Rocky Gerung menjadi salah satu tokoh yang ikut memberi sorotan tajam terhadap MBG. Seperti gaya bicaranya selama ini, Rocky tidak hanya melihat program tersebut dari sisi teknis pembagian makanan, tetapi juga dari sisi politik, etika kekuasaan, cara negara mengelola anggaran, serta kemampuan pemerintah memastikan keselamatan dan kualitas layanan publik.
Program Makan Bergizi Gratis atau MBG menjadi salah satu kebijakan yang paling sering dibicarakan publik. Program ini hadir dengan janji besar, yaitu membantu anak sekolah memperoleh asupan makanan yang lebih layak, lebih bergizi, dan lebih teratur. Di tengah harapan banyak keluarga, MBG juga memunculkan perdebatan karena skalanya sangat luas, anggarannya besar, dan pelaksanaannya menyentuh langsung kehidupan anak anak di berbagai daerah.
Rocky Melihat MBG Bukan Sekadar Urusan Makan Siang
Pandangan Rocky Gerung tentang MBG tidak bisa dibaca sebagai penolakan terhadap kebutuhan gizi anak. Ia tidak sedang memperdebatkan apakah anak Indonesia perlu makanan bergizi atau tidak. Yang menjadi pusat kritiknya adalah cara pemerintah menjalankan program besar tersebut.
Menurut pembacaan Rocky, program makan untuk anak sekolah bukan sekadar agenda sosial yang bisa diselesaikan dengan membagikan kotak makanan. Di dalamnya ada tanggung jawab negara, ada penggunaan uang publik, ada jaringan dapur, ada rantai distribusi, ada mutu bahan pangan, dan ada keselamatan anak yang harus dijaga dari hulu sampai hilir.
Rocky melihat MBG sebagai kebijakan yang sangat mudah menarik simpati publik. Anak mendapat makanan gratis, orang tua merasa terbantu, sekolah ikut menjadi titik pelayanan, dan pemerintah terlihat hadir. Namun, ia juga mengingatkan bahwa program yang populer belum tentu otomatis rapi di lapangan.
“Program yang menyentuh piring anak sekolah tidak cukup dijalankan dengan semangat besar. Negara harus hadir dengan standar, pengawasan, dan keberanian mengoreksi kesalahan.”
Kritik Rocky Mengarah pada Cara Negara Mengatur Program
Rocky Gerung kerap menempatkan MBG sebagai contoh bagaimana negara bekerja. Baginya, kebijakan publik harus dinilai bukan hanya dari niat, tetapi dari mutu rancangan dan pelaksanaan. Jika sebuah program dirancang terlalu tergesa, publik berhak bertanya apakah semua unsur pendukungnya sudah siap.
Dalam pandangan Rocky, MBG membutuhkan perencanaan yang sangat rinci. Pemerintah harus memastikan siapa yang memasak, siapa yang mengawasi, siapa yang bertanggung jawab ketika makanan bermasalah, bagaimana sekolah memberi laporan, bagaimana orang tua mendapat informasi, dan bagaimana dapur yang tidak layak segera dihentikan.
Kritik seperti ini penting karena program MBG berjalan dalam skala nasional. Setiap daerah memiliki kondisi berbeda. Jarak antar sekolah berbeda, kebiasaan makan berbeda, akses bahan pangan berbeda, serta kemampuan dapur lokal juga berbeda. Jika semuanya diperlakukan dengan pola yang terlalu seragam, kualitas pelayanan bisa tidak merata.
Anggaran Besar Membutuhkan Kejelasan Sejak Awal
Salah satu perhatian utama Rocky adalah anggaran. MBG membutuhkan dana sangat besar karena menyasar jutaan penerima. Dalam kebijakan sebesar ini, Rocky menilai pemerintah tidak boleh hanya berbicara tentang jumlah penerima manfaat. Pemerintah juga harus terbuka tentang pengadaan, biaya per porsi, standar dapur, mekanisme pengawasan, dan evaluasi berkala.
Bagi Rocky, anggaran besar selalu membawa tanggung jawab besar. Uang negara yang dipakai untuk makanan anak harus benar benar kembali kepada anak dalam bentuk makanan yang aman, sehat, layak, dan sesuai kebutuhan gizi. Bila anggaran besar tidak diawasi dengan baik, program sosial bisa berubah menjadi ruang pemborosan.
Rocky juga melihat persoalan prioritas. Pemerintah tentu berhak menjalankan program makan bergizi, tetapi kebijakan itu tidak boleh membuat sektor lain yang juga penting menjadi terabaikan. Pendidikan, layanan kesehatan, kualitas guru, fasilitas sekolah, dan perlindungan sosial tetap harus berjalan kuat.
Kualitas Makanan Tidak Bisa Diukur dari Kata Gratis
Dalam perdebatan MBG, Rocky menyoroti hal yang sering luput dari perbincangan politik, yaitu kualitas makanan itu sendiri. Makanan untuk anak tidak cukup disebut bergizi hanya karena tertulis dalam standar menu. Makanan harus benar benar bisa dimakan, disukai anak, aman dikonsumsi, dan sampai di sekolah dalam kondisi baik.
Anak sekolah tidak makan angka kalori. Mereka makan nasi, lauk, sayur, buah, dan rasa. Jika makanan terlalu dingin, lauk kurang layak, sayur tidak segar, atau penyajiannya tidak menarik, maka tujuan program bisa berkurang. Anak bisa saja menerima kotak makan, tetapi tidak menghabiskannya.
Rocky melihat masalah ini sebagai ujian paling nyata. Pemerintah boleh menyampaikan target besar, tetapi kualitas program akan dinilai dari piring anak di sekolah. Apakah makanan itu habis dimakan. Apakah anak merasa nyaman. Apakah guru melihat perubahan. Apakah orang tua percaya pada makanan yang diberikan negara.
Dapur Besar dan Risiko yang Harus Diawasi
MBG dijalankan melalui jaringan dapur yang menyiapkan makanan untuk banyak penerima. Model ini memungkinkan distribusi dilakukan dalam jumlah besar. Namun, Rocky melihat dapur besar juga membawa risiko yang tidak kecil.
Jika satu dapur melayani ribuan porsi, maka kesalahan kecil bisa menyentuh banyak anak sekaligus. Kesalahan dalam penyimpanan bahan, proses memasak, kebersihan peralatan, pengemasan, atau pengantaran dapat menimbulkan masalah serius. Karena itu, dapur MBG tidak boleh hanya ramai saat peresmian, tetapi harus disiplin setiap hari.
Rocky menilai pengawasan dapur menjadi kunci. Setiap dapur harus memiliki standar kesehatan yang jelas. Pemeriksaan bahan pangan harus dilakukan rutin. Waktu memasak dan waktu pengiriman harus terukur. Petugas dapur perlu dilatih, bukan hanya diminta bekerja cepat. Sekolah juga harus memiliki hak untuk menolak makanan bila terlihat tidak layak.
Pelibatan Komunitas Lokal Jadi Sorotan
Rocky Gerung pernah menyinggung pentingnya melibatkan komunitas lokal dalam program makan bergizi. Menurutnya, ibu ibu, warga sekitar, serta kelompok masyarakat yang dekat dengan sekolah dapat memberi perhatian lebih terhadap kualitas makanan anak.
Gagasan ini menarik karena MBG tidak harus selalu dibaca sebagai pekerjaan besar yang sepenuhnya dikendalikan dari atas. Dalam banyak daerah, warga lokal memahami selera anak, bahan pangan setempat, dan kebiasaan makan sehari hari. Mereka juga lebih mudah mengetahui bila ada masalah dalam pengolahan makanan.
Pelibatan komunitas bukan berarti menghilangkan standar negara. Justru standar tetap harus ada, tetapi pelaksanaannya bisa lebih dekat dengan warga. Bila masyarakat ikut dilibatkan, pengawasan sosial menjadi lebih kuat. Orang tua tidak hanya menjadi penerima kabar, tetapi ikut merasa memiliki program.
MBG dan Pertaruhan Kepercayaan Publik
Rocky membaca MBG sebagai salah satu pertaruhan penting pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini sangat melekat dengan janji politik pemerintah. Karena itu, keberhasilan atau kegagalannya akan langsung memengaruhi cara publik menilai pemerintah.
Bila MBG berjalan baik, pemerintah akan memperoleh kepercayaan yang kuat dari masyarakat. Keluarga kecil merasa terbantu, anak anak memperoleh makanan, dan negara terlihat bekerja nyata. Namun, bila program ini bermasalah, kritik publik bisa membesar karena yang dipertaruhkan bukan sekadar administrasi, tetapi anak anak.
Rocky memahami bahwa MBG memiliki daya simbolik yang besar. Sepiring makanan dapat menjadi bukti kehadiran negara. Tetapi sepiring makanan juga dapat menjadi sumber kemarahan bila kualitasnya buruk atau membahayakan anak. Itulah sebabnya ia mendorong agar pemerintah tidak mengandalkan citra semata.
Ketika Program Populer Bertemu Kenyataan Lapangan
Program yang populer sering kali menghadapi tantangan ketika mulai dijalankan. Di atas kertas, MBG terlihat sederhana. Negara menyediakan makanan, anak sekolah menerima, keluarga terbantu. Namun di lapangan, urusannya jauh lebih rumit.
Setiap pagi dapur harus menyiapkan bahan. Bahan harus segar. Menu harus sesuai standar gizi. Petugas harus menjaga kebersihan. Makanan harus dikemas rapi. Kendaraan harus datang tepat waktu. Sekolah harus siap menerima. Anak harus mendapat porsi sesuai. Jika ada keluhan, laporan harus cepat ditangani.
Rocky melihat kerumitan ini sebagai alasan mengapa pemerintah harus rendah hati terhadap kritik. Program besar tidak boleh dikelola dengan sikap seolah semua sudah pasti berhasil. Masukan dari guru, orang tua, ahli gizi, dokter, pengelola sekolah, dan masyarakat sipil harus dianggap sebagai bagian dari perbaikan.
Isu Keamanan Pangan Menjadi Titik Paling Sensitif
Dalam program makan untuk anak, keamanan pangan adalah hal yang tidak bisa ditawar. Kritik Rocky terhadap MBG menjadi lebih mudah dipahami ketika publik mendengar adanya keluhan tentang makanan yang tidak layak, keterlambatan distribusi, atau kekhawatiran terhadap kebersihan dapur.
Isu keamanan pangan membuat MBG berbeda dari program bantuan biasa. Jika bantuan uang terlambat, warga kecewa. Jika bantuan barang tidak sesuai, warga bisa mengeluh. Tetapi jika makanan anak bermasalah, akibatnya bisa langsung menyentuh kesehatan. Karena itu, pengawasan MBG harus lebih ketat daripada program administratif biasa.
Pemerintah perlu memastikan setiap dapur memiliki prosedur yang jelas. Bahan pangan harus diperiksa. Air harus bersih. Alat masak harus steril. Tenaga kerja harus sehat. Makanan harus diuji secara acak. Laporan dari sekolah harus ditanggapi cepat. Bila ditemukan pelanggaran, dapur harus dihentikan sampai benar benar memenuhi standar.
Rocky Mengingatkan Bahaya Politik Pencitraan
Salah satu kekhawatiran Rocky adalah ketika program sosial berubah menjadi alat pencitraan. MBG memiliki potensi besar untuk dipakai sebagai panggung politik karena mudah difoto, mudah diberitakan, dan mudah dijadikan simbol perhatian pemerintah kepada rakyat.
Rocky menilai pemerintah harus berhati hati agar MBG tidak berhenti pada tampilan luar. Jumlah porsi yang dibagikan memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu satunya ukuran. Lebih penting lagi adalah mutu makanan, kepuasan penerima, kesehatan anak, dan transparansi penggunaan anggaran.
Politik pencitraan akan membuat program terlihat sibuk, tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan. Di sinilah Rocky sering mendorong publik untuk bertanya lebih dalam. Siapa pemasok makanan. Bagaimana proses tendernya. Apakah ahli gizi benar benar terlibat. Apakah dapur diperiksa rutin. Apakah data keluhan dibuka.
Antara Niat Baik dan Kewajiban Bertanggung Jawab
Tidak ada yang salah dengan niat memberikan makanan bergizi kepada anak. Bahkan, banyak keluarga dapat terbantu oleh program seperti MBG. Di daerah tertentu, makanan sekolah bisa menjadi bantuan nyata bagi anak yang berangkat dari rumah tanpa sarapan cukup.
Namun, Rocky melihat niat baik tidak boleh menjadi tameng untuk menolak kritik. Dalam kebijakan publik, niat baik justru harus dibuktikan dengan tanggung jawab. Semakin baik tujuan sebuah program, semakin ketat pula pelaksanaannya harus dijaga.
Pemerintah perlu membangun sistem yang membuat MBG tidak bergantung pada semangat pejabat tertentu. Program harus memiliki aturan kuat, tenaga profesional, pengawasan terbuka, dan evaluasi yang jujur. Jika ada kesalahan, negara harus mengakui dan memperbaiki, bukan sekadar membantah.
Sekolah dan Orang Tua Tidak Boleh Hanya Jadi Penonton
Rocky juga memberi ruang bagi pertanyaan tentang posisi sekolah dan orang tua. Dalam program sebesar MBG, sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat menaruh kotak makanan. Guru dan kepala sekolah perlu memiliki peran dalam memberi laporan tentang kualitas makanan, ketepatan waktu distribusi, serta respons anak.
Orang tua juga perlu dilibatkan. Mereka berhak mengetahui menu yang diberikan kepada anak. Mereka perlu mendapat ruang untuk menyampaikan keluhan. Jika anak memiliki alergi atau kebutuhan khusus, mekanisme penanganannya harus jelas. Program makan bergizi tidak boleh mengabaikan kondisi individual anak.
Pelibatan sekolah dan orang tua akan membuat pengawasan lebih dekat. Negara tidak bisa mengawasi semua dapur dari kantor pusat. Tetapi guru, orang tua, dan warga sekitar dapat melihat langsung apa yang terjadi setiap hari.
Kritik Rocky dan Ruang Perbaikan Pemerintah
Kritik Rocky Gerung terhadap MBG sebaiknya tidak dibaca sebagai serangan pribadi kepada pemerintah. Kritik itu lebih tepat dibaca sebagai desakan agar program besar tidak kehilangan arah. Program yang menyangkut anak harus terus diperiksa, diuji, dan diperbaiki.
Pemerintah masih memiliki ruang besar untuk memperkuat MBG. Standar dapur bisa diperketat. Data pengawasan bisa dibuka. Ahli gizi bisa diberi peran lebih nyata. Sekolah bisa dijadikan pusat pelaporan. Komunitas lokal bisa dilibatkan. Mekanisme pengaduan bisa dibuat lebih mudah dan cepat.
Bila pemerintah mampu menerima kritik, MBG dapat menjadi program yang lebih matang. Namun jika kritik dianggap sebagai gangguan politik, masalah kecil dapat membesar dan menurunkan kepercayaan publik.
“Ukuran keberhasilan MBG bukan hanya kotak makanan sampai di meja sekolah. Ukuran utamanya adalah apakah anak aman, kenyang, sehat, dan orang tua percaya bahwa negara bekerja dengan benar.”
MBG Sebagai Cermin Kemampuan Negara
Rocky Gerung pada akhirnya menempatkan MBG sebagai cermin kemampuan negara. Program ini memperlihatkan apakah pemerintah mampu mengubah janji politik menjadi layanan yang rapi. Ia juga memperlihatkan apakah birokrasi mampu bekerja dengan teliti dalam urusan yang tampak sederhana, tetapi sebenarnya sangat kompleks.
MBG menyangkut banyak lapisan sekaligus. Ada urusan gizi, ekonomi keluarga, pertanian lokal, pengadaan barang, kesehatan anak, pendidikan, dan tata kelola anggaran. Bila semua lapisan ini diatur dengan baik, program dapat memberi manfaat luas. Bila tidak, program dapat menimbulkan persoalan baru.
Pandangan Rocky memberi tekanan pada satu hal penting, yaitu negara harus serius sejak dari dapur. Sebab pada program MBG, kualitas negara tidak hanya terlihat dari pidato pejabat, tetapi dari makanan yang diterima anak sekolah setiap hari.
Publik Menunggu Bukti di Lapangan
Di tengah perdebatan, publik sebenarnya menunggu hal yang sederhana. Mereka ingin melihat makanan yang layak, anak yang senang, sekolah yang terbantu, dan pemerintah yang mau memperbaiki kekurangan. Perdebatan politik boleh ramai, tetapi ukuran akhirnya tetap berada di lapangan.
Rocky Gerung mengingatkan agar MBG tidak berubah menjadi proyek yang hanya besar dalam angka. Ia ingin program ini dibaca dengan lebih kritis. Bukan karena gizi anak tidak penting, tetapi justru karena gizi anak terlalu penting untuk dikelola secara sembarangan.
Pada titik ini, MBG menjadi ujian yang sangat nyata. Pemerintah diuji dalam merancang. Dapur diuji dalam menjaga mutu. Sekolah diuji dalam melaporkan. Orang tua diuji dalam mengawasi. Publik diuji dalam memberi kritik yang jernih. Rocky Gerung, dengan seluruh gaya kritiknya, menempatkan MBG sebagai percakapan serius tentang bagaimana negara memperlakukan anak anaknya.


