Penyebab Leukemia, Faktor Risiko dari Genetik, Radiasi hingga Benzena

Riset3 Views

Penyebab leukemia tidak selalu dapat ditentukan secara pasti pada setiap pasien. Penyakit ini muncul ketika sel pembentuk darah mengalami perubahan pada materi genetik yang membuat pertumbuhan dan pembelahan sel tidak lagi berlangsung normal. Sel abnormal kemudian dapat berkembang di sumsum tulang dan mengganggu produksi sel darah sehat. Namun, pertanyaan mengapa perubahan tersebut terjadi pada seseorang sering kali tidak mempunyai satu jawaban sederhana.

Leukemia sendiri bukan satu penyakit tunggal. Jenis utamanya meliputi acute myeloid leukemia atau AML, acute lymphoblastic leukemia atau ALL, chronic lymphocytic leukemia atau CLL, serta chronic myeloid leukemia atau CML. Masing masing berasal dari jenis sel yang berbeda dan mempunyai faktor risiko yang tidak sepenuhnya sama.

Hal yang perlu dipahami sejak awal adalah perbedaan antara penyebab Leukemia dan faktor risiko. Faktor risiko meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami suatu penyakit, tetapi tidak berarti orang tersebut pasti akan terkena leukemia. Banyak pasien leukemia justru tidak mempunyai faktor risiko yang sebelumnya diketahui, sedangkan banyak orang dengan satu atau beberapa faktor risiko tidak pernah mengalami penyakit tersebut.

Leukemia Berawal dari Perubahan pada Sel Pembentuk Darah

Sumsum tulang merupakan jaringan tempat berbagai sel darah diproduksi. Sel punca darah berkembang menjadi sel darah merah, trombosit serta berbagai jenis sel darah putih yang mempunyai fungsi berbeda dalam tubuh.

Pada leukemia, perubahan tertentu membuat sebagian sel berkembang secara abnormal. Sel tersebut dapat kehilangan kemampuan untuk matang sebagaimana mestinya, terus membelah atau bertahan hidup lebih lama dibanding sel normal.

Pada AML, misalnya, terjadi peningkatan sel myeloid muda yang abnormal atau myeloblast. Ketika jumlahnya semakin banyak, ruang untuk pembentukan sel darah sehat berkurang. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan anemia, infeksi serta kecenderungan mengalami perdarahan.

Perubahan biologis seperti inilah yang secara langsung membentuk leukemia. Sementara rokok, benzena, radiasi dan sejumlah kondisi genetik lebih tepat disebut sebagai faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya perubahan tersebut.

Mutasi Genetik Tidak Selalu Berarti Diturunkan dari Orang Tua

Kata genetik sering menimbulkan anggapan bahwa leukemia pasti merupakan penyakit keturunan. Kenyataannya, banyak perubahan gen pada sel leukemia terjadi selama kehidupan seseorang dan tidak diwariskan sejak lahir.

Perubahan dapat muncul ketika DNA sebuah sel mengalami kesalahan selama proses pembelahan atau akibat paparan tertentu. Setelah sebuah sel memperoleh kombinasi perubahan yang memberikan keuntungan pertumbuhan, sel tersebut dapat berkembang menjadi kelompok sel abnormal.

Pada beberapa leukemia, perubahan gen tertentu bahkan menjadi ciri utama penyakit.

CML merupakan contoh yang sangat jelas. Sebagian besar orang dengan CML memiliki kromosom Philadelphia yang terbentuk dari pertukaran bagian kromosom 9 dan 22. Perubahan tersebut menghasilkan gen gabungan BCR ABL1 yang mendorong pertumbuhan sel leukemia.

Namun perubahan tersebut umumnya terjadi pada sel selama kehidupan seseorang, bukan diwariskan melalui keluarga. American Cancer Society mencatat riwayat keluarga CML tidak diketahui meningkatkan risiko penyakit tersebut.

Menurut penulis, istilah perubahan genetik perlu dijelaskan dengan hati hati karena tidak semua kelainan gen pada kanker berasal dari orang tua. Pada banyak kasus leukemia, perubahan justru terbentuk pada sel darah setelah seseorang lahir.

Usia Menjadi Faktor Penting pada Beberapa Jenis Leukemia

Risiko beberapa leukemia meningkat seiring bertambahnya usia. Hubungan ini terlihat sangat jelas pada AML dan CLL.

American Cancer Society mencatat AML relatif jarang terjadi pada orang berusia di bawah 45 tahun dan usia rata rata ketika diagnosis ditegakkan berada sekitar 69 tahun.

CLL juga terutama ditemukan pada orang dewasa dan sering muncul ketika seseorang memasuki atau melewati usia pertengahan. Penyakit ini sangat jarang ditemukan pada anak.

Peningkatan risiko pada usia lanjut berkaitan dengan akumulasi perubahan pada sel sepanjang kehidupan. Semakin lama sel menjalani pembelahan dan berhadapan dengan berbagai paparan, semakin besar kesempatan munculnya perubahan yang berhubungan dengan kanker.

Namun leukemia juga dapat terjadi pada anak. ALL bahkan merupakan salah satu leukemia yang paling banyak ditemukan pada kelompok usia anak, sehingga usia lanjut jelas bukan persyaratan untuk mengalami leukemia.

Rokok Berkaitan dengan Peningkatan Risiko AML

Rokok lebih dikenal masyarakat sebagai penyebab kanker paru, tetapi zat berbahaya dalam asap rokok juga berhubungan dengan leukemia tertentu.

National Cancer Institute memasukkan merokok sebagai salah satu faktor risiko AML yang dapat diubah.

Salah satu zat yang terdapat dalam asap rokok adalah benzena. NCI menjelaskan asap rokok menjadi sumber paparan benzena yang penting. Pada perokok, sebagian besar paparan benzena dapat berasal dari kebiasaan tersebut.

Hubungan merokok dengan leukemia tidak sama untuk semua jenis penyakit. CML, misalnya, tidak diketahui mempunyai hubungan yang jelas dengan kebiasaan merokok.

Karena itu, pernyataan bahwa rokok merupakan penyebab seluruh leukemia juga tidak tepat. Bukti yang lebih kuat terutama terlihat pada AML.

Benzena Merupakan Bahan Kimia yang Terbukti Berkaitan dengan Leukemia

Benzena menjadi salah satu paparan kimia yang paling kuat hubungannya dengan leukemia.

Bahan ini digunakan dalam sejumlah proses industri dan dapat ditemukan dalam bahan bakar, pelarut serta proses produksi berbagai bahan kimia. Paparan dapat terjadi terutama melalui udara yang mengandung benzena.

NCI menyatakan paparan benzena meningkatkan risiko leukemia dan gangguan darah lainnya. Bukti hubungan yang paling jelas terdapat pada AML.

Orang yang bekerja di lingkungan dengan penggunaan benzena dalam jumlah tinggi dapat menghadapi paparan yang lebih besar apabila sistem keselamatan tidak memadai.

Masyarakat umum juga dapat terpapar dalam jumlah lebih kecil melalui asap rokok, uap bahan bakar, emisi kendaraan dan sejumlah sumber lingkungan lainnya.

Keberadaan benzena di lingkungan tidak berarti setiap paparan singkat akan menyebabkan leukemia. Besarnya risiko berkaitan dengan tingkat serta lamanya paparan.

Radiasi Ionisasi Dosis Tinggi Dapat Meningkatkan Risiko

Paparan radiasi ionisasi dosis tinggi diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko beberapa jenis leukemia.

Data mengenai hubungan tersebut antara lain berasal dari penelitian terhadap penyintas ledakan bom atom serta kelompok yang memperoleh paparan radiasi tinggi. American Cancer Society menyatakan kelompok tersebut menunjukkan peningkatan risiko untuk sebagian besar leukemia, dengan pengecualian penting pada CLL.

NCI juga memasukkan paparan radiasi sebagai faktor risiko AML dan CML.

Hal tersebut tidak berarti seseorang sebaiknya menolak pemeriksaan medis yang menggunakan radiasi ketika memang dibutuhkan. Risiko dari paparan rendah seperti pemeriksaan sinar X atau CT tidak dapat disamakan dengan paparan radiasi dosis tinggi. American Cancer Society menyatakan kemungkinan peningkatan risiko dari paparan diagnostik dosis rendah masih belum dipahami sepenuhnya dan jika ada, besarnya diperkirakan kecil.

Kemoterapi Tertentu Bisa Berkaitan dengan Leukemia Sekunder

Salah satu hal yang terasa bertentangan adalah bahwa terapi untuk mengobati kanker dapat meningkatkan risiko kanker darah tertentu pada sebagian kecil pasien.

Kemoterapi tertentu dapat menimbulkan perubahan pada sel pembentuk darah sehingga beberapa tahun setelah terapi seseorang mengalami myelodysplastic syndrome atau AML terkait terapi. NCI mencantumkan riwayat kemoterapi sebagai salah satu faktor risiko AML.

Risikonya berbeda bergantung pada jenis obat, jumlah paparan dan kombinasi terapi yang digunakan.

NCI menjelaskan pada keganasan darah terkait terapi, interval waktu setelah paparan juga dapat berbeda menurut jenis pengobatannya. Beberapa kelainan dapat muncul beberapa tahun setelah penggunaan obat tertentu, sedangkan kelompok terapi lain mempunyai rentang waktu yang lebih panjang.

Informasi tersebut tidak berarti kemoterapi sebaiknya dihindari. Pada pasien kanker yang memerlukannya, manfaat terapi dapat jauh lebih besar daripada risiko terjadinya leukemia sekunder.

Radioterapi untuk Kanker Juga Memerlukan Pemantauan Jangka Panjang

Selain kemoterapi, riwayat radioterapi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko leukemia tertentu.

AML, CML dan ALL termasuk beberapa leukemia yang mempunyai hubungan dengan paparan radiasi sebelumnya.

Besarnya risiko tidak seragam. Jenis kanker awal, dosis radiasi, lokasi tubuh yang mendapat terapi, usia ketika memperoleh pengobatan serta penggunaan kemoterapi secara bersamaan dapat ikut memengaruhi risiko.

Bagi penyintas kanker, informasi ini menjadi alasan penting untuk tetap mengikuti jadwal kontrol setelah pengobatan selesai.

Namun, meningkatnya risiko tidak boleh dipahami sebagai kepastian bahwa leukemia akan muncul. Sebagian besar pasien yang menjalani radioterapi tidak kemudian mengalami leukemia.

Gangguan Sumsum Tulang Tertentu Dapat Mendahului AML

Tidak seluruh AML muncul pada seseorang yang sebelumnya mempunyai kondisi darah normal.

Beberapa pasien memiliki riwayat myelodysplastic syndrome atau kelainan darah lain sebelum AML berkembang. NCI memasukkan riwayat gangguan darah seperti myelodysplastic syndrome sebagai salah satu faktor risiko AML.

Myelodysplastic syndrome merupakan kelompok kelainan ketika sumsum tulang tidak menghasilkan sel darah sehat secara normal. Pada sebagian pasien, sel abnormal dapat memperoleh perubahan tambahan dan kemudian berkembang menjadi AML.

Karena itu, orang yang telah diketahui memiliki kelainan sumsum tulang biasanya memerlukan pemantauan hematologi secara berkala.

Perubahan hasil pemeriksaan darah pada kelompok ini tidak boleh dianggap sekadar anemia biasa tanpa evaluasi yang sesuai.

Down Syndrome Berkaitan dengan Risiko Leukemia Tertentu

Beberapa kondisi genetik yang sudah ada sejak lahir meningkatkan kemungkinan leukemia.

Down syndrome menjadi salah satu contoh yang paling dikenal. National Cancer Institute memasukkan Down syndrome sebagai salah satu faktor genetik yang meningkatkan risiko ALL pada anak.

Selain Down syndrome, sejumlah kelainan genetik langka seperti Fanconi anemia, Bloom syndrome, ataxia telangiectasia dan Li Fraumeni syndrome juga dikaitkan dengan peningkatan risiko leukemia tertentu.

Sebagian kondisi tersebut memengaruhi kemampuan sel menjaga atau memperbaiki DNA.

Ketika sistem perbaikan DNA tidak bekerja secara normal, sel lebih mudah mengumpulkan perubahan genetik yang dapat berhubungan dengan kanker.

Namun, anak yang mempunyai kondisi tersebut tetap tidak otomatis akan mengalami leukemia. Faktor genetik hanya menunjukkan bahwa risikonya lebih tinggi dibanding populasi umum.

Sebagian Besar Leukemia Anak Tidak Memiliki Penyebab yang Dapat Ditentukan

Leukemia pada anak sering membuat orang tua mencari sesuatu yang mereka lakukan atau konsumsi sebelumnya sebagai penyebab penyakit.

Penelitian sampai sekarang menunjukkan sebagian besar leukemia anak tidak mempunyai penyebab yang dapat ditentukan secara individual. American Cancer Society menyatakan sebagian besar anak dengan leukemia tidak memiliki faktor risiko yang diketahui.

NCI juga menjelaskan ALL anak terjadi akibat perubahan pada fungsi sel pembentuk darah, tetapi penyebab pasti perubahan tersebut sering tidak diketahui.

Hal ini penting karena orang tua kerap merasa bersalah dan mencoba menghubungkan penyakit dengan makanan, aktivitas atau kejadian tertentu yang sebenarnya belum terbukti berhubungan.

Penelitian mengenai kombinasi kerentanan genetik dan faktor lingkungan masih terus berlangsung.

Faktor Risiko ALL Berbeda dengan AML

ALL berawal dari jalur sel limfoid, sehingga pola faktor risikonya tidak sepenuhnya sama dengan AML.

Pada ALL orang dewasa, NCI mencatat beberapa faktor yang mungkin meningkatkan risiko, antara lain riwayat kemoterapi atau radioterapi, paparan radiasi lingkungan dalam tingkat tinggi serta gangguan genetik tertentu seperti Down syndrome.

American Cancer Society juga memasukkan sejumlah paparan kimia, infeksi virus tertentu dan sindrom genetik tertentu dalam pembahasan faktor risiko ALL.

Namun sebagian besar pasien ALL tetap tidak mempunyai satu pemicu yang dapat ditunjuk sebagai penyebab.

Karena itu, diagnosis ALL tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa seseorang sebelumnya pasti terpapar radiasi, bahan kimia atau mempunyai penyakit keturunan.

CLL Lebih Banyak Berkaitan dengan Usia dan Riwayat Keluarga

CLL mempunyai profil berbeda dari AML dan ALL.

Penyakit ini terutama menyerang orang dewasa dan berkembang relatif lambat pada banyak pasien.

American Cancer Society mencatat faktor seperti usia, riwayat keluarga dan sejumlah paparan tertentu telah dikaitkan dengan peningkatan risiko CLL. Paparan Agent Orange juga mempunyai hubungan yang dilaporkan dalam berbagai penelitian, sedangkan hubungan dengan beberapa pestisida masih terus dipelajari.

Berbeda dengan sebagian besar leukemia lain, paparan radiasi tidak menunjukkan hubungan yang sama kuat dengan CLL. Studi terhadap penyintas ledakan bom atom menemukan peningkatan pada banyak jenis leukemia tetapi bukan CLL.

Perbedaan tersebut kembali menunjukkan bahwa leukemia tidak dapat diperlakukan sebagai satu penyakit dengan satu kelompok penyebab.

CML Sangat Erat dengan Kromosom Philadelphia

Di antara berbagai jenis leukemia, CML mempunyai perubahan molekuler yang sangat khas.

Kromosom Philadelphia terbentuk ketika bagian kromosom 9 dan 22 bertukar posisi. Perubahan tersebut menciptakan gen BCR ABL1 yang menghasilkan protein dengan aktivitas tirosin kinase abnormal dan mendorong pertumbuhan sel.

Keberadaan perubahan ini sangat penting dalam diagnosis sekaligus menentukan terapi modern CML.

Menariknya, faktor risiko lingkungan yang diketahui untuk CML relatif sedikit. Usia yang lebih tua dan paparan radiasi dosis tinggi merupakan dua faktor yang paling jelas.

American Cancer Society menyatakan merokok, pola makan, infeksi dan berbagai paparan kimia tidak diketahui meningkatkan risiko CML secara jelas. Riwayat keluarga juga tidak menunjukkan hubungan seperti pada sejumlah kanker keturunan.

Leukemia Tidak Disebabkan oleh Satu Jenis Makanan

Tidak ada bukti bahwa satu makanan tertentu merupakan penyebab langsung leukemia.

Leukemia terbentuk melalui perubahan kompleks pada sel pembentuk darah, sementara faktor yang telah diketahui lebih banyak berkaitan dengan genetik, usia, paparan benzena, radiasi, beberapa pengobatan kanker serta gangguan sumsum tulang tertentu.

Karena itu, menyalahkan makanan tertentu setelah seseorang didiagnosis leukemia dapat menyesatkan.

Pola makan tetap penting bagi kesehatan secara umum, tetapi saat ini tidak ada pola makanan yang dapat menjamin seseorang tidak akan mengalami leukemia.

Hal serupa berlaku pada berbagai produk herbal atau suplemen yang dipasarkan dengan klaim membersihkan darah atau mencegah kanker darah. Klaim seperti itu tidak dapat menggantikan bukti medis.

Leukemia Juga Tidak Menular dari Satu Orang ke Orang Lain

Leukemia merupakan kanker yang berasal dari perubahan pada sel seseorang, bukan penyakit yang berpindah melalui sentuhan, udara atau berbagi makanan.

Karena itu, tinggal serumah, bersalaman, memeluk atau makan bersama pasien leukemia tidak menyebabkan seseorang tertular penyakit tersebut.

Beberapa infeksi virus tertentu memang diteliti karena berhubungan dengan keganasan sel darah tertentu, tetapi mekanismenya berbeda dari gagasan bahwa leukemia itu sendiri dapat menular. American Cancer Society mencatat infeksi tertentu hanya menjadi faktor pada sebagian jenis ALL yang spesifik.

Informasi tersebut penting agar pasien leukemia tidak mengalami pengucilan akibat anggapan yang keliru.

Memiliki Faktor Risiko Bukan Berarti Pasti Terkena Leukemia

Seseorang yang pernah merokok, terpapar benzena atau menjalani kemoterapi tidak otomatis akan mengalami leukemia.

Sebaliknya, pasien tanpa faktor risiko yang jelas tetap dapat terkena penyakit ini. NCI menegaskan keberadaan satu atau beberapa faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami AML, sedangkan orang tanpa faktor yang diketahui juga tetap dapat didiagnosis.

Konsep yang sama berlaku pada leukemia anak. Sebagian besar kasus bahkan muncul tanpa faktor risiko yang sebelumnya dapat dikenali.

Karena itu, faktor risiko lebih berguna untuk memahami kemungkinan pada tingkat populasi dan membantu penelitian daripada menentukan siapa yang pasti akan sakit.

Menurut penulis, pembahasan penyebab leukemia sebaiknya tidak berubah menjadi usaha mencari siapa yang harus disalahkan. Pada banyak pasien, ilmu kedokteran memang belum mampu menunjuk satu kejadian yang secara pasti memulai penyakit.

Gejala yang Mencurigakan Tetap Memerlukan Pemeriksaan Darah

Mengetahui faktor risiko tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis leukemia.

AML, misalnya, dapat menimbulkan keluhan seperti lemas, demam, infeksi berulang, pucat serta mudah mengalami perdarahan atau memar. Gejala tersebut terjadi karena produksi sel darah normal mulai terganggu, tetapi keluhan serupa juga dapat ditemukan pada banyak penyakit lain.

ALL juga dapat berkaitan dengan kelelahan, infeksi, perdarahan atau memar akibat perubahan jumlah sel darah. Pemeriksaan darah menjadi salah satu tahap utama ketika dokter mencurigai kelainan tersebut.

Diagnosis leukemia biasanya membutuhkan pemeriksaan jumlah dan bentuk sel darah serta, pada banyak keadaan, pemeriksaan sumsum tulang dan analisis genetik atau molekuler.

Karena itu, demam berkepanjangan, pucat berat, memar tanpa sebab jelas, perdarahan berulang, infeksi yang terus muncul atau kelelahan berat sebaiknya diperiksakan terutama apabila tidak membaik.

Mengurangi Paparan yang Bisa Dikendalikan Tetap Penting

Tidak semua faktor penyebab leukemia dapat dicegah. Usia, kondisi genetik dan perubahan spontan pada sel jelas berada di luar kendali seseorang.

Namun beberapa paparan dapat dikurangi.

Tidak merokok menjadi salah satu langkah yang paling jelas karena rokok merupakan faktor risiko AML sekaligus sumber benzena.

Pekerja yang berada di lingkungan dengan benzena atau bahan berbahaya juga perlu mengikuti standar keselamatan kerja, menggunakan alat pelindung sesuai kebutuhan serta membatasi paparan berdasarkan peraturan yang berlaku.

Pemeriksaan dengan radiasi tetap sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan medis. Menghindari pemeriksaan yang diperlukan karena takut leukemia juga bukan pilihan yang tepat, sebab risiko dari paparan diagnostik rendah tidak dapat dibandingkan langsung dengan paparan radiasi dosis tinggi.

Pada akhirnya, penyebab leukemia terbentuk dari hubungan yang rumit antara perubahan sel, usia, faktor bawaan dan sejumlah paparan tertentu. AML mempunyai hubungan yang lebih jelas dengan rokok, benzena, terapi kanker sebelumnya dan beberapa gangguan darah. ALL berkaitan dengan sejumlah kelainan genetik serta paparan tertentu, sementara banyak kasus tetap tidak memiliki pemicu yang dapat ditemukan. CLL lebih dekat dengan usia dan riwayat keluarga tertentu, sedangkan CML mempunyai ciri molekuler khas berupa BCR ABL1 dan hanya mempunyai sedikit faktor risiko lingkungan yang telah terbukti.