Penyebab Tensi Rendah yang Sering Diabaikan dan Tanda Bahayanya

Riset3 Views

Penyebab tensi rendah atau tekanan darah rendah kerap dianggap sebagai gangguan ringan yang cukup diatasi dengan beristirahat atau mengonsumsi makanan tertentu. Padahal, penurunan tekanan darah dapat terjadi akibat kekurangan cairan, perdarahan, gangguan jantung, perubahan hormon, infeksi berat, hingga penggunaan obat. Kondisi tersebut juga bisa muncul secara mendadak atau berlangsung dalam waktu lama tanpa keluhan yang jelas.

Tekanan darah menggambarkan kekuatan aliran darah ketika mendorong dinding pembuluh darah. Angka pertama disebut tekanan sistolik, sedangkan angka kedua merupakan tekanan diastolik. Seseorang umumnya disebut mengalami hipotensi apabila hasil pengukurannya berada di bawah 90/60 mmHg. Namun, angka tersebut tidak selalu berbahaya apabila orang yang bersangkutan tetap bugar dan tidak mengalami keluhan.

Persoalan mulai memerlukan perhatian ketika tekanan darah rendah disertai pusing, pandangan kabur, tubuh lemas, mual, kebingungan, jantung berdebar, atau kehilangan kesadaran. Keluhan itu dapat menandakan bahwa organ tubuh tidak menerima aliran darah yang memadai. Penyebabnya perlu diperiksa karena penanganan tensi rendah harus disesuaikan dengan gangguan yang mendasarinya.

Kekurangan Cairan Membuat Volume Darah Menurun

Dehidrasi merupakan salah satu penyebab tensi rendah yang paling sering ditemukan. Tubuh membutuhkan cairan untuk menjaga volume darah sekaligus membantu sirkulasi berjalan dengan baik. Ketika cairan yang keluar lebih banyak daripada yang masuk, volume darah dapat berkurang sehingga tekanan di dalam pembuluh ikut turun.

Kondisi ini dapat terjadi setelah seseorang mengalami diare, muntah, demam tinggi, atau berkeringat berlebihan. Aktivitas fisik di bawah cuaca panas tanpa asupan air yang cukup juga meningkatkan risiko dehidrasi. Selain merasa haus, seseorang mungkin mengalami mulut kering, urine berwarna pekat, jarang buang air kecil, kelelahan, serta pusing saat berdiri.

Dehidrasi ringan biasanya membaik setelah kebutuhan cairan dipenuhi. Akan tetapi, muntah atau diare berkepanjangan dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar. Anak kecil, lansia, serta orang dengan penyakit kronis lebih mudah mengalami penurunan kondisi sehingga memerlukan pemantauan yang lebih cermat.

Perdarahan Mengurangi Pasokan Darah dalam Waktu Singkat

Kehilangan darah dapat membuat tekanan darah turun karena jumlah darah yang beredar tidak lagi mencukupi. Perdarahan bisa terlihat jelas akibat kecelakaan, luka terbuka, atau tindakan operasi. Namun, darah juga dapat keluar secara tersembunyi di dalam tubuh sehingga gejalanya tidak selalu segera dikenali.

Perdarahan saluran pencernaan, misalnya, dapat ditandai dengan muntah berwarna gelap atau buang air besar berwarna hitam. Pada perempuan, menstruasi yang sangat banyak dan berlangsung lama juga berpotensi menurunkan jumlah darah. Kehamilan ektopik yang pecah merupakan keadaan lain yang dapat menyebabkan perdarahan di rongga perut serta penurunan tekanan darah secara cepat.

Orang yang kehilangan banyak darah dapat terlihat pucat, berkeringat dingin, bernapas cepat, merasa sangat lemah, atau kehilangan kesadaran. Kondisi tersebut termasuk keadaan darurat. Pemberian makanan asin atau minuman manis tidak cukup untuk menangani penurunan tekanan darah akibat perdarahan berat.

Menurut penulis, kebiasaan menyamakan seluruh kasus tensi rendah sebagai akibat kurang makan dapat membuat tanda perdarahan terlambat dikenali.

Anemia Mengganggu Pengangkutan Oksigen ke Seluruh Tubuh

Anemia terjadi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin berada di bawah tingkat yang dibutuhkan tubuh. Hemoglobin bertugas membawa oksigen dari paru paru menuju jaringan. Saat kadarnya rendah, penderita dapat merasa mudah lelah, pucat, pusing, sesak saat beraktivitas, sulit berkonsentrasi, atau berdebar.

Kekurangan zat besi menjadi salah satu penyebab anemia yang paling umum. Gangguan ini dapat berkaitan dengan pola makan yang tidak mencukupi, menstruasi berlebihan, kehamilan, atau perdarahan saluran cerna. Kekurangan vitamin B12 dan folat, penyakit ginjal, peradangan menahun, serta kelainan pembentukan darah juga dapat menyebabkan anemia.

Walaupun anemia tidak selalu membuat tekanan darah turun, kondisi yang berat dapat mengganggu kemampuan tubuh mempertahankan sirkulasi dan pasokan oksigen. Pemeriksaan darah diperlukan untuk mengetahui kadar hemoglobin serta kemungkinan penyebabnya. Mengonsumsi suplemen zat besi tanpa pemeriksaan tidak dianjurkan karena tidak semua jenis anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi.

Gangguan Jantung Melemahkan Aliran Darah

Jantung bertugas memompa darah menuju seluruh organ. Apabila kemampuan pompa tersebut terganggu, tekanan darah dapat turun karena aliran darah yang dikeluarkan setiap menit menjadi lebih sedikit. Keadaan ini dapat dijumpai pada penderita serangan jantung, gagal jantung, kelainan katup, atau gangguan irama jantung.

Denyut jantung yang terlalu lambat dapat mengurangi jumlah darah yang dialirkan ke tubuh. Sebaliknya, irama yang sangat cepat dan tidak teratur juga membuat ruang jantung tidak memiliki cukup waktu untuk terisi sebelum memompa kembali. Kedua keadaan tersebut dapat disertai pusing, nyeri dada, sesak napas, kelemahan, atau pingsan.

Penurunan tekanan darah yang muncul bersama nyeri dada, sesak berat, keringat dingin, atau jantung berdebar tidak boleh ditangani sendiri di rumah. Pemeriksaan rekam jantung dan evaluasi medis diperlukan untuk melihat apakah terdapat gangguan pada otot, katup, ataupun sistem kelistrikan jantung.

Perubahan Posisi Memicu Hipotensi Ortostatik

Sebagian orang merasa pandangannya menggelap atau tubuhnya limbung setelah bangun dari tempat tidur. Keluhan tersebut dapat terjadi akibat hipotensi ortostatik, yaitu penurunan tekanan darah ketika seseorang berpindah dari posisi duduk atau berbaring menjadi berdiri.

Saat berdiri, gravitasi membuat sebagian darah berkumpul di tungkai dan perut. Dalam keadaan normal, sistem saraf memerintahkan jantung berdetak sedikit lebih cepat dan pembuluh darah menyempit. Respons tersebut menjaga agar darah tetap mengalir ke otak. Jika mekanisme ini terlambat atau terganggu, tekanan darah akan turun dan kepala terasa ringan.

Secara medis, hipotensi ortostatik dapat dikenali melalui penurunan tekanan sistolik sedikitnya 20 mmHg atau diastolik sedikitnya 10 mmHg dalam tiga menit setelah berdiri. Kondisi ini lebih umum pada lansia, orang yang lama berbaring, penderita diabetes, serta pengguna obat tertentu. Berdiri secara perlahan dapat mengurangi keluhan, tetapi kejadian berulang tetap perlu diperiksa.

Obat Tertentu Dapat Menurunkan Tekanan Darah Terlalu Jauh

Sejumlah obat bekerja dengan menurunkan tekanan darah atau membuang kelebihan cairan dari tubuh. Efek tersebut memang diperlukan dalam pengobatan penyakit tertentu, tetapi pada sebagian pasien tekanan darah bisa turun terlalu jauh. Risiko biasanya meningkat ketika beberapa obat dikonsumsi bersamaan atau dosisnya tidak lagi sesuai dengan keadaan tubuh.

Obat penurun tekanan darah, diuretik, obat untuk gangguan jantung, beberapa antidepresan, serta obat penyakit Parkinson dapat berkaitan dengan hipotensi. Obat untuk gangguan ereksi juga dapat menurunkan tekanan darah, terutama apabila digunakan bersama nitrat yang diberikan untuk nyeri dada.

Pasien tidak boleh menghentikan obat atas keputusan sendiri. Penghentian mendadak dapat memperburuk penyakit yang sedang diobati. Catatan hasil pengukuran tekanan darah, waktu munculnya keluhan, dan daftar seluruh obat dapat membantu dokter menentukan apakah dosis perlu disesuaikan atau obat perlu diganti.

Kehamilan Mengubah Sistem Peredaran Darah

Tekanan darah dapat menurun selama kehamilan karena sistem peredaran darah berkembang untuk memenuhi kebutuhan ibu dan janin. Pembuluh darah mengalami pelebaran sehingga tekanan darah, terutama pada awal hingga pertengahan kehamilan, dapat lebih rendah daripada biasanya.

Ibu hamil mungkin merasa pusing ketika berdiri terlalu cepat atau setelah berada di ruangan panas. Pada kehamilan yang lebih besar, berbaring telentang dapat membuat rahim menekan pembuluh darah utama di perut. Tekanan tersebut mengurangi aliran darah yang kembali menuju jantung sehingga tubuh terasa lemas, mual, atau hendak pingsan.

Walaupun penurunan ringan cukup sering terjadi, tekanan darah rendah yang disertai nyeri perut, perdarahan, sesak, pingsan, atau kulit pucat harus segera diperiksa. Gejala tersebut dapat berkaitan dengan perdarahan, anemia berat, infeksi, ataupun gangguan kehamilan lainnya.

Gangguan Hormon Mengacaukan Pengaturan Tekanan Darah

Tubuh menggunakan berbagai hormon untuk mengatur cairan, kadar gula, denyut jantung, dan penyempitan pembuluh darah. Gangguan pada kelenjar penghasil hormon dapat membuat mekanisme pengendalian tekanan darah tidak berjalan normal.

Kelenjar adrenal menghasilkan kortisol dan aldosteron yang membantu menjaga tekanan darah serta keseimbangan natrium. Pada penyakit Addison, produksi hormon adrenal menurun. Penderitanya dapat mengalami kelemahan berkepanjangan, berat badan turun, mual, keinginan mengonsumsi makanan asin, penggelapan warna kulit, serta tekanan darah rendah.

Kelainan tiroid juga dapat memengaruhi denyut jantung dan sirkulasi. Selain itu, kadar gula darah yang terlalu rendah dapat menimbulkan keringat dingin, gemetar, pusing, lemas, dan kebingungan. Pemeriksaan hormon serta gula darah diperlukan karena tanda gangguan tersebut bisa menyerupai keluhan akibat kelelahan biasa.

Diabetes dan Gangguan Saraf Otonom

Sistem saraf otonom mengendalikan fungsi tubuh yang berjalan tanpa disadari, termasuk denyut jantung, pencernaan, dan penyesuaian pembuluh darah. Kerusakan pada saraf ini dapat mengurangi kemampuan tubuh mempertahankan tekanan darah ketika posisi berubah.

Diabetes yang tidak terkontrol dalam waktu lama dapat merusak saraf otonom. Akibatnya, pembuluh darah tidak menyempit dengan cepat saat penderita berdiri. Keluhan dapat berupa pusing, tubuh goyah, pandangan kabur, kelelahan, atau pingsan. Beberapa penderita juga mengalami gangguan pencernaan, perubahan pola berkeringat, serta masalah pada kandung kemih.

Gangguan saraf seperti penyakit Parkinson dan beberapa kelainan degeneratif juga dapat menghambat pengaturan tekanan darah. Penanganannya membutuhkan evaluasi menyeluruh karena keluhan dapat berasal dari penyakit, kekurangan cairan, atau obat yang sedang digunakan.

Infeksi Berat dan Reaksi Alergi Dapat Menyebabkan Syok

Infeksi berat dapat berkembang menjadi sepsis, yaitu respons tubuh yang tidak terkendali terhadap infeksi. Pembuluh darah dapat melebar dan cairan keluar menuju jaringan. Keadaan tersebut membuat tekanan darah jatuh serta mengurangi aliran darah ke organ penting.

Tanda yang perlu diwaspadai meliputi demam atau suhu tubuh sangat rendah, napas cepat, denyut jantung cepat, kebingungan, urine berkurang, dan kulit terasa dingin. Sepsis membutuhkan pertolongan di rumah sakit karena keadaan pasien dapat memburuk dalam waktu singkat.

Reaksi alergi berat atau anafilaksis juga dapat membuat pembuluh darah melebar secara mendadak. Penderitanya mungkin mengalami pembengkakan pada bibir atau tenggorokan, sesak napas, bentol di kulit, suara serak, serta pingsan. Situasi ini merupakan keadaan darurat yang membutuhkan penanganan segera.

Tensi Turun Setelah Makan Lebih Sering Dialami Lansia

Pada sebagian orang, tekanan darah menurun sekitar satu hingga dua jam setelah makan. Kondisi ini dikenal sebagai hipotensi postprandial. Setelah makanan masuk ke saluran cerna, tubuh mengalirkan lebih banyak darah menuju lambung dan usus untuk membantu proses pencernaan.

Jantung dan pembuluh darah biasanya menyesuaikan perubahan tersebut agar tekanan tetap stabil. Pada lansia atau orang dengan gangguan saraf otonom, penyesuaian ini mungkin tidak berjalan dengan baik. Akibatnya, mereka dapat merasa mengantuk, pusing, lemah, atau hampir pingsan setelah makan.

Keluhan lebih mudah muncul setelah menyantap makanan dalam porsi besar. Pemantauan tekanan sebelum dan sesudah makan dapat membantu mengenali polanya. Dokter mungkin menyarankan perubahan porsi dan jadwal makan setelah mempertimbangkan penyakit serta obat yang digunakan pasien.

Penulis menilai pencatatan waktu munculnya pusing sama pentingnya dengan mencatat angka tekanan darah, sebab pola setelah berdiri, makan, atau minum obat dapat memberikan petunjuk awal mengenai penyebabnya.

Cuaca Panas dan Berdiri Terlalu Lama Memperberat Keluhan

Suhu panas membuat pembuluh darah di dekat permukaan kulit melebar untuk membantu tubuh melepaskan panas. Pelebaran tersebut dapat menurunkan tekanan darah, terlebih jika seseorang juga kehilangan banyak cairan melalui keringat.

Berdiri dalam waktu lama dapat membuat darah terkumpul di tungkai. Pada orang yang respons pembuluh darahnya kurang baik, aliran darah menuju otak bisa berkurang. Ruangan penuh, pakaian terlalu tebal, kelelahan, dan kurang minum dapat memperberat keadaan.

Pingsan dalam situasi tersebut terkadang diawali rasa panas, mual, keringat dingin, telinga berdenging, serta pandangan menyempit. Orang yang merasakan tanda itu sebaiknya segera duduk atau berbaring agar tidak jatuh dan mengalami cedera.

Pemeriksaan Dibutuhkan untuk Menemukan Penyebab Utama

Satu kali hasil pengukuran rendah belum cukup untuk menentukan adanya penyakit. Tekanan darah dapat berubah karena waktu, posisi tubuh, aktivitas, makanan, cairan, emosi, dan obat. Pengukuran sebaiknya dilakukan saat tubuh tenang menggunakan manset yang ukurannya sesuai.

Dokter dapat membandingkan tekanan darah ketika pasien berbaring, duduk, dan berdiri. Pemeriksaan darah mungkin dilakukan untuk mencari anemia, gangguan gula darah, kelainan elektrolit, infeksi, atau masalah hormon. Rekam jantung, pemantauan denyut, dan pemeriksaan struktur jantung dapat dipertimbangkan bila terdapat kecurigaan gangguan kardiovaskular.

Pasien sebaiknya mencatat angka tekanan darah, denyut nadi, waktu pemeriksaan, posisi tubuh, makanan terakhir, obat yang diminum, serta keluhan yang dirasakan. Catatan tersebut membantu membedakan tekanan darah rendah yang merupakan variasi normal dari hipotensi akibat penyakit tertentu.

Tanda Darurat yang Tidak Boleh Menunggu

Pertolongan medis segera diperlukan apabila tekanan darah rendah disertai pingsan, nyeri dada, sesak napas, kebingungan berat, kejang, kulit dingin dan pucat, denyut sangat cepat atau lemah, serta perdarahan. Penurunan tekanan secara tiba tiba setelah kecelakaan, reaksi alergi, demam berat, muntah berkepanjangan, atau diare hebat juga tidak boleh diabaikan.

Orang yang kehilangan kesadaran sebaiknya dibaringkan dan dijauhkan dari benda yang dapat menyebabkan cedera. Jangan memberikan makanan atau minuman kepada orang yang belum sadar sepenuhnya karena dapat masuk ke saluran pernapasan. Apabila pernapasan berhenti atau tidak normal, bantuan darurat harus segera dihubungi sambil memberikan pertolongan sesuai kemampuan.

Keluhan pusing berulang, jatuh tanpa sebab jelas, kelelahan menetap, atau pandangan yang sering menggelap tetap memerlukan pemeriksaan meskipun tekanan darah kemudian kembali normal. Pemeriksaan lebih awal memungkinkan dokter mencari penyebab sebelum keluhan bertambah berat.