Penyebab Kanker Tulang Menurut WHO, Genetik hingga Paparan Radiasi

Riset3 Views

Kanker tulang sering dikaitkan dengan benturan, kebiasaan olahraga, pola makan, atau kekurangan kalsium. Anggapan tersebut mudah berkembang karena gejala awal penyakit ini dapat menyerupai cedera biasa, terutama ketika pasien mengalami nyeri, pembengkakan, atau keterbatasan gerak pada lengan dan tungkai.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO tidak menyebut satu penyebab tunggal yang berlaku untuk seluruh kasus kanker tulang. WHO menjelaskan bahwa kanker terbentuk ketika sel normal mengalami perubahan genetik, lalu tumbuh secara tidak terkendali dan dapat menyerang jaringan di sekitarnya. Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan faktor bawaan maupun paparan agen penyebab kanker dari luar tubuh.

Khusus pada kanker anak, WHO menyatakan bahwa sebagian besar kasus tidak memiliki penyebab yang dapat diketahui secara pasti. Kanker tulang termasuk jenis kanker yang lebih sering ditemukan pada masa remaja dibandingkan usia anak yang lebih muda. WHO juga mencatat bahwa sangat sedikit kanker pada anak yang dapat langsung dihubungkan dengan lingkungan atau gaya hidup.

Penjelasan tersebut penting agar pasien dan keluarga tidak menyalahkan makanan, aktivitas, atau kejadian tertentu tanpa dasar medis. Kanker tulang merupakan kelompok penyakit yang beragam. Faktor yang meningkatkan risiko osteosarkoma belum tentu sama dengan faktor yang berkaitan dengan kondrosarkoma, sarkoma Ewing, atau kordoma.

Kanker Tulang Primer Berbeda dari Kanker yang Menyebar ke Tulang

Sebelum membahas penyebabnya, perbedaan antara kanker tulang primer dan kanker tulang sekunder perlu dipahami. Kanker tulang primer bermula dari sel yang berada di dalam jaringan tulang. Penyakit ini termasuk kelompok sarkoma dan tergolong jarang dibandingkan jenis kanker lain.

Kanker tulang sekunder bermula dari organ lain, kemudian menyebar ke tulang. Kanker payudara yang menyebar ke tulang tetap disebut kanker payudara metastatik, bukan kanker tulang primer. Hal yang sama berlaku pada kanker prostat, paru, ginjal, atau organ lain yang menyebar menuju kerangka tubuh.

National Cancer Institute menjelaskan bahwa tumor ganas yang menyebar ke tulang jauh lebih sering ditemukan pada orang dewasa dibandingkan kanker tulang primer. Perbedaan ini menentukan pemeriksaan, pengobatan, dan penilaian perjalanan penyakit.

Kanker tulang primer sendiri mencakup beberapa jenis. Osteosarkoma muncul dari sel pembentuk tulang dan banyak ditemukan pada anak, remaja, serta dewasa muda. Kondrosarkoma berkembang dari jaringan tulang rawan dan lebih banyak ditemukan pada orang berusia di atas 40 tahun. Sarkoma Ewing umumnya menyerang anak dan remaja, sedangkan kordoma tumbuh pada tulang belakang atau dasar tengkorak.

“Menyebut semua penyakit ganas di tulang sebagai satu jenis kanker dapat menyesatkan, sebab asal sel dan faktor risikonya berbeda.”

Sebagian Besar Kasus Tidak Memiliki Penyebab yang Jelas

Pertanyaan mengenai penyebab kanker tulang tidak selalu dapat dijawab dengan menunjuk satu kejadian. National Cancer Institute menegaskan bahwa kanker tulang primer tidak mempunyai penyebab yang didefinisikan dengan jelas. Para peneliti baru dapat mengidentifikasi sejumlah keadaan yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami tumor tersebut.

Faktor risiko berbeda dari penyebab langsung. Seseorang yang mempunyai faktor risiko belum tentu akan terkena kanker tulang. Sebaliknya, kanker dapat muncul pada orang yang tidak memiliki satu pun faktor risiko yang telah dikenal.

Pada tingkat sel, kanker bermula ketika materi genetik mengalami perubahan yang mengganggu pengaturan pertumbuhan dan pembelahan. Sel yang seharusnya berhenti tumbuh atau mati dapat terus memperbanyak diri. Kumpulan sel abnormal kemudian membentuk tumor dan merusak jaringan sehat.

WHO membagi agen dari luar tubuh yang dapat terlibat dalam pembentukan kanker menjadi tiga kelompok besar. Kelompok pertama adalah karsinogen fisik, termasuk radiasi pengion. Kelompok kedua adalah karsinogen kimia, sementara kelompok ketiga berasal dari agen biologis seperti virus, bakteri, atau parasit tertentu. Pembagian tersebut berlaku untuk kanker secara umum dan tidak berarti seluruh agen itu terbukti menyebabkan kanker tulang.

Pemisahan ini penting karena faktor populer seperti merokok, alkohol, kelebihan berat badan, dan pola makan tidak otomatis menjadi penyebab kanker tulang primer. Faktor tersebut memang berhubungan dengan sejumlah kanker, tetapi bukti untuk setiap organ dan jenis tumor harus dinilai secara tersendiri.

Perubahan Genetik Menjadi Dasar Terbentuknya Sel Kanker

Menurut WHO, kanker dimulai dari perubahan genetik pada satu atau beberapa sel. Perubahan itu dapat muncul selama kehidupan seseorang atau telah dibawa sejak lahir. Namun, memiliki perubahan genetik tertentu tidak selalu berarti seseorang pasti akan mengalami kanker.

Tubuh memiliki gen yang bertugas mengatur pembelahan sel, memperbaiki kerusakan DNA, dan menghentikan pertumbuhan sel abnormal. Apabila sistem tersebut terganggu, sel dapat tumbuh tanpa pengendalian. Pada kanker tulang, perubahan dapat terjadi pada gen penghambat tumor maupun gen lain yang mengatur perkembangan jaringan.

WHO memperkirakan sekitar 10 persen anak dengan kanker mempunyai kecenderungan yang berkaitan dengan faktor genetik. Angka tersebut berlaku untuk seluruh kanker anak, bukan hanya kanker tulang. Sebagian besar anak yang didiagnosis kanker tetap tidak mempunyai penyebab bawaan yang dapat dikenali.

Penelitian National Cancer Institute menemukan bahwa varian merugikan pada gen yang berkaitan dengan kecenderungan kanker lebih sering ditemukan pada pasien osteosarkoma dibandingkan kelompok tanpa kanker. Temuan itu tidak berarti seluruh osteosarkoma diwariskan, tetapi menunjukkan bahwa pemeriksaan genetik dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu, terutama yang berusia sangat muda atau memiliki riwayat kanker dalam keluarga.

Sindrom Li Fraumeni Meningkatkan Risiko Osteosarkoma

Salah satu kelainan bawaan yang dikenal berkaitan dengan kanker tulang adalah sindrom Li Fraumeni. Kondisi ini sering berhubungan dengan perubahan pada gen TP53, yaitu gen yang membantu menghentikan pertumbuhan sel dengan kerusakan DNA.

Anggota keluarga dengan sindrom Li Fraumeni mempunyai risiko lebih tinggi mengalami beberapa jenis kanker. Di antaranya adalah osteosarkoma, kondrosarkoma, kanker payudara, tumor otak, leukemia, dan sarkoma jaringan lunak. Namun, kondisi ini sangat jarang dalam populasi umum.

National Cancer Institute pernah menemukan mutasi TP53 yang berkaitan dengan sindrom Li Fraumeni pada sebagian kecil pasien osteosarkoma berusia muda. Lembaga tersebut juga menegaskan bahwa sekitar 90 persen osteosarkoma pada kelompok muda dalam penelitian itu tidak mempunyai mutasi bawaan TP53.

Pemeriksaan genetik tidak diberikan kepada semua orang yang mengalami nyeri tulang. Dokter biasanya mempertimbangkannya berdasarkan usia saat diagnosis, jenis tumor, riwayat keluarga, kemunculan lebih dari satu kanker, serta ciri klinis lain yang mengarah pada sindrom bawaan.

Hasil pemeriksaan juga harus dijelaskan melalui konseling genetik. Sebuah varian gen dapat terbukti berbahaya, bersifat jinak, atau belum memiliki arti klinis yang pasti. Penafsiran tanpa pendampingan ahli dapat menimbulkan kekhawatiran yang tidak diperlukan.

Retinoblastoma Bawaan Berkaitan dengan Osteosarkoma

Retinoblastoma merupakan kanker mata yang terutama menyerang anak. Sebagian kasus terjadi karena perubahan bawaan pada gen RB1. Anak dengan retinoblastoma herediter mempunyai risiko lebih tinggi mengalami kanker kedua, termasuk osteosarkoma.

Risiko tersebut dapat bertambah ketika pasien pernah menerima terapi radiasi. National Cancer Institute menyebut anak dengan retinoblastoma bawaan memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami osteosarkoma, khususnya apabila pengobatannya melibatkan radiasi.

Gen RB1 membantu mengatur pembelahan sel. Ketika fungsi pengendaliannya terganggu, sel dapat lebih mudah berkembang secara tidak normal. Hubungan antara retinoblastoma herediter dan osteosarkoma memperlihatkan bahwa satu perubahan gen dapat memengaruhi lebih dari satu jaringan tubuh.

Meski demikian, orang tua tidak perlu menganggap setiap anak yang pernah menjalani pengobatan retinoblastoma pasti akan terkena kanker tulang. Risiko yang meningkat tetap berbeda dari kepastian. Pasien memerlukan pemantauan teratur berdasarkan anjuran tim kanker anak.

Kelainan Bawaan Lain Juga Perlu Diperhatikan

Selain sindrom Li Fraumeni dan retinoblastoma herediter, sejumlah kondisi langka dapat meningkatkan risiko osteosarkoma. National Cancer Institute memasukkan sindrom Bloom, anemia Diamond Blackfan, sindrom Rothmund Thomson, sindrom Werner, serta perubahan tertentu pada gen RB1 sebagai faktor risiko.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi proses perbaikan DNA, kestabilan kromosom, pertumbuhan tubuh, atau pembentukan sel darah. Gangguan pada sistem pemeliharaan materi genetik dapat membuat sel lebih mudah mengumpulkan perubahan abnormal.

Kelainan tulang bawaan tertentu juga dapat meningkatkan risiko kondrosarkoma. Pada sebagian pasien, tumor tulang rawan jinak tumbuh di beberapa lokasi. Kebanyakan tetap jinak, tetapi beberapa dapat mengalami perubahan menjadi tumor ganas.

Kordoma pada anak juga pernah dikaitkan dengan kompleks tuberous sclerosis. Kelainan genetik ini dapat menyebabkan pertumbuhan tumor jinak di sejumlah organ, termasuk otak, ginjal, kulit, mata, jantung, dan paru. Hubungannya dengan kordoma anak tetap tergolong jarang.

Riwayat keluarga menjadi informasi penting bagi dokter. Pasien perlu menyampaikan apabila beberapa anggota keluarga mengalami kanker pada usia muda, terdapat kasus kanker yang berulang pada orang yang sama, atau ditemukan pola tumor langka dalam beberapa generasi.

Paparan Radiasi Pengion Bisa Menaikkan Risiko

Radiasi pengion merupakan salah satu karsinogen fisik yang diakui WHO. Jenis radiasi ini memiliki energi yang cukup untuk merusak materi genetik di dalam sel. Dalam pelayanan kesehatan, radiasi digunakan secara terukur untuk pemeriksaan maupun pengobatan.

Riwayat terapi radiasi dosis tinggi pada tulang diketahui meningkatkan risiko osteosarkoma. Tumor dapat muncul beberapa tahun setelah pengobatan, terutama di bagian tubuh yang dahulu menerima paparan. Risiko lebih diperhatikan pada pasien yang memperoleh terapi saat masih anak.

Penjelasan tersebut tidak berarti pemeriksaan rontgen biasa langsung menyebabkan kanker tulang. Dosis dan tujuan paparan berbeda. Manfaat pemeriksaan medis yang diperlukan umumnya jauh lebih besar dibandingkan risikonya, terutama ketika penggunaan radiasi dilakukan sesuai standar.

WHO menganjurkan penggunaan radiasi yang aman dan sesuai kebutuhan dalam pelayanan kesehatan. Organisasi tersebut juga merekomendasikan pembatasan paparan radiasi pengion di tempat kerja.

Pasien sebaiknya tidak menolak pemeriksaan yang dibutuhkan hanya karena khawatir terhadap radiasi. Dokter dan petugas radiologi akan memilih jenis pemeriksaan berdasarkan kebutuhan, usia, lokasi keluhan, serta informasi yang ingin diperoleh.

Pengobatan Kanker Sebelumnya Dapat Menjadi Faktor Risiko

Sebagian kecil pasien yang pernah sembuh dari kanker dapat mengalami kanker kedua pada kemudian hari. Osteosarkoma termasuk salah satu penyakit yang lebih sering ditemukan pada orang dengan riwayat terapi radiasi dosis tinggi atau penggunaan obat antikanker tertentu.

National Cancer Institute menyebut obat golongan alkylating agents sebagai salah satu terapi yang dikaitkan dengan peningkatan risiko. Transplantasi sel punca hematopoietik dengan persiapan mieloablatif juga disebut berkaitan dengan osteosarkoma pada sebagian kecil anak yang menjalani prosedur tersebut.

Informasi ini tidak boleh ditafsirkan bahwa kemoterapi merupakan pengobatan yang harus dihindari. Pada pasien kanker, kemoterapi dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi risiko penyakit kembali. Setiap terapi diberikan setelah dokter membandingkan manfaat dan kemungkinan efek yang dapat muncul.

Pasien yang telah menyelesaikan pengobatan membutuhkan pemeriksaan lanjutan sesuai jadwal. Tim medis biasanya memantau kesehatan organ, pertumbuhan anak, fungsi tubuh, serta kemungkinan munculnya penyakit lain yang berkaitan dengan terapi terdahulu.

“Riwayat pengobatan kanker perlu dilihat sebagai alasan untuk menjalani pemantauan teratur, bukan sebagai sumber ketakutan terhadap terapi yang pernah menyelamatkan pasien.”

Penyakit Paget pada Tulang Berkaitan dengan Osteosarkoma

Penyakit Paget pada tulang merupakan kelainan yang menyebabkan proses pembentukan kembali tulang berlangsung tidak normal. Tulang dapat menjadi lebih besar, berubah bentuk, rapuh, atau mudah mengalami kerusakan.

National Cancer Institute menyatakan bahwa orang berusia di atas 40 tahun dengan penyakit Paget mempunyai risiko lebih tinggi mengalami osteosarkoma. Namun, perubahan menjadi kanker tetap terjadi pada sebagian kecil pasien.

Penyakit Paget lebih sering ditemukan pada orang berusia lanjut. Karena itu, osteosarkoma pada kelompok usia tua dapat memiliki latar belakang berbeda dari osteosarkoma yang muncul pada remaja.

Pasien dengan penyakit Paget perlu memeriksakan diri apabila muncul nyeri baru yang menetap, pembengkakan, perubahan bentuk tulang, atau gangguan gerak yang memburuk. Pemeriksaan diperlukan untuk membedakan aktivitas penyakit Paget dari patah tulang, radang sendi, maupun tumor ganas.

Pertumbuhan Cepat Remaja Bukan Kesalahan Pasien

Osteosarkoma paling sering ditemukan pada masa remaja, ketika tulang panjang mengalami pertumbuhan cepat. Tumor tersebut banyak muncul di sekitar lutut atau bagian atas lengan. Pola usia dan lokasi ini membuat proses pertumbuhan tulang dipelajari sebagai salah satu bagian dari pembentukan penyakit.

Namun, pertumbuhan tinggi badan bukan perilaku yang dapat dikendalikan. Remaja tidak menyebabkan kanker karena berolahraga, bergerak aktif, atau tumbuh lebih cepat dari teman sebayanya.

Usia dan fase pertumbuhan lebih tepat dipahami sebagai pola epidemiologis. Keduanya membantu dokter mengenali kelompok yang lebih sering mengalami penyakit, tetapi tidak dapat digunakan untuk menentukan penyebab pada seorang pasien.

Hal serupa berlaku pada jenis kelamin dan latar belakang keturunan. Osteosarkoma dan sarkoma Ewing menunjukkan perbedaan angka kejadian pada kelompok tertentu, tetapi identitas pasien bukan kesalahan atau pilihan yang memicu penyakit.

Sarkoma Ewing Masih Menyimpan Banyak Pertanyaan

Sarkoma Ewing terbentuk akibat perubahan pada cara sel tumbuh dan membelah. Tumor ini sering memiliki penyusunan ulang materi genetik tertentu di dalam sel kanker. Perubahan tersebut membantu dokter mengenali penyakit melalui pemeriksaan jaringan.

Meski perubahan pada sel tumor dapat ditemukan, penyebab awal terjadinya perubahan itu sering tidak diketahui. National Cancer Institute menyatakan bahwa sarkoma Ewing dapat muncul pada anak yang tidak mempunyai faktor risiko yang telah dikenal.

Sarkoma Ewing juga tidak mempunyai hubungan kuat dengan kebiasaan makan, aktivitas olahraga, benturan, atau cedera. Benjolan sering baru terasa setelah bagian tubuh terbentur karena pasien mulai memperhatikan lokasi tersebut. Benturan dapat membuka keberadaan keluhan, tetapi bukan berarti benturan menciptakan kanker.

Bukti ilmiah terus mempelajari unsur genetik yang memengaruhi kerentanan seseorang. Meski demikian, temuan mengenai kerentanan genetik tidak selalu sama dengan penyakit bawaan yang diwariskan secara sederhana dari orang tua kepada anak.

Cedera Tidak Diakui sebagai Penyebab Kanker Tulang

Banyak pasien pertama kali menyadari nyeri setelah jatuh, bermain sepak bola, berlari, atau mengalami benturan. Hubungan waktu tersebut sering menimbulkan dugaan bahwa cedera menyebabkan kanker.

Secara medis, cedera tidak dianggap sebagai penyebab kanker tulang. Tumor mungkin telah tumbuh sebelum benturan terjadi. Cedera dapat membuat area tersebut terasa lebih sakit, memicu pemeriksaan radiologi, atau menyebabkan patah pada tulang yang telah dilemahkan tumor.

Nyeri akibat cedera biasanya berangsur membaik. Sebaliknya, nyeri akibat tumor dapat menetap, bertambah berat, sering muncul pada malam hari, atau disertai pembengkakan. Meski begitu, pola nyeri saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis.

National Cancer Institute menyebut nyeri sebagai gejala kanker tulang yang paling umum. Tanda lain dapat berupa pembengkakan, benjolan, demam tanpa sebab yang jelas, serta tulang patah tanpa pemicu yang sebanding. Keluhan tersebut juga dapat disebabkan penyakit lain sehingga pemeriksaan dokter tetap diperlukan.

Makanan dan Kekurangan Kalsium Bukan Penyebab yang Terbukti

Tidak ada keterangan WHO yang menyatakan kekurangan kalsium sebagai penyebab langsung osteosarkoma, kondrosarkoma, atau sarkoma Ewing. Kalsium memang penting bagi kekuatan tulang, tetapi kanker terbentuk melalui perubahan sel yang jauh lebih rumit.

Mengonsumsi susu, vitamin, atau suplemen juga tidak dapat menjamin seseorang terhindar dari kanker tulang. Suplemen sebaiknya digunakan berdasarkan kebutuhan, bukan sebagai pengganti pemeriksaan saat nyeri tulang menetap.

Pola makan sehat tetap diperlukan untuk menjaga kondisi tubuh secara umum. Namun, keluarga pasien tidak seharusnya menyalahkan makanan tertentu yang dikonsumsi sebelum diagnosis. Pada sebagian besar kanker tulang anak, tidak ditemukan hubungan langsung dengan gaya hidup. WHO secara tegas menyebut sangat sedikit kanker anak yang disebabkan faktor lingkungan atau kebiasaan hidup.

Informasi mengenai makanan penyebab kanker tulang yang beredar di media sosial perlu diperiksa dengan hati hati. Klaim tersebut sering tidak membedakan kanker tulang primer, kanker yang menyebar ke tulang, tumor jinak, dan gangguan kepadatan tulang.

Mengenali Gejala Lebih Penting daripada Mencari Pihak yang Disalahkan

Karena sebagian besar penyebab kanker tulang tidak dapat diketahui, perhatian perlu diarahkan pada pengenalan keluhan dan pemeriksaan yang tepat. WHO menyebut nyeri tulang sebagai salah satu tanda peringatan kanker pada anak, terutama apabila keluhan berat, menetap, atau disertai penurunan berat badan.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan menilai riwayat kesehatan pribadi maupun keluarga. Pemeriksaan pencitraan dapat meliputi rontgen, CT scan, MRI, pemindaian tulang, atau PET scan sesuai kebutuhan. Diagnosis pasti biasanya memerlukan biopsi agar jaringan dapat diperiksa oleh dokter patologi.

Biopsi tumor tulang sebaiknya direncanakan oleh tim yang berpengalaman menangani sarkoma. Jalur pengambilan jaringan harus dipilih dengan hati hati karena dapat memengaruhi operasi berikutnya. Pasien dapat dirujuk kepada dokter ortopedi onkologi, dokter kanker anak, dokter radiologi, dan dokter patologi.

Nyeri yang muncul setelah aktivitas tidak selalu menandakan kanker. Pemeriksaan lebih diperlukan apabila keluhan tidak membaik, pembengkakan terus membesar, gerakan sendi terganggu, pasien berjalan pincang, atau tulang patah tanpa kecelakaan berat.

Riwayat terapi radiasi, kemoterapi, retinoblastoma bawaan, penyakit Paget, serta sindrom kanker dalam keluarga perlu disampaikan kepada dokter. Informasi tersebut membantu tenaga medis menentukan pemeriksaan yang sesuai dan menilai apakah konseling genetik diperlukan.