas hormon.
Endometrium akan menebal sebagai persiapan apabila terjadi kehamilan. Jika kehamilan tidak terjadi, sebagian lapisan tersebut luruh dan keluar sebagai darah menstruasi. Proses tersebut berlangsung melalui pengaturan hormon, terutama estrogen dan progesteron.
Kanker endometrium terjadi ketika sel pada lapisan tersebut mengalami perubahan dan mulai berkembang secara tidak terkendali. Sel abnormal kemudian dapat membentuk tumor dan, pada kondisi tertentu, menyebar menuju jaringan lain.
American Cancer Society menjelaskan bahwa banyak sel kanker endometrium memiliki reseptor estrogen atau progesteron. Hubungan antara hormon dengan sel endometrium menjadi salah satu alasan ketidakseimbangan hormon mendapat perhatian besar dalam penelitian mengenai kanker rahim.
Paparan Estrogen Berlebihan Menjadi Faktor yang Sangat Diperhatikan
Estrogen sebenarnya merupakan hormon normal yang dibutuhkan tubuh. Persoalan muncul ketika jaringan endometrium terus mendapatkan rangsangan estrogen dalam jangka panjang tanpa cukup pengaruh progesteron.
Estrogen merangsang pertumbuhan endometrium. Progesteron membantu mengatur pertumbuhan tersebut dan mempersiapkan lapisan rahim untuk kehamilan.
Apabila stimulasi estrogen berlangsung terus menerus, endometrium dapat mengalami pertumbuhan berlebihan. Pada sebagian perempuan, keadaan tersebut dapat berkembang menjadi hiperplasia dan kemudian meningkatkan kemungkinan munculnya perubahan sel yang lebih serius.
National Cancer Institute mencantumkan paparan estrogen, baik yang diproduksi tubuh maupun berasal dari terapi hormon tertentu, sebagai salah satu faktor penting yang berhubungan dengan kanker endometrium.
“Menurut penulis, istilah hormon sering membuat masyarakat menganggap estrogen sebagai sesuatu yang berbahaya. Padahal persoalannya bukan keberadaan estrogen itu sendiri, melainkan pola paparan dan keseimbangannya dengan hormon lain.”
Obesitas Berkaitan Erat dengan Peningkatan Risiko Kanker Endometrium
Berat badan berlebih merupakan salah satu faktor yang paling konsisten dikaitkan dengan kanker endometrium.
Jaringan lemak bukan sekadar tempat menyimpan energi. Jaringan tersebut juga berperan dalam proses hormonal. Setelah menopause, jaringan lemak dapat mengubah androgen menjadi estrogen.
Semakin banyak jaringan lemak, semakin besar kemungkinan kadar estrogen menjadi lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat membuat endometrium menerima stimulasi hormon dalam jangka panjang.
American Cancer Society menyebut seseorang dengan kelebihan berat badan memiliki risiko kanker endometrium yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang berada pada berat badan sehat. Organisasi tersebut juga menyebut kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko hingga beberapa kali lipat tergantung tingkat obesitas.
Obesitas juga sering berjalan bersama beberapa gangguan metabolik seperti diabetes dan tekanan darah tinggi sehingga diperlukan perhatian terhadap kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Menstruasi Terlalu Dini dan Menopause Terlambat Menambah Paparan Hormon
Jumlah siklus menstruasi yang dialami sepanjang hidup berkaitan dengan lamanya endometrium terpapar estrogen.
Perempuan yang mengalami menstruasi pertama pada usia relatif dini memiliki periode paparan hormonal lebih panjang. Hal serupa berlaku pada perempuan yang mengalami menopause pada usia lebih tua.
National Cancer Institute memasukkan menstruasi dini dan menopause terlambat sebagai faktor reproduksi yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker endometrium.
Hubungan ini bukan berarti menstruasi dini atau menopause terlambat otomatis menyebabkan kanker.
Faktor tersebut hanya meningkatkan kemungkinan berdasarkan pola paparan hormon dalam waktu panjang. Risiko individual tetap dipengaruhi oleh berbagai unsur lain seperti berat badan, keturunan, riwayat kehamilan, kondisi kesehatan, dan penggunaan obat tertentu.
Tidak Pernah Hamil Juga Berhubungan dengan Risiko Lebih Tinggi
Kehamilan mengubah pola hormon dalam tubuh perempuan. Selama masa tersebut, kadar progesteron meningkat dan jumlah siklus menstruasi berhenti untuk sementara.
Karena itu, seseorang yang pernah mengalami kehamilan mempunyai pola paparan hormon yang berbeda dibandingkan perempuan yang tidak pernah hamil.
American Cancer Society mencatat perempuan yang belum pernah hamil memiliki risiko kanker endometrium lebih tinggi dibandingkan perempuan yang pernah mengalami setidaknya satu kehamilan.
Hal tersebut tidak berarti perempuan yang belum memiliki anak harus merasa akan mengalami kanker rahim.
Status kehamilan hanyalah salah satu faktor dari banyak faktor yang diperhitungkan. Bahkan perempuan yang telah beberapa kali melahirkan tetap bisa mengalami kanker endometrium.
PCOS Bisa Membuat Pengaturan Hormon Menjadi Tidak Seimbang
Polycystic ovary syndrome atau PCOS merupakan gangguan hormonal yang dapat menyebabkan menstruasi tidak teratur, gangguan ovulasi, peningkatan hormon androgen, dan berbagai keluhan lainnya.
Pada sebagian penderita PCOS, ovulasi tidak terjadi secara teratur.
Ketika ovulasi jarang terjadi, produksi progesteron juga dapat berkurang sehingga endometrium mendapatkan rangsangan estrogen tanpa pengaturan progesteron yang memadai.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan endometrium terus menebal.
Baik NHS maupun National Cancer Institute memasukkan PCOS sebagai salah satu keadaan yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker rahim.
Perempuan dengan PCOS tidak otomatis akan terkena kanker. Penanganan gangguan menstruasi dan pengawasan kesehatan oleh dokter dapat membantu mengelola berbagai persoalan yang menyertainya.
Hiperplasia Endometrium Tidak Boleh Diabaikan
Hiperplasia endometrium merupakan keadaan ketika lapisan rahim mengalami pertumbuhan berlebihan.
Tidak semua hiperplasia akan berubah menjadi kanker. Tingkat risikonya bergantung pada bentuk perubahan sel yang ditemukan melalui pemeriksaan.
Hiperplasia dengan sel atipikal perlu mendapat perhatian lebih besar karena memiliki kemungkinan lebih tinggi berkembang menjadi kanker endometrium dibandingkan hiperplasia tanpa perubahan atipikal.
American Cancer Society memasukkan hiperplasia endometrium, khususnya hiperplasia atipikal, sebagai salah satu faktor yang meningkatkan risiko kanker.
Keluhan yang dapat muncul salah satunya adalah perdarahan menstruasi yang tidak normal. Pemeriksaan oleh dokter dapat melibatkan ultrasonografi, pengambilan sampel endometrium, atau prosedur lain sesuai kondisi pasien.
Usia Membuat Risiko Kanker Rahim Semakin Meningkat
Kanker rahim dapat muncul pada usia muda, tetapi kasus lebih banyak ditemukan setelah menopause.
National Cancer Institute menyebut rata rata usia saat diagnosis kanker endometrium berada sekitar 60 tahun. NHS juga menjelaskan kanker rahim paling sering terjadi pada perempuan yang sudah melewati menopause.
Bertambahnya usia memberi waktu lebih panjang bagi sel untuk mengalami perubahan genetik.
Selain itu, perempuan usia lebih tua mungkin telah mengalami paparan hormonal dan faktor metabolik selama puluhan tahun.
Namun, usia tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keluhan pada perempuan yang lebih muda. Kanker endometrium tetap dapat terjadi sebelum menopause, termasuk pada mereka yang mempunyai kondisi genetik tertentu.
Sindrom Lynch Bisa Membuat Risiko Berasal dari Faktor Keturunan
Sebagian kasus kanker rahim berkaitan dengan perubahan genetik yang diwariskan dari keluarga.
Salah satu yang paling dikenal adalah sindrom Lynch. Kondisi ini terjadi akibat perubahan pada gen yang berperan memperbaiki kesalahan DNA.
Orang dengan sindrom Lynch memiliki risiko lebih tinggi mengalami beberapa jenis kanker, terutama kanker kolorektal dan kanker endometrium. Risiko kanker ovarium, lambung, saluran kemih, dan beberapa organ lain juga dapat meningkat.
Riwayat keluarga menjadi informasi penting.
Seseorang sebaiknya membicarakan kemungkinan konseling genetik dengan dokter apabila terdapat beberapa anggota keluarga dekat yang mengalami kanker usus besar, kanker rahim, atau kanker terkait sindrom Lynch, terutama bila diagnosis terjadi pada usia relatif muda.
Pengujian genetik tidak diperlukan untuk semua orang. Dokter atau konselor genetik biasanya menilai pola penyakit dalam keluarga sebelum merekomendasikan pemeriksaan tertentu.
Riwayat Kanker Rahim dalam Keluarga Perlu Diperhatikan
Selain sindrom Lynch, mempunyai kerabat tingkat pertama seperti ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan yang mengalami kanker endometrium juga dikaitkan dengan peningkatan risiko.
American Cancer Society mencantumkan keluarga tingkat pertama dengan kanker endometrium sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Tidak seluruh kumpulan kasus kanker dalam sebuah keluarga disebabkan oleh sindrom genetik yang sudah diketahui.
Keluarga juga dapat memiliki pola hormon, gaya hidup, kondisi metabolik, atau variasi genetik yang sama.
Itulah sebabnya dokter biasanya menanyakan riwayat kanker dalam keluarga ketika menilai risiko seseorang.
Terapi Estrogen Tanpa Progesteron Bisa Meningkatkan Risiko
Sebagian perempuan menggunakan terapi hormon untuk mengurangi keluhan menopause seperti rasa panas, gangguan tidur, dan gejala lainnya.
Pada perempuan yang masih mempunyai rahim, pemberian estrogen sistemik tanpa progesteron dapat meningkatkan risiko kanker endometrium.
Estrogen merangsang pertumbuhan lapisan rahim, sedangkan progesteron membantu menahan stimulasi tersebut.
Karena alasan itu, penggunaan terapi hormon menopause harus disesuaikan dengan kondisi masing masing pasien dan dibicarakan bersama dokter.
Hal ini bukan alasan untuk menghentikan terapi hormon secara tiba tiba.
Jenis hormon, dosis, cara pemberian, riwayat kesehatan, usia, serta apakah seseorang masih memiliki rahim perlu diperhitungkan sebelum menentukan terapi.
Tamoxifen Memiliki Hubungan dengan Risiko Kanker Endometrium
Tamoxifen merupakan obat penting yang digunakan dalam pengobatan serta pencegahan kekambuhan beberapa jenis kanker payudara.
Obat ini dapat bekerja berbeda pada jaringan tubuh.
Pada jaringan payudara, tamoxifen menghambat aktivitas estrogen. Namun, pada rahim, obat tersebut dapat memberikan efek seperti estrogen sehingga pada sebagian pengguna meningkatkan kemungkinan terjadinya perubahan pada endometrium.
American Cancer Society menyebut peningkatan risiko kanker endometrium akibat tamoxifen tergolong rendah dan manfaat obat untuk pengobatan kanker payudara umumnya jauh lebih besar daripada risiko tersebut.
Pasien tidak dianjurkan menghentikan tamoxifen tanpa petunjuk dokter.
Perdarahan vagina tidak normal selama menggunakan obat ini perlu dilaporkan kepada tenaga medis agar penyebabnya dapat diperiksa.
Diabetes dan Gangguan Metabolik Turut Berkaitan dengan Kanker Rahim
Diabetes tipe 2 lebih sering ditemukan pada penderita kanker endometrium dibandingkan populasi tanpa penyakit tersebut.
Hubungannya cukup kompleks karena diabetes juga kerap berjalan bersama obesitas dan gangguan metabolik lain.
American Cancer Society memasukkan sindrom metabolik, yang dapat terdiri dari obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi, sebagai keadaan yang berhubungan dengan peningkatan risiko kanker endometrium.
Menjaga berat badan, melakukan aktivitas fisik secara rutin, serta mengelola diabetes sesuai arahan dokter merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Namun, seseorang dengan diabetes tidak otomatis akan mengalami kanker rahim.
Radioterapi pada Area Panggul Bisa Menjadi Faktor Risiko
Terapi radiasi merupakan salah satu metode penting dalam penanganan beberapa jenis kanker.
Pada pasien yang sebelumnya memperoleh radioterapi di daerah panggul, risiko berkembangnya kanker lain pada jaringan yang terkena radiasi dapat meningkat setelah bertahun tahun.
NHS dan American Cancer Society memasukkan riwayat radioterapi pada daerah panggul sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan kanker rahim.
Risiko ini tetap harus dibandingkan dengan manfaat radioterapi dalam mengobati kanker utama.
Dokter memilih terapi berdasarkan manfaat yang diperkirakan jauh lebih besar daripada potensi risiko jangka panjang.
Pasien dengan riwayat radioterapi sebaiknya tetap mengikuti jadwal pemeriksaan lanjutan yang diberikan oleh tim medis.
Kanker Rahim Tidak Sama dengan Kanker Serviks
Masyarakat masih sering menggunakan istilah kanker rahim untuk menyebut kanker serviks. Padahal keduanya berasal dari bagian organ yang berbeda.
Kanker endometrium bermula pada lapisan bagian dalam badan rahim.
Kanker serviks bermula pada leher rahim yang terletak di bagian bawah rahim dan terhubung dengan vagina.
Penyebab dan faktor risikonya juga berbeda.
Infeksi menetap oleh human papillomavirus atau HPV merupakan penyebab utama hampir seluruh kanker serviks. Sementara kanker endometrium lebih banyak berkaitan dengan perubahan sel, aktivitas hormon, obesitas, usia, serta faktor genetik tertentu.
Perbedaan tersebut penting karena langkah pemeriksaannya juga tidak sama.
Pap smear dan tes HPV digunakan untuk mendeteksi perubahan pada serviks, bukan sebagai pemeriksaan rutin untuk menemukan kanker endometrium.
Tidak Semua Faktor Risiko Bisa Dikendalikan
Usia, riwayat keluarga, dan perubahan genetik bawaan merupakan faktor yang tidak dapat diubah.
Namun, beberapa faktor lainnya masih dapat dikelola.
Menjaga berat badan sehat dan tetap aktif secara fisik dikaitkan dengan risiko kanker endometrium yang lebih rendah. Penggunaan terapi hormonal juga sebaiknya melalui konsultasi medis agar jenis obat sesuai dengan keadaan pasien.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan meliputi:
- Menjaga berat badan dalam rentang sehat
- Melakukan aktivitas fisik secara teratur
- Mengelola diabetes dengan baik
- Memeriksakan menstruasi yang sangat tidak teratur
- Berkonsultasi sebelum menggunakan terapi hormon menopause
- Menyampaikan riwayat kanker keluarga kepada dokter
- Memeriksakan perdarahan vagina yang tidak biasa
Tidak ada cara yang dapat menjamin seseorang sepenuhnya terbebas dari kanker endometrium.
Karena itu, mengenali perubahan tubuh tetap penting sekalipun seseorang merasa tidak mempunyai faktor risiko.
“Menurut penulis, pembicaraan mengenai kanker rahim seharusnya tidak berhenti pada daftar penyebab. Perubahan pola perdarahan sering kali justru menjadi petunjuk yang membuat penyakit dapat diperiksa lebih cepat.”
Perdarahan Setelah Menopause Perlu Segera Diperiksa
Salah satu tanda kanker endometrium yang paling sering ditemukan adalah perdarahan vagina yang tidak normal.
Perdarahan setelah menopause tidak dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan dan perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan.
Pada perempuan yang belum menopause, tanda yang perlu diperhatikan dapat berupa perdarahan di antara jadwal menstruasi, menstruasi yang berubah jauh lebih berat dari biasanya, atau pola perdarahan yang tidak lazim.
American Cancer Society menyebut perdarahan atau bercak vagina abnormal sebagai gejala paling umum kanker endometrium. Keluhan lain dapat berupa nyeri di perut atau panggul, nyeri ketika buang air kecil, maupun nyeri saat berhubungan seksual.
Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker karena infeksi, polip, gangguan hormon, fibroid, dan berbagai keadaan lain juga dapat menyebabkan keluhan serupa.
Pemeriksaan dokter diperlukan untuk menentukan penyebabnya. Pada pasien tertentu, evaluasi dapat dilanjutkan dengan ultrasonografi transvaginal, pemeriksaan jaringan endometrium, atau prosedur lain yang dipilih berdasarkan usia, gejala, serta riwayat kesehatan.
